Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU hari putri kami mengkritik keras bahwa grup-grup medsos yang paling tak penting ialah milik para orangtua. Ini berdasarkan cerita pengalaman para orangtua teman-temannya, dan tentu sering pula mendengar dari kami betapa riuhnya grup-grup medsos, termasuk konten-konten berisi SARA.
Kata putri kami, yang mahasiswa semester akhir, para orangtua mudah percaya pada hoax dan baper (bawa perasaan) alias sensitif jika membaca tulisan yang tak cocok. “Kita (ia dan teman-temannya sesama mahasiswa) sering ngobrol membahas grup-grup medsos para orangtua masing-masing. Mereka sepakat, para orangtua penuh basa-basi, hanya mengulang-ulang, mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘tetap bersemangat’, ‘jangan lupa berdoa’, dan seterusnya. La, kayak gitu tiap hari apa pentingnya?
Kayak anak kecil aja,” katanya serius. Kami (saya dan istri) justru tertawa terbahak-bahak karena tak menyangka dikritik begitu keras. Sementara itu kami merasa dengan ‘basa-basi’ di grup medsos telah melakukan kebajikan. Rupanya mereka, anak-anak muda, juga tak mudah copy-paste lalu mengirimkan berita atau konten-konten yang tidak jelas. Mereka merasa bisa mencari sendiri sumber beritanya.
Wajar juga jika hasil penelitian bersama Kemendikbud dan Kemenkominfo pada 2015 menyebutkan bahwa orangtua umumnya, termasuk yang sudah profesor dan doktor, lebih percaya hoax jika dibandingkan dengan anak-anak muda. Wajar pula jika berniaga berita dusta pasarnya bagus di Indonesia.
Negeri yang kerap diberitakan gairah keberagamannya tengah meningkat, tapi suka dengan berita dusta. Karena itu, para pelakunya (pembuat berita dusta) pun harus bekerja serius. Ada yang memprediksi keuntungan mereka berniaga berita dusta mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.
Terlebih menjelang pemilihan presiden, gubernur, kabupaten/kota, harga berita dusta bisa melonjak tajam. Kini, para produsen berita dusta satu per satu ditangkap Tim Siber Bareskrim Polri. Merekalah, lewat kelompok Saracen, menjadi ‘pabrik’ berita bohong alias hoax. Merekalah yang membuat media sosial terus panas setiap saat.
Publik nanti akan kian tahu lagi bagaimana mereka bekerja, sindikat produsen berita dusta, provokatif, dan bermuatan SARA itu. Saracen merupakan sindikat pembuat dan penyebar kebencian di media sosial. Mereka ialah JAS, 32, MFT, 43, dan SRN, 32. JAS merupakan ketua dari sindikat Saracen, sedangkan MFT berperan sebagai ketua bidang media informasi dan SRN sebagai koordinator wilayah Cianjur, Jawa Barat. MFT ternyata ditangkap pada 21 Juli 2017.
Saracen memiliki 800 ribu akun yang menjadi ‘kaki tangan’ untuk menebar berita dusta. Terungkap pula ada 2.000 akun yang bertugas khusus untuk memojokkan Islam dan 2.000 akun pula untuk memojokkan agama Kristen, serta puluhan ribu akun dipakai untuk menyerang pemerintah, tokoh politik, dan yang lain-lain.
Uang bagi mereka adalah segalanya. Karena itu, tak peduli barang dagangan yang mereka jajakan berupa kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Mereka tak peduli bangsa ini terkuras energinya untuk saling memaki.
Bisa jadi pesan-pesan kebencian yang membanjiri media sosial selama berbulan-bulan itu sumbernya dari situs-situs yang mereka kelola, seperti Saracen News, Saracen Syber Tem, dan Saracennewscom.
Seperti juga pedagang, para pengelola Saracen juga menawarkan konten dengan harga yang cukup tinggi. Dugaan itu muncul setelah polisi menemukan adanya proposal pembuatan konten SARA di kantor pelaku. Dalam proposal itu disebutkan bahwa harga pembuatan konten SARA berkisar Rp75 juta-Rp100 juta.
Ada yang mengatakan bisnis berita dusta setahun bisa mencapai Rp360 miliar. Selain dari penawaran lewat proposal, jika akun mereka ramai dikunjungi, juga akan mendapatkan keuntungan dari iklan. Sayangnya mereka tak peduli dengan apa isi dagangan mereka, yang ternyata menyuburkan kebencian sesama warga bangsa.
Tentu yang menarik ialah para konsumennya. Siapa para penggemar dan pelanggannya? Siapa yang mau beli konten yang bermuatan SARA? Polisi kini tengah mencari tahu dugaan keterlibatan pilitikus.
Politikus atau mereka yang mempunyai kepentingan jahat, mencapai tujuan dengan segala cara, memang harus dibongkar tuntas. Kita menunggu siapa saja para pelanggan berita dusta dan SARA, para pengacau negara.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved