Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HARGA minyak hari ini diprediksi mengalami kenaikan. Analisis dari Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer menyebutkan meski terjadi koreksi harga minyak sesekali, tetapi tren umumnya menunjukkan kecenderungan naik.
"Faktor utama yang mendukung kenaikan ini, yaitu ketersediaan pasokan dari produsen utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia," kata Fischer, Selasa (19/3). Menurutnya, pasokan dari kedua negara tersebut cenderung berkurang, sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) membatasi produksi untuk menjaga harga tetap stabil.
Meski persediaan cadangan minyak masih cukup tinggi, kebijakan pembatasan produksi OPEC turut mempengaruhi dinamika pasar. Di samping itu, konflik regional seperti antara Israel dan Hamas, serta ketegangan di wilayah Texas, Amerika Serikat, juga menjadi faktor penting dalam analisis pasar minyak.
Baca juga : OPEC+ Rekomendasikan Pengurangan Produksi agar Harga Minyak Naik
"Ketegangan politik dan keamanan dapat mengganggu produksi dan distribusi minyak. Ini berpotensi meningkatkan kelangkaan dan mendorong kenaikan harga," kata Fischer.
Secara keseluruhan, tren kenaikan harga minyak masih berlanjut. Pasokan terbatas dan ketegangan regional menjadi pendorong utama di balik prediksi kenaikan harga dalam waktu dekat. Meski terjadi koreksi sesekali, belum ada indikasi yang cukup kuat untuk menunjukkan penurunan harga dalam waktu yang singkat.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan kekuatan pada sesi perdagangan Senin (18/3) dengan mengalami kenaikan signifikan. Pada New York Mercantile Exchange, harga futures minyak mentah untuk penyerahan Mei diperdagangkan pada level US$82,48 per barel atau mencatat peningkatan sebesar 2,36% dari sesi sebelumnya. Instrumen ini mencapai sesi tinggi sebelumnya di atas angka US$80 per barel. Dalam rangkaian harga yang lebih terinci, diperkirakan harga minyak mentah akan mendapat dukungan pada level US$77,57. Level resistance-nya berada di US$82,50 per barel.
Baca juga : Harga Minyak Naik Dipicu Pemotongan OPEC+ dan Pelemahan Dolar AS
Di sisi lain, di International Exchange (ICE), harga minyak Brent untuk penyerahan Mei juga mengalami kenaikan sebesar 2,14% diperdagangkan pada level US$87,17 per barel. Selain itu, perbedaan harga antara kontrak minyak Brent dan minyak mentah, atau yang sering disebut spread, mencapai US$4,69 per barel.
Kenaikan harga minyak ini tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai futures, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika pasar valuta asing, khususnya kinerja dolar AS. Peningkatan harga minyak Brent juga menjadi catatan penting dalam mengukur perbedaan harga antara jenis minyak berbeda dan memahami dinamika pasar energi secara lebih luas.
Dalam konteks ini, dalam prediksinya, kenaikan harga minyak dalam waktu dekat menjadi lebih terkonfirmasi. Dukungan terhadap harga minyak dari level teknis, bersamaan dengan faktor-faktor fundamental seperti pasokan terbatas dan ketegangan geopolitik, memperkuat pandangan akan keberlanjutan tren naik harga minyak. "Para pelaku pasar perlu terus memantau perkembangan ini dengan cermat untuk mengambil keputusan investasi yang tepat dalam menghadapi volatilitas pasar energi global," kata Fischer. (Z-2)
Harga minyak dunia pada April 2026 fluktuatif di kisaran US$90-100 per barel. Simak analisis penyebab dan prediksi rata-rata harga minyak tahun ini.
Iran memperingatkan blokade AS di Selat Hormuz picu lonjakan harga minyak Brent hingga US$96 per barel dan ancam stabilitas ekonomi global.
IEA memproyeksikan penurunan permintaan minyak global terdalam sejak pandemi akibat blokade Selat Hormuz dan harga minyak fisik yang tembus US$150.
Pantau pergerakan harga minyak dunia per 9 April 2026. Simak analisis mendalam mengenai faktor geopolitik dan ekonomi yang memengaruhi harga minyak mentah
Pemerintah membuka peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi. RON 92 hingga Dex masuk hitungan, keputusan final masih menunggu evaluasi.
Ekonomi Indonesia tetap solid di tengah gejolak global. Pemerintah optimistis pertumbuhan tembus 5,5% didukung konsumsi kuat, stabilitas fiskal, dan kebijakan energi.
Hingga 29 April 2026, sebanyak 122 kelompok terbang (kloter) atau 47.834 jemaah telah diberangkatkan menuju Tanah Suci.
Ia memastikan bahwa kondisi para korban terus dipantau secara intensif oleh petugas, dengan seluruh kebutuhan medis maupun logistik telah terpenuhi.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Di sisi lain, layanan kesehatan di Daerah Kerja Madinah juga terus dioptimalkan. Tercatat 1.373 jemaah menjalani rawat jalan.
Arab Saudi intensifkan diplomasi di Libanon melalui Perjanjian Taif untuk melucuti senjata Hizbullah di tengah goyahnya gencatan senjata Israel-Hizbullah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved