Kerja Bersama

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
21/8/2017 05:10
Kerja Bersama
(Agus Suparto)

PRESIDEN Jokowi menuai pujian hebat atas dua perkara besar berkaitan dengan acara dan upacara memperingati hari proklamasi kemerdekaan ke-72 RI.

Pertama karena dikenakannya pakaian adat dan kedua karena hadirnya semua mantan presiden dan wakil presiden, khususnya SBY dan Megawati di istana.

Kedua tokoh itu lebih dari 13 tahun tidak bertegur sapa.

Pada 17 Agustus lalu mereka bersalaman di istana disaksikan Ibu Ani Yudhoyono dan Menko Puan Maharani.

Peristiwa itu mendapat perbincangan luas, fotonya beredar di media sosial, dan Presiden Jokowi mendapat apresiasi hebat karena mempersatukan pemimpin bangsa.

Kiranya kisah lama perihal seorang menteri, pembantu presiden, yang 'diam-diam' mencalonkan diri menjadi presiden, kemudian bersaing dalam pilpres, tutup buku. Kala itu SBY menko polkam, Megawati Presiden RI.

Keduanya bertarung dalam Pilpres 2004.

Pertarungan berlangsung dua putaran dan dimenangkan SBY.

Mencalonkan diri menjadi capres merupakan hak konstitusional warga.

Pokok persoalan bukan pada pencalonan, bukan pula pada siapa menang atau kalah, melainkan pada kata 'diam-diam'.

SBY sepertinya 'lupa', Megawati-lah yang mengangkatnya kembali menjadi menko polkam setelah dipecat Gus Dur.

Sekali lagi, berkat Presiden Jokowi, kiranya semua itu telah menjadi masa lalu.

Semua mantan presiden, apa pun riwayat hubungan masing-masing, personal maupun official, sama-sama merayakan kemerdekaan RI dengan semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, yaitu Indonesia Raya.

Jokowi bukan tipe presiden yang gemar muluk-muluk, yang dikemas dalam slogan dan tema besar.

Tema perayaan kemerdekaan RI kali ini ialah Kerja bersama.

Tema itu sangat bersahaja, yang tetap konsisten berkaitan dengan nama kabinet Jokowi, Kabinet Kerja.

Berkuasa tidak selalu diisi dengan kerja, tetapi dengan omong, bahkan mulut sampai berbusa-busa. Itu jelas bukan Jokowi.

Ia, misalnya, tidak pernah 'berbicara' perihal mempertemukan SBY-Megawati, tetapi ia 'mengerjakannya'.

Kerja merupakan napas utama kepemimpinannya dan dalam hasil kerja ia mengekspresikan kekuasaannya, bukan dengan menjadi otoriter dan diktator seperti tuduhan oposisi.

Hasil kerja bersama itu nyata, antara lain pembangunan infrastruktur yang bukan saja dapat diperiksa hasilnya, melainkan juga dapat dirasakan dan dinikmati.

Sebentar lagi terwujud sebuah sejarah baru pelayanan kepublikan di ibu kota negara, orang naik kereta api dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta tanpa kemacetan.

Suatu hari belum lama berselang, seorang rekan asal Jawa Barat dengan bangganya memperlihatkan kepada saya secara visual perkembangan pembangunan Bandara Kertajati Majalengka.

Tahap awal terminal utama penumpang bandara itu seluas 96 ribu m2, dapat menampung 11 juta penumpang.

Diperkirakan, bandara itu dapat beroperasi tujuh bulan lagi (Maret 2018).

Siapa pun dapat melihat dan merasakan pembangunan infrastruktur lainnya di perbatasan Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Nugini.

Dulu anak bangsa malu bila keadaan di negeri sendiri dibandingkan dengan negara tetangga.

"Kita ingin rakyat di perbatasan, di pulau-pulau terdepan, menjadi semakin bangga menjadi warga negara Indonesia dan menjadi semakin semangat untuk menjaga Tanah Air-nya," kata Jokowi.

Semua itu hasil kerja bersama.

Bukan kerja sendiri-sendiri.

Mengurus dan membangun negeri ini bukan semata kerja presiden yang sedang berkuasa, melainkan semua anak bangsa, termasuk para mantan presiden, dan tentu mereka yang juga berkuasa di DPR yang menjadi oposisi.

Merayakan kemerdekaan RI jelas juga terkandung makna kontekstual, bahwa beroposisi tidak berarti buta terhadap semua realitas positif yang dikerjakan komponen bangsa bersama Presiden Jokowi.

Presiden yang sehat rohani dan jasmani dan kinerjanya nyata jelas bukan pula presiden yang lebih gemuk, seperti doa seorang oposisi di DPR.

Lebih gemuk badannya, apalagi kantongnya karena korupsi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.