Lelaki yang Dibakar Massa

Djadjat Sudradjat
08/8/2017 05:31
Lelaki yang Dibakar Massa
(Dok Youtube)

DI awal bulan kemerdekaan ini seorang lelaki dibakar massa dengan beringas. Lelaki itu, Muhammad Al Zahra alias Zoya, ayah seorang anak yang kini istrinya tengah hamil anak kedua. Warga Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu dibunuh massa yang beringas karena disangka mencuri amplifier di sebuah musala. Selasa sore pekan silam Zoya menemui ajal di sebuah ruang terbuka. Kita tahu seperti umumnya pengadilan jalanan; tuduhan massa segera disematkan, sidang atas nama 'terdakwa' pencuri segera dilakukan, dan 'vonis mati' segera dijatuhkan.

Tubuh yang tak berdaya karena aneka siksaan itu akhirnya dibakar hidup-hidup. Berkali-kali seperti didengar beberapa saksi, Zoya dengan sisa tenaganya yang nyaris punah sempat membantah, ia bukan pencuri. Namun, apa lacur, api segera mengepung tubuhnya. Siti Zubaedah, istri Zoya, tak percaya suaminya maling pengeras suara.

Zoya ialah seorang tukang servis elektronik dan jual beli amplifier bekas yang saban hari berkeliling Bekasi. Kesaksian Siti sejak ia menikah, tak pernah Zoya berbuat kriminal. Akan tetapi, lagi-lagi, pengadilan jalanan selalu menafikan pembelaan apa pun sebab siapa pun yang menjadi ‘terdakwa’ ia harus bersalah. Di negeri ini bukan kali ini saja pengadilan jalanan digelar dengan akhir vonis mati.

Berkali-kali ini kita membaca berita terduga pencuri, umumnya pencuri sepeda motor, dibakar massa. Kenapa Zoya kemudian juga dibakar, juga karena ada yang berteriak ia pencuri sepeda motor. Padahal, semula lelaki malang ini akan dibawa ke balai desa yang tak jauh lokasinya. Namun, teriakan 'pencuri sepeda motor' akhirnya menjadi dasar massa menghabisi Zoya di jalanan. Terlebih lagi, di daerah itu, pencurian sepeda motor kerap terjadi.

Belum lama berselang kendaraan bermotor roda dua hilang ketika pemiliknya tengah salat Isya. Maka, ada semacam kegeraman yang menggumpal untuk membuat perhitungan semaksimal mungkin ketika pelaku pencurian bisa ditangkap. Bulan Juli silam di Pamekasan, Madura, seorang yang diduga pencuri sepeda motor juga dibakar massa.

Video tindakan sadis itu diunggah ke Youtube. Dalam gambar hidup berdurasi 2 menit itu terlihat pria malang itu diinterogasi dengan posisi tangan terikat. Proses pembakaran itu memang tak terlihat. Namun, terlihat tubuh yang terbakar itu bergulung-gulung di tanah seraya mengerang kesakitan. Kita selalu gagal memahami bagaimana keberingasan membakar tubuh berulang-ulang terjadi untuk mereka yang belum tentu bersalah.

Inilah negara hukum dengan pengadilan jalanan yang tinggi jumlahnya. Berkali-kali setiap ada pengadilan jalanan yang mengerikan seperti itu, selalu ada imbauan agar massa tak main hakim sendiri. Namun, ‘main hakim sendiri’ rupanya menjadi kegemaran kita. Polisi beberapa kali bisa mencegah penghakiman massa, tetapi tidak sedikit yang lewat, termasuk Zoya. Pencurian kendaraan bermotor di Indonesia memang tinggi.

Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2015 pencurian kendaraan bermotor di Indonesia jumlahnya cukup tinggi, yakni 40 ribu kasus. Jawa Barat, Sumatra Utara, DKI Jakarta, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan merupakan lima provinsi dengan jumlah kasus pencurian kendaraan bermotor tertinggi. Akan tetapi, menghukum orang-orang yang belum tentu bersalah, terlebih dengan penghakiman massa yang sadis, jelas tindakan biadab.

Dalam sebuah bangsa yang religius, fakta ini jelas mencengangkan. Bukankah ada adagium hukum berkata, "Lebih baik membebaskan 1.000 orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah?" Organisasi Kesehatan Dunia pernah mengungkap, tak ada benua, negara, yang luput dari kekerasan. Bahkan, Jepang bangsa yang semula amat rendah tingkat kekerasannya juga tak terhindarkan. Benarkah kita mewarisi kebuasan primata? Padahal, umumnya primata bisa beringas karena kebutuhan fisik atau untuk membela diri. Akan tetapi, manusia membunuh untuk alasan-alasan yang kadang sulit dipahami. Kasus di Bekasi bisa jadi masuk kategori ini.

Untunglah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Bupati Purwakarta Deddy Mulyadi berkunjung ke kediaman almarhum Zoya. Kunjungan ini penting untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga korban. Tak seharusnya orang yang belum tentu bersalah dibunuh dengan keji. Mestinya Bupati Bekasi Neneng Hasanah yang paling awal memberikan simpati. Penghakiman masa dengan stigma pencuri pastilah menimbulkan luka ganda. Duka ditinggalkan yang mati dan luka hati dituduh pencuri. Karena itu, negara bertanggung jawab untuk melenyapkan pengadilan jalanan yang mengerikan itu.*



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima