Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA enam wilayah adat di Papua dan Papua Barat yang punya banyak lahan tidur dan masyarakat ingin memanfaatkan lahan itu untuk perkebunan, termasuk kelapa sawit, demikian diungkapkan Lenis Kogoya, Staf Khusus Presiden Bidang Papua, sekaligus Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua.
Seperti pembangunan jalan dari Jayapura ke Wamena, Jayapura ke Sarmi, dimana mereka minta supaya di sepanjang jalan itu dibangun perkebunan. Masyarakat setempat dijadikan transmigrasi lokal mengelola perkebunan itu, katanya.
Lenis pun minta dibentuk Pokja yang beranggotakan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Kementerian LHK, Kementerian ATR/BPN, PemProv dan PemKab, LMA dan tokoh agama untuk membangun ini. "Kalau masyarakat punya aktivitas ekonomi perkebunan saya yakin masalah keamanan di Papua akan hilang," ungkap Kagoya dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/11)
Lenis menyatakan selama ini dirinya banyak menyelesaikan masalah antara masyarakat adat dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Masyarakat adat jadi terlibat dalam pengelolaan perkebunan. Seperti di Keroom misalnya masyarakat adat menjadi petani plasma dengan luas 4 ha dan menjadi anggota koperasi, sekarang sudah menikmati hasilnya. Dengan keberadaan perkebunan sawit Masyarakat Papua sebenarnya sangat senang karena dilibatkan sebagai plasma. Hanya saja persoalan izin masih menghambat.
Sementara P.Felix Amias, MSC, Tokoh Masyarakat yang berasal dari daerah Asiki dan Getentiri, yang lahir, besar, dan keluarga semua ada di sana. Dimana hutan mereka bersebelahan dengan areal Perkebunan Kelapa Sawit memaparkan bahwa kalau memang membela bertujuan membela kepentingan rakyat dengan alasan masyarakat jangan kehilangan hutan. Maka seharusnya semua perusahaan yang ada di sekitar sana mestinya disoroti semuanya, tanpa terkecuali. Apalagi membiarkan yang lain dengan bebas membuka perkebunan maka terlalu jelas bahwa hal itu tidak benar benar membela rakyat. Tetapi hanya memanipulasi rakyat untuk kepentingan sendiri, jelas Felix.
Begitu pula tentang 'Ganti Rugi Tanah di Boven Digoel Papua Selatan 100.000 rupiah per Hektar'. Bagi Felix tidak ada istilah “Ganti Rugi” tetapi yang dikenal itu “Uang Pelepasan Tanah atau Tali Asih.” Uang “ganti rugi” mengandung pengertian setelah dikasih 100.000 rupiah masyarakat tak berhak dapat apa apa lagi dari perusahaan, ya tentu ini bukan seperti itu, tegas Felix.
Sedangkan uang “Pelepasan Tanah atau Tali Asih” itu mengandung pengertian “ikatan” antara perusahaan dan masyarakat untuk bersama mengelola tanah ini. Karena masyarakat masih mempunyai hak untuk mendapatkan bantuan dari perusahaan ketika perusahaannya berjalan. Perusahaan mempunyai kewajiban CSR (Corporate Social Responsibility), membangun fasilitas publik, membangun kebun plasma bagi pemilik tanah, menyekolahkan anak anak tuan dusun, dan lainnya.
Sementara Ketua LSM Papua Bangkit Hengky H. Jokhu M menyatakan, pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah seperti pendekatan dan kerja sama yang baik dengan merangkul masyarakat adat di Papua dan Papua Barat. Hal tersebut terjadi karena pemerintah daerah dan masyarakat adat di Papua masih bekerja sendiri-sendiri sehingga dengan mudah diprovokasi oleh kepentingan LSM dan kelompok tertentu.
Dalam era kepemimpinan Presiden SBY dan Presiden Joko Widodo, lanjut Hengky sebenarnya ada banyak regulasi yang memberikan harapan bagi Papua bagi pembangunan ekonomi di Papua, salah satunya perkebunan sawit. Hanya saja, pembangunan kebun sawit yang targetnya mencapai 2,2 juta hektare, namun baru terealisasi 1 persen. Dan dengan mudah diprovokasi kepentingan kelompok karena Pemerintah belum sepenuhnya hadir, ujar Henky.
Pemda dengan UU Otonomi Khusus seharusnya lebih mendorong pembangun kebun kelapa sawit di Papua. Perkebunan cocok dikembangkan di Papua karena menyerap tenaga kerja banyak, tidak menggunakan teknologi tinggi sehingga masyarakat adat bisa terlibat.
"Luas 4 kabupaten di Papua sama dengan luas Pulau Jawa tetapi jumlah penduduknya sama dengan Kabupaten Bogor. Artinya, ada banyak sekali lahan luas yang bisa dimanfaatkan untuk perkebunan. Konsep-konsep pembangunan perkebunan yang bagus di pusat tidak sampai ke masyarakat di daerah. Saat ini yang lumayan bagus adalah Kabupaten Keerom dimana dinas perkebunannya sangat aktif dan masyarakat banyak terlibat dalam perkebunan kelapa sawit sebagai plasma. Di beberapa kabupaten lain dinas perkebunan relatif tidak bergerak," papar Hengky. (OL-13)
Baca Juga: Ini 46 Perusahaan Digital Asing Pemungut Pajak Negara
Dengan mengelola lebih dari 40 persen total luas perkebunan sawit nasional, petani tidak lagi cukup hanya berperan sebagai produsen bahan baku. Mereka perlu didorong untuk naik kelas.
Industri kelapa sawit turut memberikan multiplier effect positif terhadap perekonomian daerah serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani, pelaku UMKM, hingga masyarakat.
Implementasi program tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan pendidikan teknis serta dukungan terhadap penelitian dan pemberian beasiswa di bidang kelapa sawit.
Lebih dari empat dekade sejak introduksi serangga penyerbuk pertama pada 1982, industri kelapa sawit Indonesia kembali memasuki babak baru melalui penguatan inovasi berbasis sains.
Penyebab karamnya KM Berkah Utama II diduga akibat kelebihan muatan. Saat berlayar, KM Berkah Utama II dilaporkan memuat sekitar 40 ton tanda buah segar (TBS).
Presiden Prabowo Subianto umumkan investasi besar untuk pembangunan kilang pengolahan avtur dari kelapa sawit dan minyak jelantah demi swasembada energi.
Upaya meningkatkan profitabilitas mendorong holding perkebunan pelat merah mempercepat pembenahan tata kelola dan optimalisasi aset.
Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat upaya swasembada gula nasional melalui penguatan pengembangan tebu rakyat.
Peran BPDP tidak hanya terbatas pada pengelolaan dana, tetapi juga mencakup investasi pada pembangunan pengetahuan masyarakat.
PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi Karhutla 2026 melalui kolaborasi dengan TNI-Polri dan pemantauan digital berbasis AI ARFINA.
Pada 2025 (angka sementara) produksi kakao berada di kisaran 616 ribu ton, dan pada 2026 diproyeksikan naik menjadi 635 ribu ton dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare.
PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Selatan mengakui masih kurangnya pengawasan terhadap aktivitas industri ekstraktif pertambangan dan perkebunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved