Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HIDUP menyendiri di hutan, tidak jauh dari pesisir Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Yosep Doang Hurit, 74, bersikukuh merawat tanaman jenis komoditi miliknya, kelapa dan kakao, demi masa depan anak cucunya.
Gubuknya yang sederhana masih berada di wilayah Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga. Lokasinya kurang lebih 5 kilometer dari permukiman warga Desa Lamatutu. Tepatnya di ujung Tanjung Bunga, Pulau Flores bagian utara.
Pria lanjut usia itu masih bersemangat walapun kondisi tubuhnya sudah membungkuk. Ditemui pada Minggu (26/3) siang, Yosep terlihat gesit membawa satu ikat daun lontar dari hutan sekitar kebunnya.
Baca juga: Pj Bupati Flotim Kunjungi dan Serahkan Bantuan ke Lansia Tunanetra yang Tinggal di Hutan
Daun lontar itu akan ia gunakan sebagai atap gubuknya yang baru dibangun pascaroboh oleh hujan.
Gubuk yang ia tempati sebelumnya hanya tersisa rangka kayu. Beberapa potong seng karat sisa dan terpal kumal menutupi atap gubuknya. Ukuran gubuk ini sekitar 2×1 meter. Saat hujan, air merembes membasahi tubuhnya.
Tidak ada dinding yang mengapiti gubuk Yosep. Dia pun melewati malam yang dingin dengan pasrah.
Baca juga: Lansia Tunanetra Ini Hidup Sebatang Kara di Hutan Flores Timur
Malam yang gelap hanya dibantu dengan penerangan seadanya, yaitu lampu pelita. Lampu ini juga tidak bertahan lama. Saat angin kencang, dalam sekejap cahayanya sirna.
Gubuk itu, untuk sementara, ia bangun di dekat gubuk lama. Dengan alat dan bahan seadanya, Yosep gesit naik ke atap gubuknya. Tangannya lihai mengikat tiang-tiang bambu hijau yang telah ia rangkai menggunakan tali daun lontar.
Siang yang begitu terik tak ia hiraukan. Topi lusuh berwarna cokelat melekat di kepalanya menghalau panasnya cahaya matahari siang itu. Dengan baju putihnya yang mulai basah oleh keringat dan celana panjang hitam melindungi kulitnya yang keriput.
Usai mengikat tiang-tiang bambu dan atap, Yosep turun menyalakan api di tungku batu untuk memasak air minum. Asap mulai mengepul, ia turun ke sungai membawa sebuah jeriken untuk mengambil air. Ia menempuh jalan yang sedikit terjal kurang 150 meter.
"Saya mandi di sungai dan ambil air untuk dimasak" ungkapnya saat kembali dari sungai dengan napas sedikit tersengal.
Sambil mengisi air pada wadah berupa periuk almunium yang hitam, Yosep berkisah tentang pahitnya hidup usai merantau di Malaysia, 33 tahun lalu. Ia memilih pulang kampung pada 2013 lalu.
"Saya ingin mencari hidup, bertahan diri dalam kesusahan saya di hutan ini untuk menjaga tanaman saya. Saya tanam pisang, kelapa, dan kakao untuk anak cucu saya yang akan datang," ungkap Yosep.
Terhitung 10 tahun lamanya ia telah tinggal di kebunnya. Di usia uzurnya, Yosep masih mencangkul tanah. Ia menanam ubi dan pisang yang kemudian dipanen untuk mengganjal perutnya tiap hari.
Ia mengakui bisa makan nasi saat mendapatkan uang usai menjual hasil panen dari kebunnya. Ia bisa membeli beras dan jagung di Desa Aransina.
"Saya ada istri dan dua anak, mereka tinggal di kampung. Jika saya juga tinggal di kampung, saya kesulitan ke kebun karena jauh dan menyusahkan proses perawatan tanaman. Saya makan yang ada di kebun saja" jelasnya.
Yosep juga memancing ikan di laut Tanjung Darat, sekitar 100 meter dari rumahnya. Ia menggunakan sampan kayu dan memakai alat pancing seadaanya. Biasanya ia memancing mulai sore hingga malam hari usai bekerja di kebunnya.
"Saya sedikit-sedikit mancing. Jual di kampung-kampung terdekat. Jika nasib baik dapat 30 lebih ekor ikan batu. Hasilnya juga saya pakai untuk beli beras dan berobat saat sakit," ungkap Yosep.
Saat dirinya jatuh sakit, Yosep memilih berobat di Pustu Desa Aransina. Mendayung sampan kayu selama kurang lebih 15 menit. Jarak itu lebih dekat ketimbang berjalan kaki 5 kilometer melewati setapak berbatu menuju Desa Lamatutu. Usia yang tidak lagi muda membuat Yosep tidak bisa berjalan jauh.
Kini, Yosep menikmati profesinya sebagai petani. Merantau di Malaysia tidak membuatnya bahagia. Walapun harus tinggal di gubuk yang sederhana, bahkan jauh dari kata layak, Yosep berpendapat bercocok tanam bisa membawa perubahan dalam hidup.
"Pulang dari Malaysia pada 2013 dan lihat keadaan di sini, saya pilih tetap di sini bercocok tanam. Tinggal di sini. Kalau tinggal di kampung saja tidak bisa memperoleh perubahan. Pemerintah mau kita harus bercocok tanam karena kita ini petani," kata Yosep.
Yosep ingin selamannya tinggal di hutan merawat tanaman di kebunnya. Ia berharap, pemerintah mengelurkan tangan memberikan bantuan seng untuk gubuknya. Hal itu agar saat tiba musim hujan, rintiknya tidak lagi membasahi tubuhnya. (Z-1)
BNPP mendorong para mahasiswa untuk memanfaatkan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sebagai laboratorium belajar lapangan di perbatasan
Myscha, siswi SD di Manggarai Timur, NTT, kirim surat ke Presiden Prabowo. Ia curhat soal Makan Bergizi Gratis, takut keracunan, hingga kondisi sekolah rusak.
Dua wisatawan asal Spanyol di evakuasi medis dari perairan Pulau Padar, karena mengalami lemas, pusing, dan muntah.
WARGA Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa menggotong peti jenazah menyeberangi sungai yang dalam dan berarus deras.
Johni Asadoma menegaskan program rumah layak huni harus menyasar masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
BNI memberdayakan ratusan perempuan penganyam di Pulau Solor melalui program berkelanjutan. Fokus pada peningkatan ekonomi, kualitas produk, hingga penanganan stunting di NTT.
Bagi warga senior ini, potensinya adalah quality tourism, karena mereka punya uang lebih lebih banyak, karena tidak lagi memiliki banyak kebutuhan seperti turis berusia muda.
Sebanyak 1.214 jemaah haji asal Kendal diberangkatkan menuju Asrama Haji Donohudan. Pemkab Kendal pastikan fasilitas transportasi dan pendampingan lansia optimal.
Kemenhaj mengingatkan daerah untuk tidak berlebihan dalam seremonial pelepasan jemaah haji 2026. Acara panjang dinilai berisiko bagi kesehatan jemaah, terutama lansia.
Kenaikan suhu global membuat banyak orang kesulitan melakukan aktivitas fisik sederhana seperti pekerjaan rumah tangga atau naik tangga pada siang hari.
Survei global GSK mengungkap risiko cacar api pada lansia dengan penyakit kronis. Di Indonesia, biaya rawat inap mencapai Rp10 juta per kasus.
Pemerintah perketat syarat istitha’ah kesehatan jemaah haji 2026. Mayoritas lansia dan cuaca ekstrem jadi faktor utama tekan angka kematian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved