Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA dinilai perlu melakukan antisipasi untuk jangka menengah dan panjang terhadap kemungkinan default atau gagal bayar Amerika Serikat. Sebab, bila itu terjadi besar kemungkinan perekonomian global akan mengalami resesi tahun ini.
Demikian dikatakan Analis Utama Ekonomi Politik dari Laboraturium Indonesia 2045 (LAB 45) Reyhan Noor saat dihubungi, Sabtu (27/5).
"Terutama setelah Jerman memasuki resesi teknis pada kuartal pertama. Hampir menjadi sebuah keniscayaan bahwa ekonomi global akan mengalami resesi tahun ini bila AS mengalami gagal bayar," ujarnya.
Bila Negeri Paman Sam betul-betul mengalami gagal bayar, lanjut Reyhan, maka Indonesia akan terimbas dari sisi perdagangan lantaran harga-harga komoditas unggulan diperkirakan akan anjlok. Hal itu akan berakibat pada penurunan devisa dan penerimaan negara.
Baca juga: Biden dan McCarthy Belum Sepakat Naikan Plafon Utang AS
Karenanya, stabilitas nilai tukar rupiah perlu untuk dijaga. Salah satu cara yang dapat ditempuh ialah melalui percepatan revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Itu dianggap dapat menjadi modal untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari AS.
Sedangkan dalam jangka pendek, kata Reyhan, Indonesia justru berpotensi untung dari dampak gagal bayar AS. Sebab, aliran modal portofolio kemungkinan besar akan meninggalkan pasar utang AS.
"Ketidakpastian yang semakin tinggi ini akan mempengaruhi kepercayaan investor terhadap negara-negara dengan eksposur utang yang tinggi. Saat ini fundamental ekonomi Indonesia relatif cukup baik sehingga dampak jangka pendek bisa jadi menguntungkan Indonesia," terangnya.
Baca juga: Bank Indonesia Waspadai Anomali Dolar AS, Tahan BI Rate 5,75%
Namun Reyhan menambahkan, sejauh ini isu kemungkinan gagal bayar AS belum berdampak signifikan bagi Indonesia. Sebab negosiasi antara pemerintah dan parlemen AS masih berlangsung dan belum mencapai kesepakatan.
Setidaknya ada dua kemungkinan kesepakatan dari negosiasi tersebut. Pertama, yakni, pemotongan belanja yang lebih besar berdasarkan proposal dari Partai Republik di parlemen AS, atau ada peningkatan belanja berdasarkan proposal dari Partai Demokrat di Eksekutif.
Kedua skenario tersebut, kata Reyhan, akan mempengaruhi keberlanjutan kebijakan pengetatan moneter dari bank sentral AS yang akan rapat pada pertengahan bulan Juni. Keberlanjutan kebijakan tersebut akan mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan kapasitas fiskal dalam konteks pengelolaan utang ke depan.
Lain cerita dengan Indonesia, drama negosiasi plafon utang itu tentu memukul perekonomian AS, utamanya di pasar keuangan. Indikator teknis seperti imbal hasil surat utang jangka pendek pemerintah hingga ancaman penurunan peringkat surat utang dari lembaga pemeringkat mulai terlihat bagi Negeri Paman Sam.
Reyhan menilai, sedianya peluang tawaran Gedung Putih untuk menaikan plafon utang berpotensi lebih besar ketimbang sebaliknya. Pemerintah AS dinilai tidak akan membiarkan adanya tambahan kerawanan kondisi domestik di tengah gejolak geopolitik saat ini.
Namun, negosiasi masih akan cukup sulit. Alasan utamanya tercermin dari siapa yang akan lebih diuntungkan dari hasil negosiasi tersebut. Selain menghadapi kerawanan geopolitik, AS juga akan memasuki tahapan pemilu dan pemilihan presiden pada tahun 2024, sehingga siapa pun yang diuntungkan dari negosiasi ini akan menambah modalitas politik bagi partai pendukungnya," pungkas Reyhan.
(Z-9)
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tetap tenang dalam menyikapi isu potensi resesi ekonomi.
Angka tersebut merupakan salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menandakan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi
CHIEF Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko Indonesia mengalami resesi dalam waktu dekat amat kecil karena ditopang oleh kekuatan domestik.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman menilai pemerintah gagal mengoptimalkan ruang fiskal di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi.
Indonesia dihantui resesi karena pertumbuhan ekonomi yang mengkhawatirkan. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,87%, terendah sejak triwulan ketiga 2021.
Pengamat meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah resesi, mengingat perkembangan secara triwulanan (q to q) juga tercatat minus 0,98%.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
DPR menolak wacana PPN jalan tol. Kebijakan dinilai berpotensi menambah beban masyarakat di tengah kenaikan harga BBM.
Presiden Tiongkok Xi Jinping memperingatkan runtuhnya tatanan internasional. Simak dampak geopolitik terhadap portofolio investasi dan aset alternatif.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez kunjungi Tiongkok untuk perkuat dagang di tengah ketegangan dengan AS. Spanyol dipandang sebagai gerbang strategis ke pasar global.
Wakil Ketua Umum (WKU) Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady menyoroti dinamika global yang semakin tidak menentu dan menuntut dunia usaha untuk lebih adaptif.
Sinkronisasi pandangan antara pemberi kerja dan buruh merupakan syarat mutlak dalam menghadapi tekanan ekonomi saat ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved