Penantian Novel Baswedan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/7/2017 05:31
Penantian Novel Baswedan
(MI/ROMMY PUJIANTO)

SUATU saat nanti korupsi mungkin jadi senyap di negeri ini. Namun, akan dikenang pula dengan segala ingatan ada seorang penyidik yang berani dalam pemberantasan korupsi, Novel Baswedan, dianiaya dengan durjana. Karena itu, Polri mesti meyakinkan diri bahwa Korps Bhayangkara jauh dari kehendak melindungi pelakunya sekalipun, misalnya, perwira berbintang terlibat.

Mata Novel bisa jadi tak lagi sempurna akibat siraman air keras seusai salat Subuh di masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April lalu. Kornea mata kirinya rusak parah. Adapun mata kanannya, baru sembuh sekitar 65%. Novel semula punya optimisme tinggi bahwa kepolisian bakal bernyali mengungkap dan memidanakan pelakunya.

Namun, dengan beberapa realitas yang ia hadapi, harapan dan keyakinannya pun mulai meluruh. Alasan pria kelahiran Semarang, 20 Juni 1977 itu, sudah tiga bulan setengah penyiraman terjadi, tetapi belum ada titik terang. Padahal, dalam menangani kasus-kasus yang lebih rumit, terorisme misalnya, Polri khususnya Densus 88 kerap amat cepat.

Sementara itu pada kasus dirinya, yang sudah berkali-kali mendapat ancaman, beberapa nama yang diduga pelaku juga kerap dilihat para saksi, seperti jalan di tempat. Menurut Polri, setiap kasus memang punya karakteristik. Ada yang cepat, sedang, dan lama, tergantung bagaimana proses lapangannya. Novel, seperti ia ceritakan pada acara Mata Najwa, mengaku kerap diikuti beberapa orang.

Beberapa saksi di sekitar rumahnya juga mengatakan ada beberapa orang yang datang dan menanyakan aktivitas Novel. Bahkan, beberapa kali orang berkendaraan secara sengaja menabrakkan diri pada Novel. Tak hanya para saksi yang melihat, dari rekaman CCTV diketahui pelaku kabur dengan sangat cepat dan tahu dengan baik arah jalan aman.

Polisi memang pernah menangkap dua orang yang diduga pelaku, Muchlis dan Hasan. Namun, mereka dilepas karena tak cukup bukti. Menurut Novel, sebagai penyidik KPK, terlebih dengan background sebagai perwira polisi, mengungkap penyiraman air keras terhadap dirinya tak terlalu pelik. Aktor intelektualnya pun bisa dicokok sebab Polri punya kemampuan.

Akan tetapi, soalnya ialah apakah mereka punya kemauan? Sebuah harapan yang kemudian disangsikan sendiri oleh Novel. Novel, seperti yang ia katakan kepada majalah Time edisi 13 Juni bulan lalu, semula tak memercayai ketika menerima informasi seorang jenderal di bekas intitusinya terlibat dalam kasus penyiraman air keras. "Saya katakan (kepada orang yang memberi informasi tersebut) perasaan saya mengatakan bahwa informasi itu betul," kata Novel.

Kecurigaan terhadap sang jenderal aktif Polri itu ia ungkapkan lagi di Mata Najwa. Di lembaga antirasywah, Novel memang banyak menangani kasus-kasus besar, termasuk mencokok dan membawa pulang Bendahara Partai Demokrat Mohammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Yang dianggap kurang ajar oleh sebagian orang ialah ketika menggeladah ruang Korlantas Polri dalam kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan Irjend Djoko Susilo.

Sebagai perwira menengah, Novel dinilai seperti menampar institusinya. Mereka lupa bahwa Novel sesungguhnya tengah menjalankan tugas dengan sepenuh tanggung jawab sebagai penyidik KPK. Lulusan Akademi Kepolisian 1998 ini tak pilih-pilih siapa yang harus dihadapi. Sebagai polisi, Novel justru tengah menunjukkan ia profesional. Ini justru untuk mengangkat muruah kepolisian juga.

Namun, Novel yang masuk KPK pada 2007 itu seperti terus diburu. Aneka teror pun seperti tak pernah sepi diterimanya. Pada 2013 ia keluar dari Polri dan sepenuhnya menjadi penyidik KPK. Memang Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah berjanji kepada Novel akan menuntaskan kasus yang menimpanya. Novel pernah pula menyampaikan kepada Tito bahwa sekaranglah momen terbaik untuk benah-benah di tubuh Polri.

Tidak hanya harapan publik amat tinggi kepada Tito ketika baru diangkat memimpin kepolisian, tetapi ini memang perintah Presiden untuk mengusut tuntas teror yang menimpa penyidik KPK yang bekerja penuh kesungguhan itu. Bisa jadi, Tito tengah berstrategi, berkalkulasi, menghitung 'untung-rugi' dalam kasus Novel. Bisa jadi akan ada sedikit gejolak, tetapi seterusnya ia sehat bagi kepolisian dan bagi bangsa ini.

Sebaliknya, jika itu ditutup-tutupi, kepolisian akan rugi sendiri. Ia akan menjadi utang Tito Karnavian. Entah sampai kapan. Meskipun Novel, yang juga cucu pejuang kemerdekaan AR Baswedan, tak lagi yakin Polri bisa menuntaskan kasusnya, saya tetap menaruh harapan pada Tito.

Dalam kalkulasi saya, ia tak akan mengabaikan perintah Presiden Joko Widodo. Juga tak akan membiarkan namanya cemar karena tak berani mengungkap teror terhadap Novel.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima