Wajah Pendidikan Tinggi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
07/7/2017 05:31
Wajah Pendidikan Tinggi
(Thinkstock)

BANGSA ini boleh bermimpi dan bernubuat apa saja tentang negerinya, tetapi mari kita lihat dunia pendidikan kita, khususnya dunia pendidikan tinggi. Dari potret pendidikan inilah kita tahu mimpi itu sesungguhnya akan tetap menggantung di langit atau bisa menjadi kenyataan yang berjejak di bumi, termasuk berkah bonus demografi ketika usia angkatan kerja produktif mencapai 70% pada 2020-2030.

Mungkinkah berkah itu datang dengan pendidikan tinggi yang buruk? Mari kita lihat The World University Rankings yang dikeluarkan lembaga Times Higher Education. Pada 2016 perguruan tinggi di Asia, Indonesia setara dengan Bangladesh, Macao, Lebanon, Oman, Qatar, yang masing-masing hanya memiliki satu universitas yang masuk daftar 200 perguruan tinggi terkemuka Asia.

Kita di bawah Pakistan, negara yang yang seperti tak henti dilanda kekerasan. Kita sejajar dengan Lebanon, Macao, Oman, Qatar, penduduknya jauh di bawah kita. Tiongkok dan Jepang masing-masing mempunyai 39 buah universitas. Korea Selatan dan Taiwan masing-masing 24 universitas, India 16 universitas, dan Turki 11 universitas. Sementara itu, Iran, Thailand, Hong Kong, Israel, Malaysia, Arab Saudi, Pakistan, secara berurutan mempunyai 8 hingga dua universitas.

Singapura juga mempunyai dua universitas, tetapi Nasional University of Singapore menempati ranking pertama. Indonesia, yakni Universitas Indonesia, itu pun di posisi hampir buncit dari 200 universitas. Jika Taiwan dan Hong Kong menjadi bagian dari Tiongkok, negeri Tirai Bambu itu memiliki 69 universitas yang masuk daftar 200 universitas terbaik Asia. Wajar pula jika Tiongkok (plus Taiwan dan Hong Kong) dengan total 1,4 miliar jiwa, menuai berkah karena besarnya jumlah penduduk dengan menguasai produk industri dari perkakas rumah tangga hingga kereta api cepat.

Rahasia sukses itu, kata John Naisbitt dalam buku Global Paradox, yakni besarnya peran UKM dan bisnis swasta daerah yang disebut Township and Village Enterprises (TVEs) dalam menopang kekuatan ekspornya. Itu sebabnya, ketika krisis moneter terjadi di Asia pada 1997, dunia usaha Tiongkok tak terpengaruh. Indonesia dengan penduduk 250 juta jiwa mempunyai 4.350 perguruan tinggi, 370 di antaranya perguruan tinggi negeri.

Tiongkok dengan 1,4 miliar penduduk hanya mempunyai 2.824 PT, tetapi terbukti 69 universitas masuk daftar 200 universitas terbaik di Asia. Artinya, bukan soal kuantitas, melainkan soal kualitas. Indonesia yang sejak pemerintahan Joko Widodo mempunyai menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, seharusnya mulai ada gerak naik jika dibandingkan ketika pendidikan tinggi diurus pejabat sekelas dirjen. Dengan 370 jumlah perguruan tinggi negeri, Indonesia mempunyai sekitar 100.000 dosen, sementara perguruan tinggi swasta mempunyai sekitar 160.000 dosen.

Bagaimana mutu dosen? Dari jumlah itu ternyata hanya 12% hingga 14% yang bergelar doktor, sementara yang mencapai guru besar baru sekitar 5 ribu dosen. Kecilnya jumlah doktor berimplikasi pada kecilnya publikasi ilmiah. Seperti kerap diulas, Indonesia termasuk negara besar yang publikasi ilmiahnya di jurnal-jurnal internasional rendah. Kontribusi tahunan Scientist dan Scholars Indonesia pada pengetahuan, sains, dan teknologi hanya 0,012%.

Sementara di Amerika mencapi 20%. Tahun lalu Moch Faried Cahyono, seorang dosen dan peneliti Universitas Gadjah Mada, pernah mengulas kerja dosen di Indonesia yang identik dengan usia pendek. Ulasan ini muncul di blog yang bersangkutan. Faried mencatat di kampusnya dalam empat tahun terakhir telah kehilangan 60 dosen yang meninggal di bawah usia 60 tahun. Hanya empat dosen yang meninggal dengan usia di atas 60 tahun.

Kematian memang berkaitan dengan takdir, tetapi kematian jumlah dosen di bawah 60 tahun sungguh realitas yang harus dicermati serius. Jauh di usia harapan hidup Indonesia yang mencapai 67 tahun. Tulisan Moch Faried kini muncul lagi di grup-grup media sosial, sebagai sebuah warning betapa menjadi dosen bukanlah pekerjaan yang sehat. Bisa jadi kata Direktur Pascasarjana UGM, Irwan Abdullah, seperti dimuat dalam tulisan itu, bisa jadi karena para dosen harus bekerja ekstrakeras.

Dosen dengan gaji rendah harus mengajar, menulis laporan penelitian, menulis di jurnal ilmiah, dan bekerja yang sifatnya administratif yang dilakukan dalam ketergesaan. Sementara gaji dosen untuk di kota-kota besar umumnya habis dalam waktu seminggu. Pendidikan Indonesia yang menyedot 20 dana APBN ternyata belum berdampak signifikan bagi dunia pendidikan tinggi.

Juga keberadaan menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, belum terlalu terlihat perannya menaikkan mutu perguruan tinggi. Potret pendidikan tinggi seperti itu memang berat menjadi modal bagi bangsa ini untuk meraih mimpinya. Tak ada pilihan lain, harus pembenahan fundamental perguruan tinggi kita.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima