Gairah Indonesia Penjual Bendera

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
18/8/2017 05:31
Gairah Indonesia Penjual Bendera
(ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

PAGI pekan lalu pemuda berbadan ceking itu dengan ceria lewat di depan rumah. Seperti para penjual bendera keliling di musim agustusan, ia menjajakan dagangannya dengan gerobak. Ikatan bambu, bendera sang dwiwarna, umbul-umbul, spanduk, serta aneka properti hiasan agustusan masih penuh.

Ia memakai kaus oblong merah putih dengan gambar Bung Karno yang tengah berpidato dengan tangan kanan menunjuk ke muka. Gambar agustusan yang khas dan berjiwa. Tak hanya itu, sang penjaja pun mengenakan ikat kepala dwiwarna dengan dua ujung yang dijuraikan. Penjaja bendera yang berbeda! Saya tahu kemudian namanya Zulkifli, asal Cirebon. Ada banyak penjual bendera musiman seperti Zulkifli.

"Cuma memasang satu bendera, Pak?" tanyanya tenang seraya melihat bendera kecil yang terpasang di depan rumah. "Memangnya mesti berapa?" Saya balik bertanya dengan nada agak tinggi. Setiap agustusan saya memang hanya mengibarkan satu bendera di depan rumah. "Setahun sekali menghormati Indonesia agar lebih kuat dan bermartabat, Pak." Apa hubungannya martabat Indonesia dengan bendera dan 'benda-benda perayaan kemerdekaan'? Saya bertanya.

Ia pun bercerita memasang bendera dan umbul-umbul adalah kebanggaannya. Pekerjaan tetapnya jualan tanaman hias. Setiap Agustus ia beralih jualan bendera, dan menjelang tahun baru ia jualan terompet. Namun, katanya, menjual bendera dan properti agustusan seperti ada getaran semangat. Rasanya ia seperti ikut berjuang waktu revolusi kemerdekaan. Guru sejarahnya waktu SMP dulu memang pencerita sejarah yang inspiratif. Zulkifli menjadi suka sejarah.

Tanpa banyak tanya lagi saya beli dua lembar bendera berukuran lebih lebar dari yang telah ada, dua tiang, dan sebuah umbul-umbul. Dengan cekatan ia ikat tali-tali bendera dan umbul-umbul itu ke tiang-tiang bambu. Dengan cepat pula ia pasang di dua sisi pintu gerbang. Naik dengan cepat ke atas tembok dan mengikat dua tiang bendera dengan cepat pula. Segera ia melompat turun dan angin bertiup.

Dua bendera dan umbul-umbul segera berkibar-kibar. "Tuh, Pak, langsung berkibar. Bergetar-getar. Indah sekali sekali kan, Pak?" katanya seraya memberi hormat kepada bendera bendera-bendera tu. Ia menambahkan betapa bahagia setiap menyaksikan sang dwiwarna jajaannya berkibar.

Baru kali ini saya memasang lebih dari satu bendera menyambut 17 Agustus. Baru kali ini pula memasang umbul-umbul. Baru kali ini pula bertemu penjaja bendera yang sangat 'ideologis'. Saya melihat bukan semata strategi jualan. Ia seperti menghayati betul 'merah putih' dalam konteks hari ini.

Saya melihat di lingkungan rumah, semangat menghias dengan 'properti agustusan' terasa lebih meriah. Bendera, umbul-umbul, dan aneka hiasan warna merah putih memenuhi jalanan dan depan rumah. Para ibu dan remaja mengumpulkan sumbangan lebih banyak. Mata lomba yang digelar juga makin beragam. Untuk pertama kali bahkan ada lomba tumpeng Ibu-ibu. "Ini memang agustusan paling meriah setelah tiga tahun vakum," kata seorang ibu.

Lagu-lagu perjuangan juga menggema dari beberapa lokasi perayaan. Di media sosial lagu Indonesia Raya, Berkibarlah Benderaku, Garuda Pancasila, dan Rayuan Pulau Kelapa dengan berbagai aransemen dan ilustrasi gambar juga membanjiri media sosial. Saya merasakan masih banyak bangsa ini yang mencintai negerinya.

Di Istana Merdeka, perayaan peringatan 17 Agustus juga mendapat banyak apresiasi karena para tamu undangan mengenakan pakaian daerah, termasuk Presiden Joko Widodo dan para mantan presiden dan mantan wakil presiden. Mereka seperti tengah membangkitkan semangat lama yang telah dilupakan.

Seluruh mantan presiden dan wakil presiden hadir paling lengkap kali ini. Joko Widodo mengenakan pakaian adat Batu Licin, Kalimantan Selatan, BJ Habibie dan Jusuf Kalla mengenakan pakaian tradisional Bugis, Susilo Bambang Yudhoyono mengenakan pakaian tradisional Sumatra Selatan. Foto ini pun viral di media sosial. "Alhamdulillah rukun sederetan. Seneng lihatnya," Dessy Ummu Rizky merespons foto Joko Widodo bersama BJ Habibie, Megawati, dan SBY. 'Mudah-mudahan memberikan contoh yang dilakoni secara nyata kerukunan kehidupan berbangsa', tulis pengajar ekonomi Universitas Lampung, Agus Nompitu.

Semarak pakaian daerah, saya kira penting untuk melawan lupa bahwa kita mempunyai kekayaan pakaian adat dan daerah. Bukan untuk membangkitkan semangat primordialisme, justru ingin menegaskan, Indonesia memang kaya, beragam, tetapi satu. Komentar positif itulah umumnya yang kita baca dan dengar. "Nah begitu, dong. Kalau pemimpinnya rukun, kan kita juga seneng. Kalau mereka berantem, kita juga ikut pusing," kata Untung, tukang batu di rumah, secara spontan setelah melihat di media sosial foto para pembesar itu viral.

Rakyat memang bersahaja dan tulus; ikut senang melihat pemimpin berkumpul dan bertegur sapa. Megawati sendiri sejak 10 tahun ketika SBY menjadi presiden tak pernah hadir di Istana untuk peringatan kemerdekaan. SBY juga baru kali ini hadir pada peringatan proklamasi kemerdekaan di Istana setelah tak menjadi presiden.

Saya merasakan peringatan 17 Agustus kali ini memang terasa lebih punya makna. Mungkin karena belakangan rajutan kebangsaan Indonesia agak terganggu. Peringatan proklamasi kemerdekaan kali pun menjadi semacam peneguhan bahwa terlalu sayang Indonesia untuk tidak dicintai.

Terima kasih, Zulkifli, yang telah mengingatkan saya tentang Indonesia lewat bendera. Terima kasih kepada para penjual bendera yang telah memeriahkan Indonesia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima