Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NATIONAL Aeronautics and Space Administration (NASA) berhasil merekam letusan plasma gelap di matahari. Apa itu letusan plasma gelap? Dan apakah hal itu berbahaya bagi kehidupan di bumi? Tulisan ini akan menjeleskannya, simak penjelsannya di bawah ini.
Letusan plasma gelap adalah fenomena di mana material matahari, yang disebut plasma, dipancarkan dari permukaan matahari dalam jumlah besar.
Plasma ini terdiri dari partikel-partikel bermuatan seperti proton dan elektron.
Baca juga : Fenomena Equinox Kembali Terjadi di Indonesia 21 Maret 2024, Apa Penyebabnya?
Letusan ini sering terjadi dalam bentuk prominensa atau filamen yang tampak gelap karena mereka lebih dingin dan kurang terang dibandingkan dengan area di sekitarnya di matahari.
Menurut laporan dari IFL Science, letusan tersebut memiliki kemungkinan 60 persen untuk mematikan gelombang radio dan mengganggu sistem komunikasi penerbangan serta satelit minggu ini.
Suar matahari dingin dengan suhu sekitar 19.982 derajat Celsius hanya sekitar seperempat suhu suar matahari panas yang biasanya terjadi.
Baca juga : Studi Evolusi Bintang, Apa Itu Nebula Boomerang?
Kemarin, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengeluarkan peringatan bahwa denyut plasma gelap bisa menyebabkan fluktuasi pada jaringan listrik.
Suar tersebut berpotensi mengganggu gelombang radio, komunikasi penerbangan, dan operasi satelit, setidaknya pada Jumat ini.
Video dari NASA Solar Dynamics Observatory menunjukkan awan gelap plasma dingin yang meletus dari matahari, menciptakan tampilan seperti asap hitam ketika plasma yang lebih dingin dari rata-rata menyembur ke arah utara melintasi permukaan matahari.
NOAA menyebutkan ada kemungkinan 60 persen terjadi suar matahari tingkat sedang atau kelas M dalam 24 jam ke depan. Laporan tersebut juga mengungkapkan ada risiko sebesar 15% terjadinya suar matahari kelas X yang lebih ekstrem yang dapat menyebabkan pemadaman gelombang radio di seluruh dunia. (Nasa/Z-10)
Banyak orang mengira bintang benar-benar berkelip atau berubah-ubah cahaya. Namun, faktanya tidak demikian. Dilansir dari laman Online Star Register, efek berkelip tersebut bukan berasal
Kemiringan Bumi pada porosnya menjadi penyebab dari pergeseran jalur Matahari ke utara pada waktu yang sama setiap tahunnya.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena astronomi langka akan menyapa langit Bumi pada akhir Februari 2026 lewat peristiwa yang dikenal sebagai parade enam planet.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Kedua letusan tersebut berasal dari wilayah bintik matahari aktif AR4419 yang berada di tepi barat Matahari. Suar pertama mencapai puncaknya pada 23 April pukul 21.07 EDT (24 April 01.07 GMT)
Menurut NASA, komet merupakan benda langit yang tersusun dari es, debu, dan batuan yang dapat menghasilkan ekor terang saat mendekati Matahari akibat pemanasan intens.
Bayangkan jika Matahari tiba-tiba hilang. Dari kegelapan total dalam 8 menit hingga Bumi yang membeku, inilah skenario ilmiah kiamat tanpa sang surya.
Simak skenario sains jika Matahari menghilang. Dari kegelapan dalam 8 menit hingga pembekuan total Bumi dan nasib akhir umat manusia.
Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh narasi viral mengenai ide "membungkus Matahari".
Menurut laporan NASA, cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved