Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WAJARLAH jika Ikatan Sarjana Teknik Mesin dan Industri sampai merasa prihatin. Sejak era reformasi kontribusi industri kepada produk domestik bruto selalu di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi. Sejak sembilan tahun terakhir, industri bahkan selalu mengalami defisit. Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai mengalami kekurangan jumlah insinyur.
Menjadi insinyur ternyata tidak lagi memberi kebanggaan. Padahal, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan saja digambarkan cita-cita seorang Doel ialah menjadi 'tukang insinyur'. Insinyur ialah gambaran seorang sarjana yang mampu membangun negara ini menjadi maju dan modern.Dalam perjalanan 72 tahun Republik ini, hanya sekitar 10 tahun kita bersungguh-sungguh membangun industri.
Di era Presiden Soeharto, negara hadir untuk mendorong tumbuhnya industri nasional. Pada 1988 kita bergegas untuk membangun industri manufaktur. Hasilnya luar biasa karena 10 tahun kemudian kita sempat dijuluki sebagai 'negara industri baru'. Sayang, krisis keuangan melanda Asia Timur dan demokrasi mulai menjadi fenomena global. Kita terkena imbasnya sehingga bangunan industri yang sudah dengan susah payah dibangun ikut runtuh.
Era reformasi seharusnya mengoreksi kekurangan yang ada pada Orde Baru. Ternyata reformasi yang sudah hampir dua dekade kita jalani hanya melahirkan pragmatisme. Orang berlomba menikmati gaya hidup serbawah, tetapi lupa untuk menanamkan disiplin dan etos kerja. Saat menyampaikan kuliah umum pada pembukaan Akademi Bela Negara, Presiden Joko Widodo menggarisbawahi persoalan rendahnya disiplin dan etos kerja itu.
Paling mudah lihat di jalan raya, ketika semua orang seenaknya melanggar aturan lalu lintas. Kita tidak merasa bersalah ketika melawan arus. Bahkan ketika pengendara sepeda motor diingatkan untuk tidak melewati trotoar, malah pengendara itu yang marah-marah. Kita harus menyadari, dunia terus bergerak ke arah kemajuan. Revolusi yang dihadapi umat manusia sudah sampai tahapan keempat, yakni dari revolusi hijau, revolusi industri, revolusi teknologi informasi, dan yang akan datang revolusi industri 4.0.
Pada bangsa-bangsa lain, tahapan revolusi itu mendorong terjadinya transformasi. Yang sangat dirasakan ialah lahirnya disiplin, etos kerja tinggi, dan sikap pantang menyerah. Dari sanalah kemudian dihasilkan yang namanya produksi dan bahkan kemudian direproduksi. Kita tidak akan bisa sejajar dengan bangsa lain kalau tidak mempunyai disiplin, etos kerja, dan menghasilkan produk made in Indonesia.
Sekarang ini orang enggan menjadi industriawan karena lama dan lebih banyak repotnya. Kita cenderung mau gaji besar, tetapi malas dalam bekerja. Buruh lebih banyak demonya daripada kerjanya. Sepanjang orang lebih suka menjadi pedagang daripada menjadi industriawan, dampaknya jumlah angkatan kerja tidak pernah bisa tertampung. Tiga persoalan besar yang dihadapi bangsa ini, yakni kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan, akan terus menjadi masalah besar bangsa.
Jawaban dari semua itu, kita harus kembali ke jalan yang dulu dilakukan Presiden Soeharto. Negara harus memberikan pemihakan kepada tumbuhnya sektor industri. Barang-barang yang bisa dibuat di dalam negeri harus diprioritaskan dari dalam negeri. Istilah yang dipakai Presiden BJ Habibie, ketika kita menggunakan barang impor, sebenarnya kita sedang memberikan pekerjaan dan nilai tambah kepada bangsa lain.
Belajar dari pengalaman Orde Baru, sekarang kita tentu tidak harus memberikan proteksi. Seperti bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok ketika awal membangun industri, cukup dengan mengajak masyarakat menjadi pemakai produk bangsa sendiri. Sampai sekarang 55% produk Jepang, konsumennya bangsa Jepang sendiri, baru sisanya mereka ekspor.
Sekarang Tiongkok menjelma menjadi kekuatan industri baru karena menerapkan konsep seperti itu. Menurut dosen Penn State University, Jeff Willerstein, Tiongkok bisa lebih cepat menguasai teknologi dari AS karena berani mencoba. Mereka bahkan lebih unggul dalam membuat kereta cepat daripada negara lain karena produk mereka diuji pada kondisi lingkungan yang ekstrem. Mulai yang paling dingin di Harbin, paling panas di Gurun Gobi, angin topan di Pulau Hainan, hingga terowongan paling panjang di Guangzhou.
Sementara itu, kita tidak pernah berani memberikan kepercayaan kepada putra-putra bangsa untuk menunjukkan karya. Bahkan untuk membuat cangkul saja yang paling sederhana, produk bangsa sendiri dikalahkan produk impor hanya karena dianggap lebih murah. Kesadaran untuk melakukan reindustrialisasi perlu kita hidupkan. Mulai dengan yang memang menjadi kekuatan kita seperti pertanian dan perikanan. Kita dorong industri manufaktur berbasis sumber daya alam yang kita miliki. Kalau ada peta jalan dan kemauan, kita pasti bisa karena kita pernah membuktikan bisa melakukan transformasi besar.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved