Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KECANDUAN gadget pada anak bisa membuat anak jadi malas bergerak dan tidak fokus pada pelajaran sekolahnya, yang akhirnya berdampak pada penurunan prestasi akademis.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kecanduan gadget yang disertai gaya hidup tidak sehat, seperti ngemil berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, dan tidur larut malam, dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit jantung di masa depan.
Agar anak terhindar dari dampak buruk tersebut, berikut adalah langkah-langkah yang bisa diterapkan untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak:
Baca juga : Upaya Membebaskan Anak-anak dari Ketergantungan Ponsel
1. Menjadi Contoh yang Baik
Anak-anak cenderung meniru perilaku orang di sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik dengan tidak bermain gadget hingga larut malam atau makan sambil bermain gadget. Usahakan untuk tidak menggunakan gadget di depan anak dan gunakanlah sewajarnya.
2. Batasi dan Awasi Penggunaan Gadget
Untuk mengurangi kecanduan gadget, batasi waktu anak mengakses gadget, misalnya 1-2 jam sehari. Awasi penggunaan gadget untuk memastikan anak tidak mengakses konten yang tidak sesuai. Gunakan fitur pembatasan usia pada gadget untuk membatasi jenis konten yang dapat diakses. Terapkan aturan dengan tegas, latih anak untuk meminta izin sebelum menggunakan gadget, dan simpan gadget di tempat yang tidak mudah diakses anak.
3. Ciptakan Aktivitas Menyenangkan Bersama Anak
Rancang aktivitas lain yang menyenangkan untuk mengalihkan perhatian anak dari gadget. Ajak anak bersepeda, lari pagi, memasak, menggambar, atau berkebun. Bawa anak ke taman untuk bermain dengan teman-temannya atau undang teman-temannya ke rumah untuk bermain bersama, yang juga dapat meningkatkan interaksi sosial anak.
Baca juga : RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Malang Buka Poli Kecanduan Gawai, Pasien Didominasi Anak-anak
4. Tetapkan Wilayah Bebas Gadget di Rumah
Tetapkan area bebas gadget di rumah, seperti ruang makan, ruang keluarga, atau kamar tidur. Pastikan semua anggota keluarga menaati aturan ini untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan baik.
5. Edukasi Anak tentang Bahaya Gadget
Diskusikan dengan anak tentang risiko obesitas dan masalah mata yang bisa timbul dari terlalu lama bermain gadget. Jelaskan juga bahaya internet dan media sosial, serta bagaimana menghindari masalah tersebut dengan penggunaan gadget yang diawasi.
6. Berikan Mainan yang Sesuai Usia
Berikan anak mainan yang sesuai dengan usianya untuk menggantikan waktu yang dihabiskan dengan gadget. Mainan seperti blok, puzzle, krayon, buku gambar, atau permainan profesi bisa menjadi alternatif yang baik.
Baca juga : Kenali Gejala Kecanduan Gawai Pada Anak dan Cara Mengatasinya
Penting untuk tidak memarahi atau meneriaki anak saat mereka tidak setuju dengan aturan baru, karena hal ini bisa menyebabkan trauma yang mengganggu kesehatan mental mereka. Anak mungkin memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan aturan baru, sehingga orang tua perlu bersabar dan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam mendukung perubahan ini.
Selain langkah-langkah di atas, pemerhati anak Seto Mulyadi menyarankan agar orang tua juga memperkenalkan anak-anak kepada permainan tradisional. Menurutnya, permainan tradisional memberikan manfaat positif yang jauh lebih baik daripada hanya bermain gadget.
"Anak bisa bermain yang lain atau jalan-jalan sama Ayah sama Bunda. Jadi gadget bukan satu-satunya pilihan," kata Kak Seto sapaan karibnya..
Dia juga menambahkan bahwa orang tua bisa mempopulerkan kembali permainan-permainan tradisional seperti engklek, gobak sodor, main egrang, bekel, dan lainnya.
"Sehingga, ada keseimbangan, bisa mengembangkan kecerdasan fisik, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, moral, dan sebagainya. Sehingga anak berkembang secara utuh dan lengkap," pungkasnya. (P-5)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Psikolog Sani Budiantini menekankan pentingnya kesiapan mental orangtua dalam menghadapi reaksi anak saat implementasi PP Tunas dan pembatasan gawai.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved