First Travel

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
22/8/2017 05:31
First Travel
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

FIRST Travel ialah perjalanan dari bawah, penuh cerita gagal, lalu menanjak, sukses, dan membuat banyak pihak salut. Mereka jatuh berkali-kali, tetapi juga bangkit berkali-kali. Mereka tidak pernah jera. Pasangan muda itu, Andi Surachman dan Anniesa Hasibuan, memang pengusaha muda yang banyak menginspirasi.

Selama beberapa tahun, First Travel tak pernah absen menerima berbagai penghargaan. Ia pendatang baru yang tergolong moncer. Bolehlah disebut ia biro perjalanan umrah paling favorit. Karena itu, saya agak terkesiap ketika tiga pekan silam beberapa teman dan tetangga, calon jemaah umrah First Travel menginformasikan mereka sangat mungkin gagal berangkat karena ada dugaan pemiliknya melakukan penipuan.

Betul adanya, polisi menangkap dan menahan keduanya karena 35 ribu calon jemaah batal berangkat. Inilah periode kejatuhan yang kesekian bagi Andi-Anniesa, tapi ini pastilah yang paling serius sebab penipuan yang dipersangkakan justru setelah mereka ada di puncak.

Caci maki dan sumpah serapah pun tak bisa dinegasi. Hilanglah seluruh perjuangan mereka yang pedih dan perih itu; menjadi penjaga minimarket, jual pulsa telepon, jual burger, seprei, dan masa-masa teramat berat ketika awal merintis usaha biro perjalanan yang akhirnya bangkrut.

Rumah mertua pun melayang digadaikan. Yang hebat dari pasangan ini ialah selalu bangkit setiap habis jatuh. First Travel memang sebuah ironi. Meraihnya dengan susah payah, tapi diempaskan begitu saja dengan mudah.

Seperti yang mereka katakan, usaha bisa sukses karena selalu merawat kepercayaan dengan penuh tanggung jawab. Akan tetapi, ada 35 ribu calon jemaah umrah tak bisa berangkat karena First Travel tak lagi punya uang, bahkan berutang ratusan miliar rupiah.

Jika benar seperti yang diliput media massa, betapa mewah rumah pasangan ini, betapa banyak koleksi mobil mereka, betapa glamor gaya hidup mereka, alangkah sayangnya. Di tempat-tempat wisata kelas dunia mereka kerap berpose dan gambarnya diunggah di media sosial. Jangan lupa, Anniesa, yang belajar autodidak memang punya nama dalam dunia busana.

Tahun lalu, sebagai perancang busana, ia tampil di New York Fashion Week dengan menampilkan busana muslim. Namun, gaya hidup mewah jelas tak elok dengan bisnisnya yang memberangkatkan orang untuk beribadah.

Terasa ada dendam masa lalu yang ingin ditebus dengan cara yang tak pantas. Hedonisme menjadi pilihan. Defisit kepantasan memang menjadi persoalan di negeri ini. Berkedudukan apa melakukan apa, agaknya tak lagi ditimbang matang-matang.

'Doa bertendens' di gedung parlemen dalam sidang bersama MPR, DPR, dan DPD yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 16 Agustus ialah contoh defisit kepantasan yang amat mencolok.

Doa yang terlalu personal, mengundang tawa, dan 'politis'. Tifatul Sembiring, Ketua Fraksi PKS itulah yang melafalkan doa. Doa meminta kepada Tuhan agar Presiden Jokowi yang kurus itu digemukkan, sungguh tak tepat.

Doa di forum resmi yang khidmat itu seperti tak menjaga suasana sidang bersama dalam momentum peringatan kemerdekaan yang penuh makna. Terasa doa pun dipakai sebagai alat politik.
Sebagai anggota dewan yang memang punya fungsi kontrol, aktivitas, dan otoritas anggota dewan, selain doa, tidaklah kurang panggungnya; tidaklah kurang forumnya, tidaklah kurang waktunya. Sayang, justru doa yang sakral itu diprofankan sedemikian rupa.

Ada banyak kritik pada Tifatul. Namun, ia merasa tidak bersalah. Doa itu ia yang bikin, dan ia merasa bebas mengurangi dan menambahi jika dirasa perlu. Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengusulkan, "Ke depan ada baiknya dipertimbangkan bahwa doa dalam upacara harus resmi saja. Jangan misalnya diserahkan bulat-bulat kepada pendoa, disiapkan dulu teksnya."

Kembali kepada First Travel, jika memang ada bukti tindak pidana, tentu harus diproses hukum, apa pun pahit-pedihnya ketika mereka memulai usahanya dulu. Namun, tanggung jawab Kementerian Agama yang mengeluarkan izin usaha, Otoritas Jasa Keuangan jika melihat ada penyelewengan investasi keuangan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha jika ada indikasi melanggar hukum dengan umrah murah, mestinya ikut bertanggung jawab juga.

Penelantaran jemaah haji dan umrah oleh biro perjalanan bukan kali ini terjadi, tapi sudah berkali-kali. Selama tiga tahun terakhir saja sudah ada 24 biro perjalanan umrah yang dicabut izinnya. Ini bukti betapa mereka berbisnis dengan segala cara, tak pandang lagi ibadah atau bukan. Inilah defisit kepantasan yang amat serius bagi bangsa ini.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima