Pasar Modal

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
13/6/2015 00:00
Pasar Modal
ANTARA/Puspa Perwitasari(MI/SENO)
INDEKS harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia terus mengalami tekanan. IHSG yang sebelumnya di atas 5.500 sempat tertekan di bawah 4.900. Investor asing terus melepas saham yang dimiliki dan sempat melewati Rp1 triliun pada perdagangan Selasa (9/6).

Perdagangan saham memang fluktuatif. Namun, jika kecenderungan penurunan berlangsung panjang dan menekan sangat dalam, tentu ada persoalan fundamental yang harus diperhatikan. Kita tidak menutup mata terhadap faktor eksternal yang terjadi.

Perekonomian global terguncang oleh manuver yang dilakukan negara-negara maju. Untuk mendorong ekspor dan pertumbuhan ekonomi, negara-negara seperti Jepang dan Uni Eropa sengaja memperlemah nilai tukar uang mereka. Perang mata uang berlangsung.

Kita melihat kondisi global yang mencekam karena dampaknya bisa tidak terkendali. Kini kita melihat bagaimana harga obligasi pemerintah di pasar global berjatuhan. Negara yang paling kecil terkena dampaknya ialah negara yang kebijakannya tidak aneh-aneh dan konsisten.

Apakah kita tergolong negara seperti itu? Sayangnya tidak. Saya pernah menyampaikan di kolom ini, Indonesia, menurut survei Bank Dunia, tergolong negara yang buruk dalam menghormati kontrak.

Saat ini, muncul kekhawatiran dari kalangan perbankan. DPR sedang membuat rancangan undang-undang tentang kepemilikan asing di bank nasional. Muncul pemikiran kepemilikan asing akan dibatasi 40% saja.

Yang menjadi pertanyaan, apakah UU Perbankan nanti akan berlaku surut atau hanya akan berlaku untuk masa depan? Orang menduga aturan itu berlaku surut. Akibatnya, investor melepas saham-saham perbankan yang mereka miliki, apalagi saat ini harganya masih bagus.

Ada dua hal setidaknya yang akan merusak kredibilitas Indonesia apabila RUU Perbankan itu disetujui. Pertama, kepercayaan investor terhadap kepastian berusaha di Indonesia. Padahal, investor itu kita undang untuk menyelamatkan sistem perbankan saat krisis keuangan pada 1998. Setelah 17 tahun berlalu, ternyata kebijakannya berbalik arah.

Kedua, kapitalisasi perbankan di pasar modal sangat besar, setidaknya ada sekitar Rp800 triliun. Kalau setengahnya harus didivestasi, pertanyaannya, siapa yang akan membeli? Pengalaman saat pemerintah harus melepas kepemilikan Bank Century Rp6,7 triliun, toh asing pula yang membelinya.

Gejolak yang terjadi di pasar modal saat ini salah satunya disebabkan faktor ketidakpastian. Kalau pemerintah tidak segera memberikan kejelasan, pasar yang memang sedang nervous akan makin tertekan.

Kepiawaian pemerintah untuk mengendalikan keadaan sangat diperlukan. Langkah yang ditempuh tidak bisa lagi artifisial, tetapi harus benar-benar nyata. Pasar harus merasakan bahwa pemerintah memang mampu mengendalikan turbulensi ekonomi.

Artifisial yang saya maksudkan, pemerintah tidak bisa mengatakan 'akan' atau sekadar mengetes pasar. Rencana Bank Indonesia untuk mengendurkan kebijakan moneter bagi sektor otomotif dan properti, misalnya, ternyata baru rencana dan belum direalisasikan di lapangan. Padahal, relaksasi moneter diperlukan untuk menggairahkan pasar yang sedang lesu.

Apa yang tengah terjadi di pasar modal merupakan indikator perekonomian kita sedang demam. Untuk itu, perlu diobati agar 'pasar modal' tidak seperti dilafalkan orang Jepang menjadi 'pasar modar'.

Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima