Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK pandemi covid-19 terhadap kesehatan mental perlu diwasapadai. Dampak psikologis pandemi berupa menurunnya motivasi ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak.
“Kita tidak bisa menyatukan akibat atau dampaknya ini pada anak dan pada orang tua. Ini akan sangat berbeda,” kata Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Hendriati Agustiani.
Dikutip dari laman Unpad, Senin (5/4), Hendriati menuturkan salah satu persoalan besar yang muncul dari pandemi adalah tercerabutnya rutinitas. Hal tersebut dapat menurunkan motivasi. “Itu yang membuat persoalan cukup besar, baik untuk anak-anak maupun untuk orang tua," imbuhnya.
Berdasarkan hasil penelusuran literatur dampak pandemi di berbagai negara yang muncul akibat covid-19 dan pembatasan sosial berskala besar di antaranya adalah anak merasakan adanya ketidakpastian, ketakutan, dan terisolasi selama pandemi.
Kegiatan belajar dan bermain terus-menerus di rumah juga berkaitan dengan ketidakpastian dan kecemasan. Hal ini diakibatkan pembatasan aktivitas fisik dan bersosialisasi di sekolah. “Layaknya manusia merupakan makhluk sosial biasanya sangat perlu bersosialisasi. Sementara sekarang semua geraknya dibatasi. Itu sebetulnya yang membuat anak-anak merasa cemas, merasa takut, merasa tidak nyaman,” ujar Hendriati
Rutinitas anak juga dapat terganggu karena tidak adanya kegiatan yang terstruktur seperti di sekolah. Anak-anak pun menjadi lebih irritable, clingy, mencari perhatian, dan lebih dependen kepada orang tuanya. “Artinya, relasi yang terbangun betul-betul dengan orang tua lebih banyak dibandingkan dengan teman sebaya dan dengan lingkungan sekolah,” jelasnya
Beberapa anak pun menunjukkan afek atau perubahan perasaan karena tanggapan dalam kesadaran individu yang lebih rendah. Hal itu disebabkan lantaran tidak dapat bermain di luar dan bertemu teman-teman secara langsung.
Kehangatan Keluarga
Untuk mengatasi kondisi tersebut yang diperlukan yakni adanya kehangatan yang dibangun oleh orang tua di rumah. Namun, persoalan juga muncul pada sisi orang tua, utamanya saat mereka tidak mudah mengatur diri menghadapi situasi pandemi.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan adanya keteraturan. Keteraturan ini dapat dibangun jika terjalin kehangatan atau adanya rasa aman oleh orang tuanya dalam melakukan aktivitas sehari-hari di rumah.
Selain itu, anak-anak juga membutuhkan adanya kebebasan untuk mengatur dirinya di rumah dengan tetap memperhatikan struktur yang diberikan sekolah atau orang tua. “Jadi kelekatan anak dengan orang tua memang perlu dibangun agar anak tidak merasa helplessness, tidak merasa tidak berdaya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hendriati mengatakan, hal terpenting untuk menjaga kesehatan mental adalah adanya resiliensi atau kelenturan. Resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit dari peristiwa atau tantangan yang berat. Dijelaskannya bahwa seseorang diberikan kemampuan untuk melihat sesuatu dari dua sisi, yaitu sisi baik dan buruk. Keseimbangan inilah yang dibutuhkan.
Untuk itu dibutuhkan adanya penggunaan cognitive appraisal strategy. Dia menilai, kemampuan ini dapat membantu seseorang dalam menghadapi emosi yang terguncang. “Jadi kita harus mengubah mindset kita. Bahwa ini merupakan suatu tantangan. Ini merupakan sesuatu yang harus kita hadapi. Bahwa kita mengalami keterpurukan di satu sisi, oke, tapi kita harus bangkit karena kita semua harus berjalan. Ini yang membantu ketahanan terhadap stres atau gejala depresi,” terangnya.
Selain itu, agama dan ilmu pengetahuan pun saling melengkapi, terutama pada kondisi yang cukup menekan untuk mengatasi kesulitan. Kajian mengenai rasa bersyukur pun banyak dilakukan saat ini. “Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa itu merupakan energi positif yang membuat orang mau beradaptasi dan memunculkan motivasi baru untuk tetap bisa berjalan,” imbunya.
Dukungan sosial juga menjadi hal yang penting, baik dari seseorang maupun sekelompok orang. Dukungan sosial ini kuncinya adalah adanya kehangatan, keterbukaan, dan komunikasi dua arah.(H-1)
Pelajar SMA/SMK Indonesia menyulap ampas kopi dan cangkang telur jadi produk bisnis berkelanjutan melalui Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program.
Baznas melalui Rumah Sehat Baznas (RSB) Pesawaran memberikan layanan kesehatan gratis, sekaligus edukasi bahaya merokok bagi para pelajar di SMP Negeri 27 Pesawaran, Lampung.
Peran pendidikan menjadi krusial dalam membekali pelajar dengan perspektif global serta kemampuan kolaborasi lintas budaya.
KOMPETENSI digital merupakan salah satu yang krusial untuk terus ditingkatkan di kalangan pelajar. Hal tersebut harus dilakukan lewat berbagai pelatihan dan edukasi.
Melalui program itu, pelajar tidak hanya diajak berkunjung, tetapi juga dikenalkan langsung pada proses kenegaraan.
Sejumlah pelajar SD Kanisius Kenalan mengikuti prosesi jalan salib di kawasan Pegunungan Menoreh, Desa Kenalan, Borobudur, Magelang.
Survei Sun Life 2026 mengungkap 57% perempuan Indonesia abaikan kesehatan demi keluarga. Simak tantangan finansial dan beban sandwich generation di sini.
Guru Besar IPB Prof Euis Sunarti menekankan pentingnya pembangunan ramah keluarga sebagai basis kebijakan nasional untuk mengatasi depresi remaja dan kemiskinan.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Minggu (22/3), ayah Vidi, Harry Kiss, membagikan potret dirinya bersama sang istri di depan rumah.
Sejalan dengan imbauan Pemerintah, masyarakat diajak untuk menikmati waktu berkualitas bersama keluarga dengan mengurangi paparan gawai.
Orangtua didorong untuk menciptakan proyek sederhana di rumah, seperti membuat karya tulis atau pengamatan alam di sekitar rumah untuk memicu rasa ingin tahu.
Saat berbuka adalah puncak kebahagiaan setelah seharian menahan lapar dan haus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved