Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SWEDIA memiliki terobosan yang tak populer. Jika banyak negara gencar melakukan hilirisasi teknologi pada semua lini kehidupan, negara di Eropa Utara itu justru memilih memperlambat digitalisasi khususnya dalam bidang pendidikan.
Memasuki tahun ajaran baru, para pengajar mulai memperkuat pembelajaran berbasis manual yang mengajak anak-anak untuk kembali membaca teks atau buku cetak dan belajar menulis tangan, memperbanyak latihan motorik halus dan kasar secara menyenangkan. Anak-anak juga diajak untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan dan bertanya langsung dengan para guru.
Seperti dilansir dari Independent UK pada Selasa (12/9), salah satu negara Skandinavia itu telah mengumumkan penghentian terhadap penggunaan gawai di dalam pembelajaran secara khusus berlaku untuk siswa berusia enam tahun ke bawah mulai tahun ajaran 2023-2024.
Meskipun metode yang oleh sebagian besar masyarakat global dianggap jadul ini, tetapi bagi Swedia dianggap mampu membekali manusia modern kemampuan literasi yang kuat. Hal itu didasari pada berbagai riset yang ditemukan oleh para pakar dan ilmuwan pendidikan.
Pada salah satu penelitian, ilmuwan menemukan fakta pendekatan pendidikan yang sangat digital di negara tersebut, termasuk pengenalan tablet di sekolah-sekolah untuk usia dini itu menyebabkan penurunan keterampilan dasar pada anak.
Menteri Sekolah Swedia Lotta Edholm mengatakan lebih banyak dampak buruk dari penggunaan teknologi secara menyeluruh bagi anak-anak. Murid-murid Swedia membutuhkan lebih banyak buku pelajaran secara fisik untuk pembelajaran siswa.
“Kami terbuai dengan konsep pengenalan digitalisasi secara dini. Sekarang, sudah jelas dari kajian para ilmuwan bahwa pengenalan digitalisasi kepada anak-anak harus dilakukan secara terukur,” katanya.
Baca juga: ‘Efek Beyonce’ Terjadi, Berikan Efek Besar di Sektor Ekonomi Swedia
Seorang siswa sekolah dasar yang duduk di bangku kelas tiga di Stockholm, Liveon Palmer (9), menyatakan persetujuannya untuk menerapkan sistem pembelajaran berbasis teks secara langsung di sekolah.
“Saya lebih suka menulis di sekolah, seperti di atas kertas, karena terasa lebih baik,” katanya.
Meski secara global Swedia tetap berada di peringkat atas terkait literasi masyarakatnya dengan nilai di atas rata-rata dari negara lain di Eropa, khususnya dalam kemampuan membaca, tetapi para pakar dari Studi Kemajuan Literasi Membaca Internasional melihat adanya tren kemerosotan nilai literasi di Swedia sepanjang periode 2016-2021.
Para pakar tersebut menilai kemampuan literasi generasi muda Swedia terutama generasi Z mengalami penurunan dan tidak sebaik generasi sebelumnya. Pada tahun 2016, siswa kelas empat Swedia memiliki rata-rata skor membaca 555 poin, akan tetapi turun menjadi 544 poin pada tahun 2021.
Swedia selama ini telah mengakrabkan murid-murid PAUD dengan gawai elektronik, terutama sabak. Mereka terbiasa bermain games pendidikan dengan gawai. Di tingkat lebih atas, murid-murid sekolah terbiasa menggunakan internet secara independen untuk mengumpulkan informasi dan menyelesaikan tugas sekolah.
Sebagai perbandingan, Singapura yang menduduki peringkat skor membaca teratas mampu meningkatkan skornya dari 576 menjadi 587 pada periode yang sama. Sementara skor pencapaian membaca rata-rata Inggris hanya turun sedikit, dari 559 pada tahun 2016 menjadi 558 pada tahun 2021.
Institut Karolinska Swedia menyatakan dalam laporannya, fenomena defisit pembelajaran mungkin disebabkan oleh pandemi virus corona dan adanya peningkatan jumlah siswa imigran yang tidak berbicara bahasa Swedia sebagai bahasa pertama mereka.
“Penggunaan gawai berlebihan selama jam sekolah juga dapat menyebabkan anak-anak tertinggal dalam mata pelajaran inti. Ada bukti ilmiah yang jelas bahwa perangkat digital lebih merusak daripada meningkatkan pembelajaran siswa,” ujar peneliti Institut Karolinska Swedia dalam sebuah pernyataan terkait strategi digitalisasi nasional di bidang pendidikan.
Para ilmuwan percaya kemampuan literasi bisa dikembalikan melalui buku teks cetak dan keahlian guru, daripada menekankan pada pengetahuan yang bersumber dari digital.
“Sumber-sumber pengetahuan yang diakses murid itu tersedia secara bebas dan belum diperiksa keakuratannya,” ujar institut tersebut.
Adopsi pembelajaran lewat perangkat digital juga telah menarik perhatian badan pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam sebuah laporan yang diterbitkan bulan lalu, UNESCO mendesak dan menyeru berbagai negara untuk menggunakan teknologi yang tepat dalam pendidikan.
Laporan tersebut mendesak negara-negara untuk mempercepat koneksi internet di sekolah-sekolah, tetapi pada saat yang sama memperingatkan bahwa teknologi dalam pendidikan harus diimplementasikan sedemikian rupa, agar tidak menggantikan pengajaran tatap muka yang dipimpin oleh guru.(M-4)
Puncak Festival Literasi Batam #1 sukses digelar di Universitas Universal, melibatkan 272 sekolah dan menghasilkan 404 proyek literasi inovatif.
Festival Literasi Anak Rimba Kata 2026 mendorong kolaborasi penulis dan penerbit untuk ubah pola pikir membaca jadi aktivitas rekreatif keluarga.
Kisah Quinn Salman membuktikan bahwa membaca buku bisa jadi kunci kreativitas. Dari buku, ia menciptakan lagu dan karya sejak kecil.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dorong peningkatan literasi nasional manfaatkan tingginya minat baca Gen Z berdasarkan riset Jakpat 2025.
Program dirancang tidak hanya untuk mendukung pendidikan anak-anak pesisir.
WAKIL Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan peran strategis pengelola perpustakaan di Sekolah Rakyat dalam membentuk budaya literasi siswa.
BytePlus menggelar BytePlus Indonesia AI Day 2026 pada 16 April 2026 di Jakarta dengan mengusung tema Unleash Frontier AI Capabilities.
Layanan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan kemudahan tanpa mengorbankan keamanan
SNS tahun ini resmi memulai program uji coba truk listrik (Electric Vehicle/EV) guna melengkapi armada operasional untuk pengiriman barang dari depo menuju ritel.
KOMPETENSI digital merupakan salah satu yang krusial untuk terus ditingkatkan di kalangan pelajar. Hal tersebut harus dilakukan lewat berbagai pelatihan dan edukasi.
Virtuenet memperkenalkan sejumlah sistem teknologi untuk mengatasi permasalahan tersebut, teknologi yang membawa rangkaian solusi digital terintegrasi.
Ia mencontohkan, permainan tradisional maupun aktivitas fisik lainnya dapat menjadi pilihan untuk mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gawai secara berlebihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved