Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Tubagus Haryo Karbyanto mengatakan rokok menjadi salah satu penyebab anak mengalami stunting atau tengkes baik dari asap maupun konsumsi rumah tangga yang mempengaruhi pembelian rumah tangga dan berdampak pada asupan anak.
Kondisi anak mengalami tengkes pada keluarga perokok 15,5% lebih tinggi dibandingkan dari keluarga anak yang bukan perokok. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 mengungkapkan bahwa rokok merupakan salah satu komponen pengeluaran tertinggi kedua setelah beras pada rumah tangga yang menjadi penyebab kemiskinan.
"Jika ingin merevitalisasi belanja seharusnya konsumsi rokok ada di bawah. Meski secara data mereka sudah membeli beras tapi konsumsi anak bukan hanya beras ada protein, kalsium, dan lainnya," kata Tubagus dalam konferensi pers secara daring, Selasa (30/5).
Baca juga: DPR Minta Tembakau tidak Dikelompokkan dengan Narkotika di RUU Kesehatan
Berdasarkan Skor Indeks kelaparan Global (Global Hunger Index/GHI) 2021 Indonesia berada di tingkat 73 menunjukkan tingkat kelaparan yang moderat.
"Tembakau masih dianggap normal di Indonesia seharusnya tobacco control kita harus didenormalisasi terhadap rokok, meski rokok itu legal tapi itu tidak normal. Orang yang teradiksi dengan tembakau maka tidak bisa mengendalikan dirinya. Selain itu juga denormalisasi perusahaan rokok juga dilakukan meski legal tapi perusahaan tidak normal karena dalam konteks tertentu mereka menjerat dengan zat adiktif sehingga konsumen rokok tidak bisa lepas,"
Baca juga: Pemerintah Diminta Segera Terbitkan Regulasi Pengawasan Rokok Elektrik
Perwakilan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr. Feni Fitriani Taufik mengatakan konsumsi rokok jadi beban ekonomi, pembelanjaan peringkat kedua pangan 19 persen dan rokok 11 persen bisa berkaitan dengan tengkes.
"Kalau kita kaitkan maka perilaku merokok di depan anak akan memberi contoh untuk meniru perilaku atau menormalisasi bahkan diadopsi sehingga terbiasa," ungkanya.
Diketahui berdasarkan data dari Riskesdas jumlah perokok di Indonesia mengalami peningkatan, pada 2011 sekitar 60,3 juta orang merokok dan 2021 menjadi 69,1 juta atau hampir 70 juta.
Selain itu, ada juga pengolahan produk tembakau yang ancam remaja termasuk vape atau rokok elektronik yang pengguna meningkat 3 persen pada 2021 kami tidak rekomendasikan untuk sarana berhenti merokok.
"Rokok konvensional dan elektronik punya bahan berbahaya begitu juga third smoke and second smoke bahaya sama kita harus sama-sama lintas sektoral edukasi masyarakat harus dioptimalkan peraturan pemerintah salah satunya penerapan KTR. Orang yang tidak merokok berhak mendapatkan kondisi sehat," pungkasnya. (Iam/Z-7)
Andreas memandang fenomena ini dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar ementerian dan lembaga negara dalam menyinergikan kebijakan.
Kegaduhan pelarangan vape yang dilontarkan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) mengundang perhatian Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga.
Badan POM menyampaikan bahwa kewenangan tersebut memungkinkan penyusunan aturan turunan untuk menentukan standar produk vape yang beredar.
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan untuk mencegah penggunaan vape pada remaja di tengah masifnya promosi.
Rencana pelarangan total peredaran vape yang diusulkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dinilai bentuk kurang maksimalnya fungsi pengawasan dan pencegahan peredaran narkotika
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto memperingatkan dampak buruk vape bagi remaja, mulai dari paru-paru bocor hingga risiko penyakit kronis dini.
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi stunting di wilayah tersebut berada di kisaran 26,1 persen dan ditargetkan turun sebesar lima persen pada 2026.
Studi IHDC mengungkap hubungan signifikan antara stunting, anemia, dan rendahnya kemampuan working memory pada anak usia sekolah di Indonesia.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan targetkan angka stunting turun ke 7% pada 2026 melalui kolaborasi stakeholder dan penguatan peran SPPG.
IDAI ingatkan orangtua mengenai pentingnya kurva pertumbuhan untuk pantau tumbuh kembang anak secara akurat dan cegah salah diagnosis stunting.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved