Kemerdekaan dan Wajah DPR Kita

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
15/8/2017 05:31
Kemerdekaan dan Wajah DPR Kita
(Dok MTVN)

INI mestinya menjadi tahun perkabungan yang teramat dalam bagi parlemen kita. Selama 72 tahun Indonesia merdeka, dua dari tiga pembesar parlemen terlibat korupsi. Tahun ini ketika peringatan kemerdekaan diberi slogan 'Kerja Bersama', mereka justru melakukan 'Korupsi Bersama'. Dengan wajah seperti ini, bagaimana mutu kontrol legislatif terhadap eksekutif?

Ketua Perwakilan Daerah Irman Gusman lima bulan lalu divonis 4,5 tahun penjara karena terbukti menerima suap. Juli lalu giliran Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto menjadi tersangka kasus dugaan megakorupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E), kasus yang bakal menyeret banyak politisi.

Dengan kasus yang menyeret dua pembesar parlemen itu saja, kita sudah bisa menyimpulkan bagaimana wajah bopeng parlemen kita. Ini terbukti, pengenaan rompi warna jingga sebagai tahanan KPK, bahkan vonis penjara, tak memberi pelajaran apa-apa. Korupsi tetap datang silih berganti. Tak sedikit yang mengumbar senyuman, bahkan ketika mereka telah mengenakan rompi sebagai orang rantai.

Karena itu, kita berharap Ketua MPR Zulkifli Hasan menjadi benteng terakhir parlemen akan laku korupsi. Jika benteng ini jebol juga, habislah parlemen kita. Atas status Setya, wajar jika publik khawatir ia menjadi pembaca teks proklamasi seperti pada galibnya peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka. Kegundahan itu telah dijawab istana, Setya yang juga Ketua Umum Partai Golkar tak diundang untuk membacakan teks proklamasi yang teramat sakral bagi bangsa ini.

Setya telah membaca teks proklamasi pada peringatan kemerdekaan tahun lalu, kini giliran Ketua MPR. Selama ini ada banyak kasus yang dilekatkan pada Setya, tetapi ia selalu bebas. Banyak pihak menyebut ia politikus paling licin. Namun, agaknya, kali ini ia sulit mengelak akan dugaan keterlibatan megaskandal proyek KTP-E.

Jika terbukti, inilah persekongkolan paling jahat antara legislatif dan eksekutif karena melibatkan dana teramat besar, yakni senilai Rp5,9 triliun dengan dugaan uang yang digelapkan sebesar Rp2,14 triliun. Yang membuat kasus ini kian jadi tanda tanya ialah saksi kunci yang disebut-sebut paling tahu tentang dugaan skandal KTP-E, Johannes Marliem, meninggal di kawasan mewah Baverly Grove, Hollywood bagian barat, Amerika Serikat.

Kabarnya pria yang telah menjadi warga negara AS itu menyimpan rekaman 500 gigabita data skandal yang menghebohkan itu. Johannes ialah Direktur Biomorf Lone LLC, perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik yang terkait dengan proyek pengadaan KTP-E. Johannes disebut 25 kali oleh jaksa KPK saat tuntutan untuk terdakwa Irman dan Sugiharto, dalam kasus korupsi KTP-E.

Meninggalnya lelaki itu Jumat lalu jelas mengundang kecurigaan. Adakah ia sengaja dibunuh? Kematian itu berbarengan dengan ramainya pengusutan perkara KTP-E yang menyeret berbagai pejabat negara dan anggota dewan. KPK telah pula meneguhkan sikapnya, tak akan goyah mengusut kasus busuk itu. Kasus Setya, terlebih lagi jika nanti dalam persidangan terbukti, memang kian 'menyempurnakan' kejahatan korupsi yang melibatkan politikus di Senayan.

Sedikitnya sejak 2004, 70 anggota DPR telah diproses hukum karena korupsi. Jika digabung dengan anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, jumlahnya pastilah jauh lebih gemuk lagi. Dengan laku korup anggota parlemen kita, wajar jika DPR dan partai politik menjadi institusi berapor merah selama bertahun-tahun.

Dengan kasus Irman Gusman dan Setya Novanto, menjadi kian sulit memulihkan citra parlemen yang kotor itu, kecuali ada upaya-upaya luar biasa. Inilah parlemen hasil Pemilu 2014 yang disebut-sebut sebagai pemilu paling brutal. Dengan wajah buram itu, para anggota parlemen mestinya menjadi pihak yang berada di garda depan melakukan introspeksi diri.

Dengan kepercayaan publik yang amat rendah, mereka seperti bagian terpisah dengan fakta-fakta tercela itu. Mereka seperti tak melakukan upaya apa pun untuk menjawab berbagai kritik publik. Upayanya yang tak kenal lelah mengajukan anggaran untuk membangun fasilitas di kawasan Senayan seperti apartemen, museum, perpustakaan, dan ruang berunjuk rasa menunjukkan mereka miskin kepekaan.

Berkali-kali mereka ajukan proyek itu, tetapi berkali-kali pula publik menolak. Publik yang memilih mereka, publik pula yang menolaknya. Inilah peringatan kemerdekaan paling buram bagi parlemen kita. Agustus ini mestinya merekalah yang paling depan melakukan 'pertobatan diri'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima