Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG klinis dan direktur Hope for Tomorrow Psychology Centre Dr Sng Khai Imm, mengatakan stereotip gender kerap membuat anak perempuan diharapkan menunjukkan perilaku tertentu yang membuat mereka terlihat “sempurna” – seperti teliti, rapi, dan rajin.
Studi Lego menemukan masyarakat tujuh kali lebih mungkin mengaitkan kata-kata seperti cantik, indah, manis, dan imut dengan anak perempuan. Sementara anak laki-laki mendapatkan kata-kata seperti berani, jenius, keren, dan inovatif.
Anak perempuan mengatakan kepada para peneliti bahwa kata-kata seperti imajinatif, berani, dan menginspirasi dianggap lebih membangkitkan semangat.
Baca juga : Awas Dampak Perfeksionisme pada Remaja Perempuan
Selain itu, 80% dari anak perempuan mengaku akan kurang takut mencoba hal-hal baru jika kesalahan dipuji lebih sebagai peluang untuk belajar. Sembilan dari 10 percaya kepercayaan diri mereka akan meningkat, jika orang dewasa lebih fokus pada proses kreatif daripada hasil akhir.
Konselor Dan Ng mengatakan mengubah fokus dari hasil ke menikmati proses adalah kuncinya.
Orangtua juga harus melihat kompetensi dibandingkan dengan kesempurnaan. Mereka bisa mulai dengan memahami pemicu stres anak-anak mereka dengan lebih baik, menghindari jadwal yang terlalu padat, dan memberikan waktu istirahat yang cukup untuk beristirahat dan melepaskan diri.
Baca juga : Melakukan Sleep Hygiene Saat Menstruasi Bantu Tidur Lebih Nyaman
Dr Sng menekankan bahasa adalah kunci. “Apa yang kita katakan kepada anak penting. Jika orang di sekitarnya berbicara dengan baik dan menekankan hal-hal yang benar, ini akan membantunya menginternalisasi pesan-pesan ini.”
Kata-kata dorongan yang positif menyampaikan pesan anak dicintai tanpa syarat dan tidak perlu menjadi “sempurna”.
Pada akhirnya, melepaskan pola pikir perfeksionisme akan bermanfaat bagi anak-anak karena memungkinkan mereka untuk menjadi kreatif dan bebas dari harapan dan norma sosial.
Dr Sng memberikan satu nasihat ini: Tidak ada yang pernah sempurna dan tidak ada yang perlu menjadi sempurna. Kita bisa menjadi diri kita sendiri dan kita harus menerima diri kita apa adanya. (CNA/Z-3)
WIC Jakarta sukses gelar Konferensi Biennial WCI ke-17. Fokus pada pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan pelestarian warisan budaya di era transformasi.
PT IWIP mendobrak stigma gender di industri pertambangan melalui pelatihan operator alat berat dan lingkungan kerja inklusif bagi perempuan di Maluku Utara.
Dokter spesialis ingatkan pentingnya pap smear meski sudah vaksin HPV. Simak data kasus kanker serviks di Indonesia dan program skrining gratis Kemenkes.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Psikiater dr. Elvine Gunawan menjelaskan bagaimana pola asuh kritikal memicu self-stigma dan membuat perempuan sulit terbuka saat menghadapi masalah.
Psikiater dr. Elvine Gunawan memperingatkan bahaya PMDD saat menstruasi, terutama jika muncul keinginan menyakiti diri. Simak gejalanya di sini.
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved