BERBAGAI modus kecurangan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri terus terungkap, mulai dari perjokian peserta melalui penggantian identitas dan manipulasi verifikasi wajah, hingga penggunaan alat komunikasi tersembunyi seperti earphone mikro, kamera mini, dan transmitter yang terhubung dengan operator di luar ruang ujian. Dengan metode ini, soal dapat dikirim diam-diam dan jawaban diberikan secara real-time, sementara peserta hanya mengikuti arahan melalui alat dengar.
Praktik ini terus muncul di tengah ketatnya persaingan masuk PTN dan anggapan bahwa kampus negeri menentukan masa depan. Tingginya permintaan membuka peluang bisnis joki dengan tarif puluhan hingga ratusan juta rupiah, menawarkan layanan layaknya jasa profesional, dari konsultasi peluang lolos hingga paket bantuan ujian. Kombinasi keuntungan besar, teknologi canggih, dan celah pengawasan membuat kecurangan diduga berkembang menjadi bisnis bayangan di dunia pendidikan.




