Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KUASA hukum Rivaldi, yang juga dikenal sebagai Ucil, menyoroti sejumlah kejanggalan dalam penetapan Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait kasus pembunuhan Vina Cirebon dan Eki yang terjadi pada 2016. Fakta-fakta ini terungkap dalam berkas sidang pembunuhan Vina dan Muhamad Rizki yang diadakan pada 2024.
Menurut berkas persidangan, kejanggalan tersebut bermula dari kejadian pada 27 Agustus 2016 sekitar pukul 22.00 WIB. Orang tua Muhamad Rizki, seorang anggota polisi yang menjabat sebagai Kanit Narkoba Polres Cirebon Kota saat itu, merasa ada yang tidak beres terkait kecelakaan yang menimpa anaknya dan teman perempuannya.
Mendapat informasi dari saksi-saksi, termasuk saudara Aep dan Dede, ayah Eki melakukan penyelidikan sendiri. Mereka mengungkap bahwa anak-anak mereka dikejar oleh sejumlah motor sebelum kejadian tragis itu terjadi.
Baca juga : Polda Jabar Tangkap Pegi Alias Perong, DPO Kasus Pembunuhan Vina Cirebon
Dengan informasi ini, ayah Eki berhasil menangkap tujuh pelaku pada 31 Agustus 2016 di depan SMP 11 Majasem, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Berdasarkan berita acara kepolisian yang dibuat pada sore hari itu, empat nama termasuk dalam daftar penangkapan, termasuk nama Pegi yang kemudian dijadikan sebagai DPO.
Namun, Kuasa Hukum Rivaldi menyayangkan bahwa kliennya, yang sebelumnya merupakan salah satu dari empat nama dalam daftar penangkapan, justru ditempatkan dalam DPO. Hal ini menjadi salah satu poin kejanggalan dalam penanganan kasus ini.
Komentar dari Kuasa Hukum Rivaldi, Sindy Sembiring, menekankan keharusan untuk mengkaji ulang penetapan DPO tersebut. Hal ini merupakan langkah penting untuk memastikan keadilan terpenuhi dalam penanganan kasus pembunuhan Vina dan Eki. (Z-10)
MAHKAMAH Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan tujuh terpidana dalam kasus kematian Vina dan Eki di Cirebon, Jawa Barat.
Komnas HAM menemukan tiga pelanggaran HAM setelah menyelesaikan pemantauan atas kasus pembunuhan Vina di Cirebon, Jawa Barat.
PSIKOLOG forensik Reza Indragiri Amriel meminta anggota kepolisian dari Polres Cirebon dan Polda Jawa Barat (Jabar) mengakui telah menyiksa tujuh terpidana kasus pembunuhan Vina dan Eky.
Mabes Porli diminta segera umumkan kerja hasil Timsus kasus Vina
Ketujuh terpidana itu ialah Jaya (JY), Supriyanto (SP), Eka Sandi (ES), Hadi Saputra (HS), Eko Ramadhani (ER), Sudirman (SD), dan Rivaldi Aditya Wardana (RA).
Adi Hariyadi, warga Kudus, Jawa Tengah yang mengaku melihat peristiwa kecelakaan tunggal yang menewaskan Vina dan Eky di Cirebon, Jawa Barat pada 2016 silam.
Tragedi berdarah di Alam Barajo, Jambi. Indra tewas dengan 18 tusukan di depan anak balitanya. Polisi tangkap dua pelaku yang merupakan tetangga korban.
Ditjen Imigrasi tangkap WNA Amerika Serikat inisial AJP, buronan kasus pembunuhan, saat tiba di Bandara Ngurah Rai Bali berkat integrasi sistem Autogate.
Polisi ungkap kasus pembunuhan IRT di Hotel Sorake Batu Bara. Pelaku pria 61 tahun nekat mencekik korban karena emosi ajakan kencan ditolak.
Kasus pembunuhan Nus Kei memasuki babak baru. Polisi resmi kirim SPDP ke kejaksaan, dua tersangka terancam hukuman mati. Simak kronologi lengkapnya.
David Anthony Burke (D4vd) mengaku tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan Celeste Rivas Hernandez. Jasad korban ditemukan dalam Tesla miliknya.
POLRES Metro Bekasi memburu pelaku pembunuhan terhadap perempuan pengusaha tenda hajatan, Eem, 60, di kediamannya, Kampung Utan Salak, Desa Kertamukti, Kecamatan Cibitung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved