Rawatlah Kebersamaan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/8/2017 05:31
Rawatlah Kebersamaan
(DOK PEMPROV KALTARA)

ADA yang membesarkan hati pada peringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia. Guyubnya para pemimpin nasional memberikan pesan kuat bagi kita untuk menjaga kebersamaan. Kita perlu merawat hal yang baik ini karena merupakan modal untuk meraih kesejahteraan bersama.

Hampir empat dekade kita kehilangan rasa kebersamaan. Sikap untuk menempatkan 'kamu di sana, saya di sini' begitu kuat mewarnai kehidupan kita. Tidak usah heran kalau kemudian yang menonjol selalu sikap syak wasangka. Tentu bukan penyeragaman juga yang kita harapkan. Dalam sistem demokrasi harus ada checks and balances.

Sistem kekuasaan harus diawasi dan dikritik karena tidak ada malaikat di antara kita, we are no angel. Namun, kritik bukan hanya untuk sekadar kritik, melainkan kritik yang disertai alternatif solusi. Kita harus mengakui 72 tahun kemerdekaan telah banyak membawa kemajuan kepada bangsa ini. Namun, sebaliknya, masih banyak juga pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Salah satunya pembangunan yang inklusif, pembangunan yang bisa dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Presiden Joko Widodo mengakui kesenjangan masih menjadi persoalan besar, baik antarwarga maupun antardaerah. Pemerintah akan terus mendorong pembangunan infrastruktur keluar Pulau Jawa, terutama bagian timur akan mendapatkan porsi pembangunan yang lebih besar agar masyarakat mendapatkan keadilan ekonomi.

Hanya, kita perlu ulangi, pembangunan dan upaya pemerataan tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pemerintah. Kita memerlukan dukungan dari swasta dan badan usaha milik negara agar kita bisa lebih cepat mencapai tujuan besar, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Keinginan pemerintah untuk membuat perekonomian kita tumbuh 5,4% tahun depan pun hanya bisa dicapai melalui kerja bersama.

Meski pemerintah menganggarkan belanja lebih dari Rp2.200 triliun, kontribusinya kepada pertumbuhan ekonomi maksimal hanya 1%. Sebesar 4,4% sisanya harus datang dari konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. Kita tahu kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi yang hampir 60% itu datang dari konsumsi rumah tangga.

Kalau konsumsi rumah tangga harus didorong di atas 5%, itu hanya bisa terjadi kalau masyarakat mempunyai pekerjaan. Pendapatan pekerjaan itulah yang bisa membuat masyarakat memiliki daya beli. Lagi-lagi yang bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang besar itu ialah investasi swasta, apalagi ketika pemerintah sudah menetapkan pertumbuhan 0% untuk aparatur sipil negara.

Artinya penambahan jumlah pegawai negeri hanya bisa dilakukan atas dasar jumlah aparatur yang memasuki masa pensiun. Belum lagi kalau kita melihat sumber penerimaan negara yang ditetapkan Rp1.877 triliun, dengan Rp1.609 triliun berasal dari pajak. Penerimaan negara itu hanya bisa tercapai apabila ada kegiatan ekonomi di tengah masyarakat dan terutama ketika dunia usaha mendapatkan keuntungan dari usaha.

Sekarang ini kita melihat rendahnya minat pengusaha untuk mengembangkan bisnis. Bahkan, beberapa perusahaan asing memilih untuk keluar dari Indonesia. Yang paling mencengangkan ketika perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia, Exxon Mobil, memutuskan melepaskan hak pengelolaan ladang gas besar di Natuna.

Kita tidak melihat pemerintah gusar pada hengkangnya Exxon. Padahal, ketika 2006 Wakil Presiden Jusuf Kalla berniat mengalihkan pengelolaan Blok Natuna ke Pertamina, bos besar Exxon sampai menghamba-hamba untuk bisa bertemu wapres. Pasti ada sesuatu yang luar biasa kalau sampai kemudian Exxon memilih keluar dari Indonesia.

Kita perlu tahu karena kalau Exxon tidak mau lagi berinvestasi di Indonesia, pasti perusahaan migas dunia lain pun akan enggan datang ke Indonesia. Ini tentu menjadi sinyal yang kurang baik di tengah upaya kita menarik investasi dan mendorong kontribusi swasta dalam pembangunan.

Evaluasi ini perlu dilakukan bukan untuk membuat kita bergantung kepada asing, melainkan kalau kita ingin mendorong pembangunan dan pemerataan, kita membutuhkan investasi. Seperti kata pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, dalam menarik investasi itu prinsipnya, "Kita tidak peduli kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus."

Kalau kita tidak pernah mau bersahabat dengan pengusaha, investasi yang diharapkan tidak pernah akan datang. Kalau investasi tidak datang, lapangan pekerjaan tidak pernah akan terbuka. Bahkan lebih dari itu, penerimaan negara pun pasti tidak pernah akan didapat.

Tanpa ada penerimaan negara yang mencukupi, program pemerintah pasti tidak akan bisa berjalan. Akhirnya keinginan untuk melakukan pembangunan dan pemerataan pun tidak pernah akan bisa tercapai. Semoga kita bisa merawat kebersamaan semua pihak.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima