Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANGSA ini boleh bermimpi dan bernubuat apa saja tentang negerinya, tetapi mari kita lihat dunia pendidikan kita, khususnya dunia pendidikan tinggi. Dari potret pendidikan inilah kita tahu mimpi itu sesungguhnya akan tetap menggantung di langit atau bisa menjadi kenyataan yang berjejak di bumi, termasuk berkah bonus demografi ketika usia angkatan kerja produktif mencapai 70% pada 2020-2030.
Mungkinkah berkah itu datang dengan pendidikan tinggi yang buruk? Mari kita lihat The World University Rankings yang dikeluarkan lembaga Times Higher Education. Pada 2016 perguruan tinggi di Asia, Indonesia setara dengan Bangladesh, Macao, Lebanon, Oman, Qatar, yang masing-masing hanya memiliki satu universitas yang masuk daftar 200 perguruan tinggi terkemuka Asia.
Kita di bawah Pakistan, negara yang yang seperti tak henti dilanda kekerasan. Kita sejajar dengan Lebanon, Macao, Oman, Qatar, penduduknya jauh di bawah kita. Tiongkok dan Jepang masing-masing mempunyai 39 buah universitas. Korea Selatan dan Taiwan masing-masing 24 universitas, India 16 universitas, dan Turki 11 universitas. Sementara itu, Iran, Thailand, Hong Kong, Israel, Malaysia, Arab Saudi, Pakistan, secara berurutan mempunyai 8 hingga dua universitas.
Singapura juga mempunyai dua universitas, tetapi Nasional University of Singapore menempati ranking pertama. Indonesia, yakni Universitas Indonesia, itu pun di posisi hampir buncit dari 200 universitas. Jika Taiwan dan Hong Kong menjadi bagian dari Tiongkok, negeri Tirai Bambu itu memiliki 69 universitas yang masuk daftar 200 universitas terbaik Asia. Wajar pula jika Tiongkok (plus Taiwan dan Hong Kong) dengan total 1,4 miliar jiwa, menuai berkah karena besarnya jumlah penduduk dengan menguasai produk industri dari perkakas rumah tangga hingga kereta api cepat.
Rahasia sukses itu, kata John Naisbitt dalam buku Global Paradox, yakni besarnya peran UKM dan bisnis swasta daerah yang disebut Township and Village Enterprises (TVEs) dalam menopang kekuatan ekspornya. Itu sebabnya, ketika krisis moneter terjadi di Asia pada 1997, dunia usaha Tiongkok tak terpengaruh. Indonesia dengan penduduk 250 juta jiwa mempunyai 4.350 perguruan tinggi, 370 di antaranya perguruan tinggi negeri.
Tiongkok dengan 1,4 miliar penduduk hanya mempunyai 2.824 PT, tetapi terbukti 69 universitas masuk daftar 200 universitas terbaik di Asia. Artinya, bukan soal kuantitas, melainkan soal kualitas. Indonesia yang sejak pemerintahan Joko Widodo mempunyai menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, seharusnya mulai ada gerak naik jika dibandingkan ketika pendidikan tinggi diurus pejabat sekelas dirjen. Dengan 370 jumlah perguruan tinggi negeri, Indonesia mempunyai sekitar 100.000 dosen, sementara perguruan tinggi swasta mempunyai sekitar 160.000 dosen.
Bagaimana mutu dosen? Dari jumlah itu ternyata hanya 12% hingga 14% yang bergelar doktor, sementara yang mencapai guru besar baru sekitar 5 ribu dosen. Kecilnya jumlah doktor berimplikasi pada kecilnya publikasi ilmiah. Seperti kerap diulas, Indonesia termasuk negara besar yang publikasi ilmiahnya di jurnal-jurnal internasional rendah. Kontribusi tahunan Scientist dan Scholars Indonesia pada pengetahuan, sains, dan teknologi hanya 0,012%.
Sementara di Amerika mencapi 20%. Tahun lalu Moch Faried Cahyono, seorang dosen dan peneliti Universitas Gadjah Mada, pernah mengulas kerja dosen di Indonesia yang identik dengan usia pendek. Ulasan ini muncul di blog yang bersangkutan. Faried mencatat di kampusnya dalam empat tahun terakhir telah kehilangan 60 dosen yang meninggal di bawah usia 60 tahun. Hanya empat dosen yang meninggal dengan usia di atas 60 tahun.
Kematian memang berkaitan dengan takdir, tetapi kematian jumlah dosen di bawah 60 tahun sungguh realitas yang harus dicermati serius. Jauh di usia harapan hidup Indonesia yang mencapai 67 tahun. Tulisan Moch Faried kini muncul lagi di grup-grup media sosial, sebagai sebuah warning betapa menjadi dosen bukanlah pekerjaan yang sehat. Bisa jadi kata Direktur Pascasarjana UGM, Irwan Abdullah, seperti dimuat dalam tulisan itu, bisa jadi karena para dosen harus bekerja ekstrakeras.
Dosen dengan gaji rendah harus mengajar, menulis laporan penelitian, menulis di jurnal ilmiah, dan bekerja yang sifatnya administratif yang dilakukan dalam ketergesaan. Sementara gaji dosen untuk di kota-kota besar umumnya habis dalam waktu seminggu. Pendidikan Indonesia yang menyedot 20 dana APBN ternyata belum berdampak signifikan bagi dunia pendidikan tinggi.
Juga keberadaan menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, belum terlalu terlihat perannya menaikkan mutu perguruan tinggi. Potret pendidikan tinggi seperti itu memang berat menjadi modal bagi bangsa ini untuk meraih mimpinya. Tak ada pilihan lain, harus pembenahan fundamental perguruan tinggi kita.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved