Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENONTON konser musik merupakan salah satu hiburan yang digemari banyak orang. Namun, sering kali muncul perasaan kehilangan yang kuat seusai menontonnya, yang disebut post concert depression.
Psikolog klinis dari Anastasia & Associate, Beta Kurnia Arriza, menjelaskan post concert depression sering kali terjadi setelah seseorang menghadiri konser.
Pemicunya pun bervariasi, misalnya kehilangan dorongan emosional positif karena menonton konser erat dengan perasaan kegembiraan, kekaguman, dan antusiasme.
Baca juga: Jangan Sepelekan Stres saat Hamil! Ini Gejala dan Cara Mengatasinya
Setelah menghabiskan waktu serta energi untuk mempersiapkan dan merencanakan konser, beberapa orang mungkin merasa kehilangan setelah konser selesai.
Alhasil rasa kehilangan itu dapat menyebabkan beberapa orang merasa sulit menyesuaikan diri kembali ke realita sehari-hari.
"Ada satu konsep, namanya hedonic treadmill. Ini menggambarkan kecenderungan manusia untuk kembali ke titik seimbang emosionalnya setelah mengalami perubahan yang signifikan," ujar Beta.
Baca juga: Ragam Jenis Sakit Kepala Ini Bisa Muncul Akibat Stres
Ketika seseorang mengalami perubahan yang positif, seperti menonton konser musik, dia cenderung mengalami kenaikan perasaan bahagia sesaat. Namun, setelah perubahan tersebut berakhir, kondisi kebahagiaan seseorang cenderung akan turun kembali.
Penurunan rasa bahagia itulah yang menyebabkan seseorang mengalami post concert depression dan merasa sedih. Selain sedih, gejala post concert depression lainnya adalah kecewa, frustrasi, kehilangan minat untuk hal-hal yang biasanya dilakukan, gangguan tidur atau makan, kehilangan motivasi untuk melakukan tugas sehari-hari, kecemasan, hingga ketidaknyamanan sosial.
Meski demikian, psikolog klinis dari @wefanpsyou, Annisa Mega Radyani mengatakan post concert depression normal terjadi dan bersifat sementara.
"Biasanya, ini akan hilang dengan sendirinya selama beberapa waktu," kata Annisa, yang dihubungi terpisah.
Walaupun post concert depression bersifat sementara, ada baiknya untuk segera mengatasinya agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Annisa menyarankan agar seseorang dapat lebih terbuka dan mengakui jika dirinya mengalami gejala-gejala post concert depression tersebut.
"Itu normal, tapi, kalau kita masih merasakannya, boleh untuk mengobrol dengan sesama penggemar (idola pada konser yang telah ditonton) lain," ujar Annisa.
Ajak bicara teman sesama penggemar dari idola yang diikuti untuk saling berbagi perasaan, atau berbagi foto dan video yang diambil saat menonton konser.
Selain itu, foto atau video yang diambil dapat dikumpulkan dalam satu album atau jurnal khusus, seperti mengunggahnya di akun penggemar hingga menulis pengalaman selama konser di media sosial, juga bisa dilakukan untuk mengatasi post concert depression.
Dengan berbagi, seseorang dapat mengingat memori saat menonton konser sehingga dia tidak lagi merasa kehilangan yang menjadi pemicu post concert depression.
Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi post concert depression adalah mendistraksi diri dengan kegiatan lain yang lebih produktif.
Annisa juga menyarankan untuk membuat to do list atau daftar rencana kegiatan dari hal yang sederhana terlebih dahulu.
"Kita juga bisa melakukan kegiatan lain, seperti meditasi atau tarik napas saja dulu (secara perlahan) bahwa kita balik lagi mindful ke saat ini, bisa mengerjakan apa yang dikerjakan sekarang," kata Annisa.
Daftar rencana kegiatan dapat dijadikan tujuan untuk melakukan kegiatan positif lainnya, misalnya rencana menabung untuk menonton konser selanjutnya. Perencanaan seperti itu berguna untuk membuat semangat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. (Ant/Z-1)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Psikiater dr. Elvine Gunawan memperingatkan bahaya PMDD saat menstruasi, terutama jika muncul keinginan menyakiti diri. Simak gejalanya di sini.
Peran teman sangat penting untuk menerima cerita dan teman curhat itu perlu memberikan saran yang tepat.
Jerawat tak hanya masalah kulit. Pada remaja, kondisi ini bisa memicu kecemasan hingga depresi. Simak penjelasan dokter tentang dampak emosional dan cara mengatasinya.
LELAH mental atau mental fatigue adalah kondisi ketika seseorang merasa terkuras secara emosional dan pikiran akibat tekanan yang datang bertubi-tubi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved