Bahasa (2)

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
30/6/2015 00:00
Bahasa (2)
(Grafis/SENO)
KERAP para tokoh berpidato akan pentingnya 'membangun karakter bangsa', 'membangun jati diri bangsa', dan ‘memperkuat budaya sendiri agar budaya asing yang tak sesuai tak merusaknya'. Namun, mereka sesungguhnya kerap tak memahami esensi ucapan itu. Mereka tak serius merawat bahasa dan budaya mereka sendiri.

Bahasa ialah ibu kebudayaan. Meremehkan bahasa Indonesia sama artinya membuat lapuk budaya sendiri. Pada 1995 Kemendagri pernah mengeluarkan surat edaran  tentang penertiban penggunaan bahasa asing di ruang publik. Nama-nama asing yang tumbuh sebagai merek dagang di bidang perumahan dan pusat perbelanjaan pun berganti nama.

Namun, satu dekade ini penggunaan bahasa asing (Inggris) di ruang publik seperti berpesta pora. Meski kita punya UU yang mengaturnya, merek dagang berbahasa asing itu tetap diberi izin! Itu mengherankan. Pada 2003 ketika menjabat menteri koordinator politik dan keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono, bersama beberapa tokoh, mendapat penghargaan sebagai tokoh berbahasa Indonesia lisan paling baik.

Namun, setelah menjadi presiden ia lupa. Bahkan, ketika ia berpidato dalam bahasa Indonesia, bertaburanlah kosakata Inggris. Saya tak melihat kepungan istilah dan bahasa asing di ruang publik semata fenomena kebahasaan. Itu berkait erat dengan mentalitas inferior kita sebagai bekas bangsa jajahan. Mentalitas yang membangun kesadaran menganggap asing itu lebih tinggi, lebih agung.

Wajar negeri ini mengalami berbagai paradoks sebagai 'negara kaya yang rakyatnya miskin'. Di tangan manusia inferior kekayaan tak lagi menjadi berkah,  tapi musibah. Apa kalau bukan inferior jika capaian olahraga antarbangsa di tingkat Asia Tenggara saja kian tenggelam? Kita seperti terus memelihara kepandiran dan terjerembap berkali-kali di tempat yang sama.

Beberapa karakter buruk manusia Indonesia yang pernah disebut Mochtar Lubis hampir empat dasawarsa silam, antara lain hipokrit, tak bertanggung jawab, serta lemah watak dan karakter, kini kian menjadi-jadi. Pujangga besar India Rabindranath Tagore ketika berkunjung ke Indonesia pada 1927 kagum luar biasa akan perkembangan wayang di Indonesia. Jauh lebih berkembang dibandingkan negeri asalnya, India.

Itu disebabkan para maestro kita punya kecerdasan kultural. Mereka tak hanya 'mengambil', tetapi melakukan adaptasi dan inovasi yang luar biasa. Sama seperti Jepang yang melakukan inovasi terhadap teknologi otomotif Barat. Sama seperti Korea Selatan melakukan inovasi atas terknologi otomotif dan elektronik yang mereka tiru dari Jepang.

Dalam hal bahasa asing yang mengepung ruang publik, para saudagar kita hanya mengambil. Memungut. Dengan 'ideologi konsumerisme' ini mereka hanya ingin meraup keuntungan dan membentuk kelas masyarakat berdasarkan tempat tinggal, tempat potong rambut, tempat makan, tempat belanja, dan tempat dikuburkan kelak. Memungut bahasa asing begitu saja, tak ada upaya menggali dari khazanah bahasa dan budaya sendiri, ialah upaya pendangkalan
terhadap Indonesia.

Mereka tak berupaya membangun kebanggaan akan milik sendiri. Mereka hanya memikirkan keuntungan. Bukankah seperti ditulis John Naisbitt dalam Global Paradoks, justru ketika ada kehendak dunia kian global, kian seragam, banyak negara menunjukkan kekuatan lokal masing-masing?


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.