Ivan dan Boris

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/7/2017 05:03
Ivan dan Boris
(Ilustrasi)

INI sebuah canda ala Rusia di zaman lama.

Tersebutlah seorang bernama Ivan yang iri terhadap Boris, tetangganya, yang mempunyai seekor kambing.

Datanglah seorang peri dan menawarkan sebuah permohonan pada Ivan.

"Apa yang hendak kau minta, Ivan?" Ivan pun dengan spontan menjawab, "Matinya kambing si Boris." Kenapa tak meminta lima atau 10 kambing?

David Landes dalam buku Kebangkitan Peran Budaya (2006) mengangkat cerita itu kembali untuk mengingatkan betapa budaya mempunyai peran besar terhadap kemakmuran.

Contoh di Rusia, dengan jawaban Boris, yang justru tak meminta kambing lebih banyak, justru berharap 'matinya kambing si Boris', menggambarkan betapa kemiskinan bersama dinilai lebih mulia.

Rusia (dulu Uni Soviet) yang 75 tahun antipasar karena hidup di bawah telunjuk pemerintah jauh lebih aman.

Namun, ambruknya marxisme membuat kegiatan bisnis bergegas.

Di Thailand dulu para pemuda biasa bertahun-tahun menghabiskan waktu di kuil-kuil Buddha. Ini periode untuk melatih semangat dan batin.

Sekarang 'Negeri Gajah' ini bergerak lebih cepat, olah batin tetap dilakukan, tetapi tak lagi harus bertahun-tahun.

Penghormatan kepada raja terus dijaga, tetapi etos kerja terus digenjot.

Ekonomi pun terus dipacu. Dalam perhelatan SEA Games, Thailand kian tak tertandingi.

Tiongkok, yang berpuluh tahun tak produktif karena pandangan mencari uang ialah hinaan, dalam tiga dasawarsa terakhir telah menggeliat.

Setelah diaspora mereka di luar negeri sukses secara ekonomi, 'naga-naga' Konghucu dari Dunia Ketiga itu pun bergerak menuju Dunia Pertama.

Padahal, semula banyak orang tak percaya. 'Negeri Tirai Bambu' yang dulu rendah kepercayaan antarmasyarakatnya kini tengah mengibarkan bendera tinggi-tinggi untuk menjadi pemain utama dunia.

Dalam Asian Games, negeri ini kian superior di Asia, bahkan juga di dunia.

Thailand, Rusia, Tiongkok, semula tak teramalkan. Berbeda dengan Jepang dan Jerman.

Dua negara itu sudah bisa dinubuatkan, akan bangkit dan berlari cepat seusai Perang Dunia II yang menghancurkan.

Restorasi Meiji pertengahan abad 19 yang mengakhiri kekuasaan Tokugawa; memilih restorasi dan bukan revolusi ialah mekanisme pergantian rezim yang tak habis-habisan penuh darah seperti Prancis dan Rusia.

Mereka memutuskan belajar teknologi Eropa, tetapi Jerman dinilai bangsa yang lebih banyak punya keunggulan untuk dipelajari.

Ada semacam sumpah di dada, "Suatu saat kami punya apa yang kalian punya!"

Tingkat pendidikan yang tinggi, tradisi pemerintahan yang efektif, hubungan keluarga yang erat, kerja keras, disiplin, identitas nasional yang tetap melekat, dan budaya unggul yang tetap terpatri, menjadi modal bangkit dari kehancuran perang dunia.

Simbol-simbol persatuan dan gagasan-gagasan nasional pun terus dikembangkan.

Tak ada nasionalisme hanya bermodalkan mimpi!

Nubuat untuk Jepang dan Jerman, kata Landes, juga bisa juga berlaku untuk Korea Selatan versus Turki, dan Indonesia versus Nigeria.

Seperti diramalkan oleh ahli ekonomi Jim O'Neill beberapa tahun lalu, Meksiko, Indonesia, Nigeria dan Turki--disingkat MINT--memiliki potensi untuk menjadi raksasa ekonomi dunia di masa depan.

Ekonom kelahiran Inggris itu pada 2001 juga membuat istilah BRIC (Brasil, Rusia, India, China) yang saat itu diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi masa depan.

Kita tengok sejarah, ketika pada 1958 Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games IV 1962, surat kabar Singapura The Straits Times, menulis dengan sinis: 'Lonceng Kematian Asian Games telah Berbunyi di Jakarta'.

Waktu itu Jakarta memang papa, hanya Stadion Ikada dan dua hotel sederhana. Dalam waktu yang tak lama, berdirilah Gelanggang Olahraga Bung Karno nan megah, Hotel Indonesia yang mentereng, dan fasilitas pendukung yang lengkap. Sarana komunikasi pun siap mewartakan ke seluruh dunia.

Proyek raksasa itu mengerahkan 14 insinyur terbaik Indonesia, 12 ribu pekerja dari kalangan sipil, militer, dan bahkan tukang becak.

Beberapa di antaranya tak mau dibayar.

Orang-orang Betawi yang bermukim di sekitar Senayan rela memberikan tanah mereka demi kehormatan bangsa.

Pada 1962 perhelatan olahraga terbesar di Asia itu pun digelar.

Indonesia keluar sebagai juara kedua dengan 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu.

Prestasi yang tak bisa diraih kembali!

Kini, kita seperti tak menyadari potensi besar yang kita miliki.

Dalam menyikapi banyak hal kita seperti tetap terbelah dalam bingkai 'kubu sini' dan 'kubu sana'.

Cerita ahli telematika Hermansyah yang dianiaya di Tol Jagorawi telah berkembang liar sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Dalam sebuah acara di televisi Hermansyah pernah mengatakan chat mesum Rizieq Shihab-Firza Husein ialah palsu.

Para pendukung Rizieq pun ada yang memastikan, pelaku pembacokan ialah musuh Rizieq.

Yang anti pun berharap itu murni kriminal.

Padahal, pelaku kejahatan itu bisa siapa saja, baik pendukung maupun anti-Rizieq.

Kini, apa pun persoalannya seperti hanya dilihat dua sudut pandang itu.

Memuji sebuah prestasi, mengucapkan duka atas sebuah kemalangan, bersimpati atau membenci, menolong atau sebaliknya, agaknya selalu dilihat dulu siapa mereka.

Kita seperti kehilangan perasaan sesama saudara, sebangsa.

Kita harus cemas jika cerita Ivan dan Boris ala Rusia yang sudah usang itu justru baru kita mulai, yakni spirit miskin bersama.

Keterbelahan dan hilangnya sikap objektif, merasa kelompoknya yang paling benar, sesungguhnya juga setali tiga uang dengan cerita Ivan dan Boris itu.

Kita hanya sibuk mengembangkan prasangka.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.