Setelah Lebaran

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
01/7/2017 05:31
Setelah Lebaran
(MI/M Irfan)

KITA pantas bersyukur perayaan Idul Fitri berjalan dengan baik. Kita pantas mengapresiasi kerja Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kepala Kepolisian Republik Indonesia yang mampu menyiapkan jalur mudik dengan begitu baik sehingga warga bisa sampai kampung halaman tepat waktu. Tentunya apresiasi juga kita pantas sampaikan kepada Menteri Perdagangan yang mampu mengendalikan harga bahan pokok sehingga tidak bergejolak dan tidak menyulitkan ibu-ibu rumah tangga.

Itulah yang membuat warga bisa merayakan Lebaran dengan lebih bermakna. Namun, tugas kita tidak hanya berhenti pada Lebaran. Pekerjaan rumah lebih berat sudah mengadang, yakni bagaimana membuat perekonomian bisa menggeliat dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi. Indikator ekonomi pada masa Lebaran kali ini tidak cukup menggembirakan.

Belanja masyarakat untuk kebutuhan Idul Fitri cenderung menurun. Omzet para pedagang ritel mengalami kelesuan parah. Belum pernah daya beli masyarakat pada Lebaran serendah seperti sekarang ini. Kita menghadapi persoalan di sisi mikro. Sepertinya ada sesuatu yang menyumbat perekonomian kita. Padahal, indikator makro menunjukkan hal positif, mulai cadangan devisa, nilai tukar, tingkat inflasi, hingga tingkat suku bunga acuan.

Tugas kita sekarang ialah menarik sumbatan itu. Memang sumbatan yang ada lebih bersifat psikologis. Masih ada keraguan dari masyarakat untuk membelanjakan dana yang mereka miliki. Padahal, belanja masyarakat merupakan pelumas pergerakan perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik memperkuat adanya persoalan pada belanja masyarakat.

Di saat konsumsi pemerintah tumbuh 2,71% (yoy) pada kuartal I 2017, investasi tumbuh 4,81% dan ekspor tumbuh 8%, sedangkan konsumsi rumah tangga menurun dari 4,99% pada kuartal IV 2016 menjadi 4,93% pada kuartal I 2017. Berdasarkan temuan para pengusaha, faktor psikologis yang membuat masyarakat berhati-hati dalam membelanjakan uang ialah aturan perpajakan.

Pihak pabrikan hanya bisa mendistribusikan barang kepada pengusaha kena pajak. Kalau mereka melanggar, pihak pabrikan akan dikenai sanksi. Hal lain ialah aturan perpajakan yang berubah-ubah. Sebagai bagian dari tukar-menukar informasi perpajakan, pemerintah sempat mengeluarkan aturan untuk membuka data keuangan di perbankan sampai Rp200 juta.

Peraturan itu hanya berlaku satu hari untuk perubahan batasan menjadi Rp1 miliar. Sama dengan aturan sebelumnya yang mengharuskan perbankan melaporkan transaksi kartu kredit, peraturan terakhir itu membuat warga khawatir laporan pajak mereka akan diutak-atik. Menteri Keuangan berulang kali menyampaikan warga yang sudah membayar pajak dengan baik tidak perlu takut.

Namun, bagi masyarakat, pajak tidak bedanya dengan polisi, yaitu orang bisa tiba-tiba dinyatakan bersalah atas sesuatu yang tidak mereka pahami. Kita memahami pemerintah dihadapkan pada persoalan penerimaan negara saat mereka sedang berambisi mendorong pembangunan infrastruktur. Namun, sekarang ini kita dihadapkan pada kondisi antara 'ayam dan telur'.

Pemerintah tinggal memilih mendahulukan penerimaan negara dengan konsekuensi belanja masyarakat melemah seperti sekarang ataukah membiarkan terlebih dahulu perekonomian menggeliat baru pemerintah menarik pajak. Seharusnya pemerintah memilih yang kedua karena kontributor utama pertumbuhan ekonomi kita ialah konsumsi rumah tangga.

Sepanjang konsumsi tidak meningkat, kegiatan industri dan perdagangan pasti akan terpuruk. Ketika perdagangan dan industri tidak bergerak, penerimaan negara pun pasti akan terpengaruh karena penyumbang terbesar penerimaan negara ialah korporasi. Pada Juli ini pemerintah akan memberikan gaji ke-13 kepada aparatur sipil negara. Ini sebenarnya bisa menjadi stimulus bagi perekonomian yang sedang melesu.

Kalau pemerintah cerdas, penggelontoran gaji ke-13 nilainya lebih dari Rp9 triliun akan bisa menjadi pendobrak sumbatan ekonomi yang ada. Situasi seperti sekarang lebih membutuhkan pendekatan kreatif daripada sekadar text book. Apalagi, kita sedang dihadapkan pada situasi yang anomali. Ibaratnya kita tidak mampu memanfaatkan dana melimpah yang dimiliki.

Apabila kurva pertumbuhan ekonomi kita tahun lalu ibarat huruf A, tahun ini kita berharap kurvanya bisa menyerupai huruf V. Jangan sampai karena kita tidak kreatif, yang terjadi malah huruf U, amit-amit bahkan menjadi seperti huruf L.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima