Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN kapten kapal kargo Boris Prokoshev menyalahkan pemerintah Libanon atas ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut yang terjadi pada Selasa (4/8). Kapalnya MV Rhosus membawa hampir 3.000 ton amonium nitrat yang kemudian ditahan otoritas Beirut.
Dikutip Al Jazeera, Boris mengatakan pihak berwenang Libanon sangat menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh kargo kapal tersebut. Kapal itu seharusnya tidak berada di Libanon sama sekali.
"Pemerintah Libanon yang menyebabkan situasi ini," katanya kepada kantor berita Associated Press dari rumahnya di wilayah Krasnodar Rusia.
Dia menjelaskan ketika berlayar dari pelabuhan Laut Hitam Georgia di Batumi, kapal itu menuju ke pelabuhan Mozambiquan di Beira. Tetapi Rhosus berhenti di Beirut untuk mencoba mendapatkan uang tambahan dengan mengangkut beberapa alat berat.
Baca juga: Macron Usul Perlu Penyelidikan Internasional untuk Ledakan Beirut
Namun, kargo itu terbukti terlalu berat untuk Rhosus dan kru menolak untuk menerimanya. Kemudian, kapal tersebut segera disita oleh pihak berwenang Libanon lantaran gagal membayar biaya pelabuhan. Sejak itu, Rhosus tidak pernah meninggalkan pelabuhan lagi.
"Mereka tahu betul bahwa ada kargo berbahaya di sana," kata Prokoshev.
"Menurut saya, mereka seharusnya membayar (pemilik kapal) untuk membawa kargo berbahaya itu, membuat pusing kepala, keluar dari pelabuhan. Tapi mereka malah menangkap kapal itu," imbuhnya.
Diketahui, otoritas Libanon menyebut amonium nitrat yang disimpan selama 6 tahun dan tidak terurus menyebabkan ledakan itu. Lebih dari 150 korban tewas dan hampir 5.000 korban luka-luka.(Aljazeera/OL-5)
Arab Saudi intensifkan diplomasi di Libanon melalui Perjanjian Taif untuk melucuti senjata Hizbullah di tengah goyahnya gencatan senjata Israel-Hizbullah.
Militer Israel (IDF) melakukan investigasi atas laporan maraknya penjarahan rumah warga dan perusakan properti sipil oleh tentaranya di Libanon Selatan.
GUGURNYA prajurit TNI dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Libanon kembali memicu sorotan terhadap keberlanjutan penugasan pasukan Indonesia.
Gugurnya empat prajurit TNI di Libanon memicu desakan evaluasi misi UNIFIL. Analis militer soroti perubahan karakter konflik dan perlunya perlindungan maksimal.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk menyerang target Hizbullah secara masif di Libanon meski gencatan senjata baru diperpanjang.
WAKIL Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Libanon
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved