Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ALASAN seseorang bisa jatuh cinta, bisa bermacam-macam. Mulai dari ketertarikan fisik, kepribadian, atau bahkan karena merasa punya kesamaan nilai satu sama lain. Tetapi, jika pada kesempatan selanjutnya mereka memutuskan untuk menikah, kebahagiannya ternyata juga dipengaruhi oleh jenis gen.
Hal tersebut diketahui dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan Yale School of Public Health, Amerika Serikat. Hasil amatan mereka dipublikasikan melalui jurnal Plos One. Penelitian itu mengungkapkan jika variasi genetik turut memengaruhi hormon yang berperan dalam ikatan sosial atau yang dikenal sebagai oksitosin.
Penyusun makalah penelitian itu, Joan Monin menjelaskan, ia dan tim telah meneliti 178 pasangan suami istri, dengan rentang usia 37 hingga 90 tahun. Setiap pasangan diminta untuk menjawab pertanyaan terkait keamanan dan kepuasan dalam hubungan, selain juga diminta sampel air liurnya untuk diketahui jenis gen (genotipe)-nya.
Hasil amatan menunjukkan kepuasan dalam hubungan terdapat pada pasangan yang memiliki genotipe GG. Kepuasan hubungan dalam pasangan tersebut bahkan lebih besar dari perasaan aman yang dimiliki.
"Studi ini menunjukkan bagaimana perasaan dalam hubungan dipengaruhi, lebih dari sekadar pengalaman bersama dari waktu ke waktu. Dalam pernikahan, seseorang juga dipengaruhi oleh kecenderungan genetiknya sendiri dan pasangan," kata Monin, seperti dilansir dari Sciencedaily, Kamis, (5/11).
Monin dan tim juga menemukan bahwa seseorang dengan genotipe GG, cenderung merasakan keterikatan yang lebih sedikit dalam pernikahan. Genotipe GG individu dan genotipe GG pasangan menyumbang sekitar 4% kepuasan dalam perkawinan. Meskipun persentase itu tergolong kecil, akan tetapi perannya cukup signifikan karena berangkat dari faktor genetik, disamping adanya faktor lingkungan yang dimiliki pasangan. (M-1)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Dokter spesialis kulit menyarankan perawatan kulit dimulai 6 bulan sebelum pernikahan demi hasil maksimal dan menghindari risiko iritasi menjelang hari H.
Idealnya, calon pengantin sudah mulai melakukan rangkaian treatment setidaknya enam bulan sebelum hari pernikahan.
Menyambut momen bahagia, Dermalogia pun merancang program perawatan yang dipersonalisasi, menyesuaikan kebutuhan kulit dan tubuh Syifa.
Pesta pernikahan di Purwakarta berubah jadi tragedi. Tuan rumah meninggal dunia usai diduga dianiaya sekelompok preman, polisi buru pelaku.
Peneliti IPB University mengungkap faktor penyebab penurunan angka pernikahan di Indonesia, mulai dari ekonomi hingga tren "Marriage is Scary".
Salah satu hal yang paling mendesak untuk ditinjau ulang ialah penggunaan diksi dalam teks akad.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved