Tak Biasa!

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
12/6/2015 00:00
Tak Biasa!
(ANTARA/R REKOTOMO)
SIMAKLAH dengan saksama komentar para 'komandan berwenang' TNI-Polri setiap terjadi bentrok antarmereka. Sangat khas. Saya kerap menyimak, kira-kira seperti ini, "Kami minta maaf. Biasa, itu terjadi karena kesalahpahaman darah muda. Kenakalan anak muda. Jangan dibesar-besarkan."

Kata, frasa, klausa, dan kalimat itu diproduksi dari mulut berbeda, tapi nadanya sama. Bahkan, intonasi dan ekspresi wajah sang 'komandan berwenang' ketika mengucapkan juga tak berbeda: tak bersalah. Seperti ada standar jawaban yang sama setiap bentrok antaraparat terjadi.

Saya kerap menunggu ada petinggi TNI-Polri yang berbeda nada. Misalnya bilang begini, "Kami minta maaf. Berulang kali bentrok seperti ini terjadi di antara kami. Ini memalukan. Tugas dan kehormatan tertinggi kami sebagai prajurit ialah menjaga kedaulatan negara. Bagi setiap prajurit, kemuliaan tertinggi ialah mati di medan laga. Bukan mati baku pukul dan baku tembak di antara kami sendiri, terlebih karena urusan pribadi. Kami, para atasan, memang bersalah dalam membina anak buah. Kami bertanggung jawab."

Namun, itu tak terjadi (atau saya tak mendengarnya?). Juga ketika para serdadu Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah, berduel dengan prajurit TNI-AU di sebuah kafe, akhir Mei silam. Seorang prajurit TNI-AU, Serma Zulkifli, menemu ajal. Daftar bentrok antara TNI dan Polri pun kian panjang. Sejak 2013 saja telah lima kali bentrok di antara mereka yang terekspose media massa. Umumnya dipicu masalah sepele.

Seperti yang saya duga, seorang menteri benar-benar bilang, "Itu kenakalan anak muda. Seperti kenakalan antara satpam dan FBR kemarin.Kebetulan ini tentara. Sama aja." Pak Menteri, adakah TNI, Polri, Satpam, dan FBR sama saja?

Tentara digaji negara, senjata dibeli uang rakyat, membunuh sesama tentara yang juga telah dilatih dengan biaya negara, itu soal 'biasa'? Soal 'darah muda'? Menjadi tentara, adakah bisa ditoleransi melakukan kriminal bersembunyi di balik laku 'anak muda' atau 'remaja'? Sungguh itu mereduksi profesinalitas TNI-Polri. Kalau begini logikanya, pantaslah bentrok antaraparat negara terus terjadi. Itu dimaklumi sebagai 'kenakalan anak muda'.

Saya masih ingat ketika mendiang Presiden Soeharto mewisuda para taruna ABRI (kini TNI) pada 1980-an, bilang seperti ini, "Tentara seperti kalian disiapkan untuk menghadapi hal-hal luar biasa (perang), sedangkan hal-hal biasa, itu tugas yang harus diemban sipil."

Karena itu, retorika standar setiap ada bentrok antaraparat seperti itu betul-betul merendahkan jiwa kesatria tentara. Bukankah tentara dididik dan dilatih mengendalikan emosi dengan standar tinggi karena mereka memegang senjata? Apakah standar disiplin seperti itu telah merapuh?

Kenapa di antara aparat negara, yang mestinya menjadi teladan disiplin, ruang syakwasangka justru diperluas dan ruang kebersamaan dipersempit? Selalu, setelah konflik, para pihak menyesali, tetapi masih berulang. Dalam syakwasangka kebenaran selalu menjadi korban pertama.

Dalam tarikan konflik yang lebih luas, manusia modern--termasuk TNI-Polri--apakah tengah dilanda 'kesepian jiwa', seperti kata filsuf Hannah Arend? Laku destruksi sering kali ditandai dengan mereka yang gagal 'berdialog' dengan dirinya sendiri. Ditambah, tak ada 'pembimbing dialog' yang dinilai punya perbawa. Baku bunuh antaraparat itu bukan soal biasa!

Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima