Lebih Percaya Buaya atau Hantu

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
27/7/2017 05:31
Lebih Percaya Buaya atau Hantu
(MI/ROMMY PUJIANTO)

TERUS terang saya suka dengan 'imajinasi' Kepala BNN Komjen Budi Waseso tentang penjara yang tak mempan disogok pengedar narkoba. Penjara itu dikelilingi kolam yang berisi 'sipir' piranha atau buaya. Baru kemudian dijaga manusia. Buaya sebagai sipir lebih bisa dipercaya ketimbang manusia. Buaya tidak bisa diajak kompromi. Buaya tidak bisa diajak kerja sama oleh pengedar narkoba. Tidak bisa disogok.

Sang jenderal kesal karena begitu buruknya integritas sipir. Mereka bisa dibeli dengan uang hasil perdagangan gelap narkoba. Magnitude-nya dramatis, 50% peredaran narkoba di Indonesia dikendalikan dari balik jeruji besi. Menurut sang jenderal, selama ini sipir-sipir berengsek itu selamat. Bukan pernyataan hampa. Lebih dari 10 tahun lalu, melalui investigative reporting, dua reporter perempuan harian ini telah membongkar perihal transaksi narkoba di LP Cipinang.

Namun, baru di masa Komjen Budi Waseso sebagai Kepala BNN perdagangan narkoba di penjara mendapat perhatian dan tindakan keras. "Sekarang, saya kejar terus," katanya. Selain mengusulkan buaya sebagai sipir, Kepala BNN itu memberi alternatif hantu sebagai penjaga penjara. Seperti buaya, kayaknya 'makhluk halus' pun tak bisa disogok.

Kecuali di penjara ada yang berkeahlian pawang buaya sekaligus pawang hantu sehingga kedua makhluk itu dibikin tak berkutik menghadapi peredaran narkoba yang dikendalikan dari penjara. Penjara merupakan arena sangat tertutup dan terjaga ketat. Itu prinsip pokok. Bahwa di situ sampai 'melembaga' transaksi narkoba puluhan tahun kiranya menunjukkan betapa korupnya aparatur negara yang bertugas di situ.

Narkoba barang jahat, tapi uangnya rupanya terasa enak sekali dalam kehidupan (oknum) sipir sehingga kejahatan di penjara terbungkus sangat rapi. Narkoba mesin penghasil uang. Ia bahkan modus pencucian uang yang kiranya tak terdeteksi PPATK. Bukan mengada-ada menduga berbagai penjara berfungsi sebagai sentra-sentra pencucian uang, sedemikian rupa sampai-sampai 50% peredaran narkoba bisa disetir dari balik tembok penjara.

Tidak berlebihan mengatakan penjara bukan bagian solusi persoalan sehingga disebut 'lembaga pemasyarakatan'. Itu 'lembaga persoalan', tempat kian melembaganya kejahatan. Selain kejahatan narkoba, di situ terhimpun 'perlawanan' beramai-ramai menjebol penjara.

Penjebolan penjara berulang terjadi dan berulang pula kepala penjara seketika dicopot dari jabatannya. Akan tetapi, hukuman itu semata penghakiman untuk person, kepala penjara, tidak menyentuh persoalan sistemis yang 'hidup' di penjara, yaitu berbagai komodifikasi/monetisasi rupa-rupa jasa dalam penjara mulai kemudahan menjenguk, ekstra fasilitas untuk orang-orang istimewa, sampai terbukanya kesempatan berkomunikasi melalui telepon seluler dengan menyogok.

Kemudahan berkomunikasi digital dengan dunia luar itu tentu termasuk dengan jejaring narkoba. Dalam perkara itu sesungguhnya mereka seperti manusia bebas. Hemat saya, sepanjang terpidana narkoba dapat berponsel, sepanjang itu transaksi narkoba kiranya tak bisa diberantas. Tak bisa, sekalipun buaya dan hantu tak mempan disogok. Mereka tak paham ber-WA atau berinternet.

Buaya dan hantu lebih dipercaya sebagai sipir ketimbang manusia merupakan kritik keras. Ekspresi kekesalan Komjen Budi Waseso itu mestinya melecut Dirjen Lembaga Pemasyarakatan untuk tuntas membereskan dan membersihkan penjara. Jika di penjara yang terkurung tembok tinggi narkoba tak bisa diberantas, apalagi di tengah masyarakat yang terbuka.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima