Mengejar Infrastruktur

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/7/2017 05:31
Mengejar Infrastruktur
((AP Photo/Kin Cheung))

PRESENTASI pendiri Ali Baba, Jack Ma, tentang perkembangan Tiongkok menarik untuk disimak. Ia memulai presentasi dengan menggambarkan perkembangan Kota Shanghai mulai 1990 hingga sekarang ini. Dari sudut pengambilan foto yang sama, kita bisa melihat perubahan yang luar biasa dari kota itu selama hampir 30 tahun terakhir.

Shanghai 30 tahun lalu masih merupakan kota tradisional. Sungai Huangpu yang membelah Kota Shanghai begitu kotor. Sama seperti kita di sini, sungai dianggap sebagai tempat pembuangan segala macam sampah dan kotoran. Pemerintah Kota Shanghai kemudian meminta bantuan Bank Dunia untuk menata kota mereka.

Bukan hanya sungainya yang dibenahi, melainkan sanitasi perumahan ikut ditata. Air buangan rumah tangga harus diolah terlebih dahulu sebelum bisa disalurkan ke Sungai Huangpu. Sekarang kita melihat Sungai Huangpu yang berbeda. Sungai itu kini menjadi salah satu andalan pariwisata Shanghai.

Orang pun berebut untuk bisa menikmati berselancar di sepanjang sungai sambil menyantap hidangan di atas kapal. Sejak Zhu Rongji menjadi Wali Kota Shanghai, cara pendekatan pembangunan yang dilakukan Shanghai memang berbeda. Apalagi Tiongkok sendiri membuka diri di zaman kepemimpinan Deng Xiaoping dengan menerapkan prinsip 'sistem politik sentralistis, tetapi ekonominya terbuka'.

Sejak awal 1990-an swasta bukan lagi dilihat sebagai hantu. Pengusaha justru diajak untuk bersama-sama membangun negeri. Pemerintah bertugas membuat regulasi, sedangkan eksekusi dilakukan swasta. Bahkan pemerintah tidak segan untuk turun tangan ketika swasta menghadapi masalah.

Direktur Sinar Mas Muchtar Widjaja pernah mempunyai pengalaman ketika membangun hotel di kawasan The Bund, Shanghai. Krisis keuangan yang melanda Asia Timur pada 1997 sempat membuat Sinar Mas tidak bisa menyelesaikan pembangunan hotelnya. Setelah proyek terlihat terbengkalai, Muchtar dipanggil Wali Kota Shanghai untuk menanyakan persoalan yang dihadapi.

Ketika dijelaskan soal keterbatasan likuiditas yang dihadapi, Wali Kota Shanghai menanyakan, bantuan apa yang bisa diberikan pemerintah kota. Luar biasa, Wali Kota Shanghai kemudian menyetujui untuk mengembalikan berbagai pajak yang sudah dibayarkan Sinar Mas guna dijadikan modal terlebih dahulu. Kelak kalau hotel sudah selesai terbangun dan beroperasi baik, pajak itu diminta dibayarkan kembali ke pemerintah kota.

Bayangkan kepada pengusaha asing saja pemerintah Shanghai bisa begitu luwes untuk menerapkan aturan, bagaimana lalu kepada pengusaha dalam negeri? Tidak usah heran apabila Tiongkok kini telah menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia karena mereka menyinergikan seluruh kekuatan yang ada untuk memajukan negeri.

Demikian pula ketika mereka hendak membangun infrastruktur di seluruh negeri. Tiongkok ketika mulai membuka diri sebenarnya tidak punya modal sama sekali. Mereka terpaksa meminjam uang ke Bank Dunia untuk membangun Kota Shanghai misalnya. Namun, itu pun tidak cukup untuk mengatasi ketertinggalan infrastruktur yang dihadapi.

Meski terbatas dalam kapital, menurut pengusaha Mochtar Riady, pemerintah Tiongkok sadar bahwa negara mempunyai modal sumber daya. Oleh karena itu, ketika pemerintah hendak membangun infrastruktur, swasta ditawari untuk mengembangkan properti di daerah dekat infrastruktur yang hendak dibangun. Namun, syaratnya swasta harus mendanai pembangunan infrastrukturnya juga.

Jalan, pelabuhan, bahkan bandar udara banyak dibangun dengan model seperti itu. Tidak usah heran apabila dalam 30 tahun, Tiongkok bisa membangun infrastruktur dengan begitu pesat di seluruh pelosok negerinya. Anggaran negara hanya dipakai untuk membangun infrastruktur yang tidak mungkin dilakukan swasta. Pelajaran penting yang bisa kita petik, yang kita perlukan ialah pemerintahan yang cerdik.

Seperti selalu dikatakan Deng Xiaoping, "Tidak peduli kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus." Kedua, pemerintah itu diperlukan untuk membuat regulasi yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang yang memang mau membangun negeri ini.

Pemerintah itu tidak boleh punya kepentingan pribadi ataupun kelompok pada saat membuat regulasi. Ketiga, pemerintah harus menjalankan kebijakan secara konsisten dan tidak korup. Ketika Zhu Rongji ditunjuk sebagai perdana menteri Tiongkok, yang ia pertama kali katakan: "Siapkan 100 peti mati, 99 untuk para pejabat yang korup dan satu untuk saya kalau kelak juga terbukti korup."



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima