Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Fanie Indrian Mustofa melakukan penelitian terhadap perilaku masyarakat menggunakan jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama wabah covid-19.
Penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif observasional ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara umum bagaimana tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat dalam mengonsumsi jamu selama wabah covid-19.
Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui media sosial dan grup WhatsApp selama 14 hari, yakni sejak 22 April hingga 5 Mei 2020.
Fanie menuturkan dari 1.524 partisipan yang telah dianalisa didapatkan kesimpulan:
- 79% responden mengonsumsi jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama wabah covid-19,
- 55,7% responden jadi lebih sering minum jamu setelah terjadi wabah covid-19
- 78,5% responden menyarankan orang lain, yaitu keluarga dan temannya untuk minum jamu guna mencegah covid-19.
“Sebagian besar masyarakat memang lebih sering minum jamu setelah terjadi covid-19, tapi mereka tidak menambah jenis jamu yang diminum. Mereka juga punya itikad yang baik untuk menyarankan orang lain untuk minum jamu selama wabah covid-19,” ujar Fanie dalam webinar Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Senin (20/7).
Dari 75 jenis tanaman jamu yang diyakini mampu meningkatkan daya tahan tubuh, responden paling banyak mengonsumsi:
- Jahe sebanyak 1.252 orang
- Kunyit sebanyak 1.057 orang
- Serai 969 orang
- Temulawak 754 orang
- Kayu manis 647 orang.
Selain itu, sebagian besar responden, yakni 966 orang mengaku mengonsumsi jamu buatan sendiri.
Baca juga: Thermal Gun Bisa Merusak Otak, Yurianto: Tidak Benar!
Namun, menurut Fanie, tingginya antusiasme masyarakat dalam mengonsumsi jamu, khususnya selama pandemi covid-19 perlu dibarengi dengan edukasi dan promosi yang memadai.
"Ada 64,5 persen responden memiliki pengetahuan yang sedang terhadap jamu, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan rendah tentang jamu jumlahnya lebih tinggi, yakni 20,1 persen. Lalu, responden yang pengetahuannya mumpuni hanya 15,4 persen," lanjutnya.
Fanie mengungkapkan masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa jamu memiliki efek samping. Di samping itu, masih banyak juga yang beranggapan bahwa semakin sering mengonsumsi jamu dapat membuat daya tahan tubuh semakin kuat untuk mencegah covid-19. Padahal, mengonsumsi jamu juga memiliki efek samping, sehingga tidak boleh dikonsumsi berlebihan.
“Masyarakat masih perlu kita berikan edukasi bahwa penggunaan jamu mempunyai aturan pakai. Walaupun jamu berasal dari bahan alam, bukan berarti jamu tidak memiliki efek samping sama sekali," jelas Fanie.
Jamu, imbuhnya, harus digunakan secara tepat aturan, tepat takaran, tepat bahan. "Jangan sampai salah jenis bahan baku, sehingga tidak memberikan efek bahkan memberikan efek sebaliknya,” pungkasnya. (OL-14)
Muncul istilah varian Cicada dalam perkembangan covid-19. Simak penjelasan mengenai status validasi dan karakteristik varian baru ini.
Tri Wibawa mengingatkan bahwa langkah pencegahan terhadap varian Cicada pada dasarnya tidak berbeda dengan upaya menghadapi Covid-19 secara umum.
Pakar UGM memastikan varian Covid-19 Cicada belum terdeteksi di Indonesia. Simak penjelasan mengenai gejala, asal-usul, dan efektivitas vaksinasi di sini.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Informasi tersebut disajikan secara ringkas dan mudah dipahami agar masyarakat dapat mengenal potensi tanaman atau obat herbal dengan lebih baik dan bijak
Produsen jamu ternama itu menggelontorkan dana Rp200 juta untuk memperlengkapi kebutuhan Lebaran mereka.
Ketua Badan POM Taruna Ikrar mengatakan, jamu tidak pernah sekadar soal nostalgia. Ia memandang jamu sebagai warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, sekaligus potensi ekonomi kreatif.
Sejak 2000, kata Irwan, Sido Muncul mulai melakukan uji toksisitas dan uji khasiat.
Total Rp900 juta tersebut terdiri dari uang tunai senilai Rp620 juta serta produk Sido Muncul senilai Rp280 juta.
Masih banyak daerah belum terjangkau, terisolir
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved