Tak Bergantung Tamu

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
04/7/2017 05:01
Tak Bergantung Tamu
(AFP)

KITA bangsa yang suka menunggu ‘tamu’, lalu kepadanya kita bergantung. Siapa pun kini yang menjadi tamu kita selalu ditunggu: apa yang dikatakan apa yang dilakukan, akan jadi rebutan, akan jadi rujukan. Sementara itu, di dalam kita saling menghantam. Inilah mental ‘xenomania’ yang belum sembuh-sembuh juga.

Begitulah kita. Untuk kese­kian kalinya kita memuji Barack Obama, yang menyadarkan kita betapa keberagaman adalah takdir kita, bahwa toleransi sejarah kita, kepadanya kita becermin. Ia menunjuk fakta yang amat nyata bahwa Borobudur adalah candi umat Buddha dan Prambanan simbol religiositas umat Hindu. Namun, kedua candi itu hingga kini tetap tegak berdiri dan terawat, di tengah mayoritas penduduk muslim.

“Hal itu (toleransi) diabadikan dalam konstitusi, saling menghargai dalam harmoni,” kata Presiden Ke-44 Amerika Serikat itu, Sabtu pekan lalu. Obama menjadi pembicara utama dalam Kongres Ke-4 Diaspora Indonesia yang diadakan di Jakarta. Inilah negeri Asia pertama yang dikunjungi Obama sejak pensiun sebagai presiden Januari 2017.

Tak terlalu salah juga jika ada yang menafsirkan pidato Obama seperti ini, jangan ajari muslim Indonesia soal tole­ransi! Karena toleransi telah menginternalisasi dalam darah, dalam aorta tubuh-tubuh manusia Indonesia. Tentu ada pula yang menjadikan ucapan Obama sebagai ‘tempat terlindung’ mereka yang selama ini diposisikan sebagai pihak yang kurang toleran.

Maka, bagi mereka yang ‘diuntungkan’ apa yang diucapkan Obama, ramai-ramai memberi konteks sesuai dengan keinginan kelompoknya. Kelompok yang lain juga memberi konteks sesuai dengan kepentingannya.

Obama yang ketika kanak-kanak bersekolah di Indonesia, berayah tiri orang Indonesia, merasakan hidup dengan segala problem Indonesia, pastilah terpatri pada memorinya dengan segala pengalaman. Darah yang mengalir dalam tubuhnya antara Kenya dan Amerika, agama yang dianut orangtuanya yakni muslim dan nonmuslim, kulit hitam dan kulit putih, geografi yang pernah ditinggali yakni Indonesia dan Amerika, jadi fondasi yang kukuh tentang visi dan laku hidup bersama dalam masyarakat yang beragam. Dengan fondasi keberagaman seperti itu, terlebih pernah menjadi presiden Amerika Serikat, Obama menjadi tokoh yang paling punya legitimasi dan otoritas untuk bicara keberagaman.

Obama tak hanya memberi garis bawah soal toleransi, tapi selama sepekan jelas ia juga telah menjadi ‘PR’ Indonesia, khususnya dunia wisata di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Sebagai tokoh dunia yang masih punya pesona, semua ‘bekas’ Obama di Indonesia: objek wisata yang dikunjungi, hotel tempat menginap, makanan yang dikudap, dinubuat akan menimbulkan efek ekonomi.

Maret yang lalu, selama sepekan, Raja Salman dari Arab Saudi juga berlibur di Bali setelah beberapa hari melakukan kunjungan resmi di Jakarta. Raja negeri kaya minyak itu juga memuji semangat toleransi keberagaman di Indonesia. Karena itu, Saudi sepakat mendorong dialog di antara umat beragama. Kunjungan Salman juga menjadi ajang ‘rebutan kedekatan’. Bahkan, siapa yang berfoto dan tak berfoto dengan Raja, ramai dibincangkan.

Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Pence yang berkunjung ke Indonesia bulan berikutnya setelah Raja Salman merasa amat tersanjung melihat berbagai penyambut­an untuk dirinya. Pence amat menikmati dan memuji toleransi di Indonesia.

Selain Raja Salman, Barack Obama, tokoh penting yang berlibur di Pulau Dewata ialah juga Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Berliburnya tokoh-tokoh penting itu jelas memberikan promosi gratis. Liputan media jelas hikmah kunjungan/berliburnya orang-orang penting itu. Namun, promosi gratis itu jadi sia-sia jika kita yang di dalam tak berjibaku untuk maju.

Berkali-kali Indonesia kedatangan para tamu. Tak terhingga pula kita dipuji. Mereka tentu penting sebagai penyemangat, sebagai pengingat. Namun, sesungguhnya sang pemilik rumah ialah kita bangsa Indonesia. Karena itu, alangkah aneh, kita kerap ‘memperebutkan’ tamu dan menyanjungnya tinggi-tinggi, tapi saling tak percaya di antara kita; saling menghabisi di antara kita.

Kita lupa bahwa kitalah penentu utama maju dan mundurnya negeri ini, bukan para tamu itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.