Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Rumah adat Jawa Tengah merupakan perwujudan dari kebiasaan hidup yang berlaku di masyarakat setempat, yang secara tidak langsung menunjukkan identitas.
Ketika bicara soal budaya yang menjadi identitas provinsi Jawa Tengah, beberapa orang mungkin akan teringat dengan “rumah joglo”. Tapi tahukah kamu jika ternyata provinsi ini masih memiliki rumah adat lainnya yang berjumlah 4 jenis?
Kelima rumah adat tersebut dibangun dengan karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Begitu juga filosofi yang terkandung dari setiap bangunan tersebut. Untuk mengetahui kelima rumah adat Jawa Tengah tersebut beserta filosofi di dalamnya, mari simak ulasan ini!
Baca juga : Jawa Tengah Jadi Wilayah Pertempuran antara Jokowi dengan PDIP
Sudah sejak dulu, rumah tradisional Jawa Tengah dikategorikan ke dalam lima jenis saja. Sementara lainnya merupakan variasi dari masing-masing lima jenis rumah adat ini.
Panggang artinya dipanaskan, sementara pe diambil dari istilah ape yang artinya dijemur. Pengambilan nama tersebut berasal dari fungsi bangunan tersebut, yaitu untuk menjemur hasil pertanian, seperti ketela pohon, dedaunan, padi, dan lainnya. Filosofi tersebutlah yang menjadi dasar mengapa desain rumah pe dibuat sederhana dengan atap miring.
Selain itu, bangunan jenis ini sering ditemui di tengah sawah sebagai tempat mengusir burung (gubuk kecil) atau untuk berjualan di pasar (bango). Juga digunakan sebagai rumah tinggal, yang antar ruangnya diberi sekat dari anyaman dan sejenisnya yang mudah diperbaiki.
Baca juga : Klaten Siaga Hadapi Ancaman Erupsi Gunung Merapi
Seiring waktu, panggang pe mengalami perkembangan bentuk yang terbagi ke beberapa jenis.
1. Panggang Pe Pokok
2. Gedhang Selirang
3. Emplyak Setangkep
4. Gedhang Setangkep
5. Ceregancet
6. Trajumas
7. Panggang Pe Barengan
Selain mengalami berkembangan variasi, bangunan jenis ini dijadikan sebagai dasar arsitektur bangunan-bangunan masa kini. Salah satunya bisa kamu lihat pada ruang dapur dari bangunan rumah makan milik Arsitek Ir. Eko Prawoto, M. Arch, yang ada di daerah Dekso, Kulon Progo.
Baca juga : Istana Tampik Kunker Presiden Jokowi untuk Menangkan Paslon Tertentu, Benarkah?
Rumah adat kampung merupakan penyempurnaan dari panggang pe. Memiliki denah persegi panjang dengan atap bubungan. Sementara tiangnya berjumlah empat, delapan, dan seterusnya sesuai keinginan pemiliknya.
Zaman dulu, bangunan dibuat dari kayu. Mulai dari kayu usuk, kayu reng, kayu nangka, kayu mahoni, kayu jawa, atau kayu jati. Berikut adalah beberapa model rumah kampung saat itu.
1. Lambang Teplok
2. Lambang Teplok Semar Tinandu
3. Srotong
4. Cere Gancet
5. Dara Gepak
6. Klabang Nyander
7. Kampung Pokok
8. Gajar Njerum
9. Pacul Gowang
10. Semar Pinondong
Baca juga : BNN Ungkap Jaringan Narkotika Lapas Jawa Tengah. Begini Kronologi Penangkapannya
Tidak ada ciri khusus, malah identik seperti rumah yang dimiliki masyarakat biasa di Jawa Tengah pada umumnya. Rumah adat ini juga mudah dimodifikasi maupun dikombinasikan dengan gaya arsitektur kekinian.
Penggunaan nama limasan berasal dari kata lima-lasan. Dalam bahasa Jawa, lima-lasan ini digunakan sebagai penanda bahwa panjang blandar rumah dibuat lima meter dan ukuran molo tiga meter.
Dibandingkan dua jenis rumah adat lainnya, limasan memiliki struktur bentuk atap dan kerangka bangunan lebih baik, serta rapi selayaknya hunian nyaman.
Tidak heran, zaman dahulu pemilik rumah limasan umumnya memiliki status sosial lebih baik dibanding pemilik rumah panggang pe dan kampung. Mereka termasuk kaum menengah pada masa itu.
Baca juga : Merapi Muntahkan Material Ratusan Kali, Awan Panas Meluncur Hingga 1,5 KM
Ruangan dalam limasan terdiri dari emper bagian (teras rumah), senthong (tiga ruang kamar), dan ruang tengah. Tidak banyak ornamen pada jenis rumah tradisional ini, menyesuaikan karakter masyarakat Jawa yang sederhana.
Walaupun begitu, variasinya cukup banyak menyesuaikan bentuk atap, yaitu:
1. Limasan Pokok/Jebengan
2. Gajah Ngombe
3. Gajah Mungkur
4. Sinom
5. Trajumas
6. Srotong
7. Lambang Sari
8. Lambang Teplok
9. Lambang Gantung
10. Lawakan
11. Lawakan Pengapit
12. Cere Gancet
13. Semar Tinandu
14. Gotong Mayit
15. Pacul Gowang
16. Klabang Nyander
17. Mangkurat
18. Pengrawit
Baca juga : Kembali Batuk, Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas
Model rumah limasan pun masih sangat umum dijumpai di pedesaan tanah Jawa dan digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat setempat.
Inilah rumah adat Jawa Tengah paling populer. Walaupun termasuk rumah tradisional, pada zaman dulu, Joglo merupakan rumah orang Jawa yang paling bagus dan kokoh.
Adapun filosofis di baliknya, ternyata bentuk joglo menyerupai dua gunung, yaitu Tajug Loro yang kemudian disingkat menjadi joglo. Bentuk atapnya menyerupai trapesium menambah ciri khasnya.
Baca juga : Sejumlah Rumah Warga Klaten Rusak Akibat Gempa 6,4 SR di Bantul
Rumah ini biasanya terdiri dari emperan (teras), dalem (ruang keluarga), dan senthong (kamar). Disertai dengan bangunan pendopo (ruangan terpisah di depan joglo) dan pringgitan (penghubung antara pendopo dan joglo).
Lalu, ditambah beberapa bangunan lainnya sebagai pelengkap, seperti dapur, lumbung (penyimpanan hasil panen), gandok (teras memanjang), dan kandang hewan.
Selain banyak bangunan dan ruang, joglo dihiasi jendela-jendela berukuran besar yang merupakan warisan budaya Belanda, namun diukir motif khas Jawa Tengah. Serta diberikan pagar mangkok, yakni tanaman yang dijadikan pagar.
Baca juga : Masjid Usulan Bung Karno Ditetapkan Sebagai Masjid Agung Kota Yogyakarta
Konsep rumah sedemikian rupa pada zaman dahulu, jelas mencerminkan rumah bangsawan atau kerabat kerajaan. Beberapa contoh ini merupakan jenis rumah joglo muncul pada zaman dulu.
1. Joglo Pokok
2. Hageng
3. Semar Tinandu
4. Sinom
5. Mangkurat
6. Jompongan
7. Pangrawit
8. Limasan Lawakan
Rumah joglo bisa kamu temukan di beberapa museum nasional, seperti Museum Kretek (Joglo Pencu), TMII Jakarta (Joglo Kudus), dan Museum Sonobudoyo (Joglo Limasan). Bahkan, beberapa institusi, khususnya di daerah Jawa Tengah menggunakan joglo sebagai kantor.
Baca juga : Nuansa Keraton di Masjid Gedhe Kauman
Namun, seiring berjalannya waktu, arsitektur joglo kerap diadaptasi berbagai kalangan. Mulanya berdenah kotak, lama-kelamaan berkembang dengan menambah aneka ruang sehingga menghasilkan tipe rumah joglo baru.
Desain tajug dibuat mirip dengan joglo, berbentuk kotak dengan satu atap menyembul di tengah-tengah. Akan tetapi, bentuk atapnya berbeda dengan yang ada di joglo. Tajug terdiri dari atap yang membentuk segitiga.
Bentuk cungkup (sebutan orang Jawa untuk bangunan beratap) bermula dari masa sebelum datangnya Islam. Di mana area tersebut digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap leluhur dari masyarakat Jawa di masa lampau.
Baca juga : UMY Siapkan 5 Ribu Takjil Gratis Selama Ramadan
Setelah agama Islam masuk tanah Jawa, budaya bangunan tajug pun tetap tidak dirubah. Namun, tajug dikhususkan untuk bangunan ibadah. Jadi, sifat dari bangunan ini tidak privat, melainkan untuk kepentingan bersama.
Bangunan tajug terdiri dari tajug dan langgar. Tajug merujuk pada bagian atapnya, sedangkan langgar bagian bawahnya sebagai tempat ibadah. Bangunan ibadah tajug ini sama dengan masjid dan mushola. Hanya saja tidak digunakan untuk salat Jumat.
Berikut adalah beberapa variasi dari bangunan tajug.
Baca juga : Ganjar Dukung Masjid Raya Sheikh Zayed Solo Jadi Islamic Center
1. Tajug Lawakan
2. Lawakan Lambang Teplok
3. Semar Tinandu
4. Lambung Gantung
5. Semar Sinongsong Lambang Gantung
6. Mangkurat
7. Ceblokan
Jika ingin melihat bangunan tajug langsung, kamu bisa berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman (Yogyakarta), Masjid Tajug Gede (Purwakarta), atau Tajug Gede (Cilodong).
Dilihat dari lima rumah adat Jawa Tengah di atas, semua modelnya masih dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini, dengan sedikit penyesuaian zaman. Kunjungi Jawa Tengah untuk melihat langsung bagaimana struktur arsitekturnya.
Menjelang malam intensitas hujan semakin meningkat hingga mengakibatkan sejumlah daerah mulai tergenang termasuk di antaranya jalur Pantura Semarang-Demak.
Pemprov Jateng mengintensifkan vaksinasi hewan ternak melalui program Healing untuk mengantisipasi wabah PMK jelang Idul Adha dan menjaga stok hewan kurban.
Dalam hitungan menit, suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan, ketika atap rumah dan genting beterbangan kemudian jatuh ke tanah.
Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri mengungkap kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar di Kabupaten Kendal.
Ia mengatakan kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah perbukitan dan daerah dengan sistem drainase kurang baik.
Pemprov Jawa Tengah masih mengkaji penerapan PKB dan BBNKB kendaraan listrik menyusul terbitnya Permendagri No 11 Tahun 2026. Simak penjelasannya.
Kehadiran Masjid Nurlaila menjadi oase bagi masyarakat Dusun Naga yang selama ini beribadah dalam keterbatasan.
Seorang pengusaha rokok, Muhammad Suryo, mewujudkan nazar pribadi dengan membangun masjid di lokasi kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya di Desa Palihan, Temon, Kabupaten Kulonprogo.
Mosaic menggelar Rapat Koordinasi Wakaf dan Sedekah Energi di Jakarta, mempertemukan pemerintah, organisasi masyarakat sipil (CSO), hingga lembaga filantropi Islam.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, meresmikan Masjid As-Sholihin Yokohama di Jepang. Masjid ini dibangun dari wakaf 1 juta muslim lintas negara.
Pembangunan masjid darurat tersebut dilakukan sebagai respons atas kebutuhan mendesak masyarakat akan sarana ibadah di tengah situasi konflik yang berkepanjangan.
Paket bantuan natura berupa pengharum ruangan senilai Rp116.867.500 yang akan disalurkan di wilayah Jakarta sebanyak 100 masjid, dan Sumatra 50 masjid.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved