Guru

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/6/2015 00:00
Guru
(Grafis/SENO)
SUATU saat kelak kita ingin berbincang tentang pendidikan tak dengan rasa muram. Ia tak lagi serupa labirin persoalan yang tak kunjung menemukan nyala pelita meskipun kini memang begitu. "Pendidikan terlalu banyak problemnya, tapi terlalu sedikit solusinya," kata seorang guru senior di Bandung. Paradoks yang tepat. Kita mengeluhkan mutu pendidikan, tapi adakah para orangtua membolehkan anak-anak terbaik mereka menjadi guru? Kita berkehendak pendidikan nomor satu, tapi mutu nomor berapakah lulusan sekolah yang memasuki fakultas keguruan dan pendidikan? Putra-putri terbaik haruslah menjadi dokter, ekonom, insinyur, juragan realestat. Kita tahu, seluruh proses pendidikan (khususnya dasar-menengah) intinya proses belajar-mengajar di kelas.

Namun, bagaimanakah guru dalam interaksi itu? Menyikapi paradoks muram itu, akademisi Sjamsoe'oed Sadjad pernah mengusulkan mengubah praktik kuliah kerja nyata para mahasiswa. Mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia, kata ahli benih Institut Pertanian Bogor itu, perlu dikirim ke seluruh pelosok Tanah Air untuk menebar benih ilmu mere ka ke berbagai sekolah. Dengan kerja nyata model itu, mahasiswa tak hanya mentransfer ilmu, tapi juga muncul kecintaan terhadap negeri. Selain bangsa ini dicerdaskan, kebangsaannya dirajut!

Setahu saya gayung tak pernah bersambut atas ide sang guru besar emeritus itu. Memang kurikulum demi kurikulum dibuat. Sejak kemerdekaan kurikulum pertama diberlakukan pada 1968 di masa Menteri Pendidikan Mashuri. Berikutnya Kurikulum 1975 (Syarif Thayeb), Kurikulum 1984 (Nugroho Notosusanto), Kurikulum 1994 (Wardiman Djojonegoro), Kurikulum 2004 (Malik Fadjar), dan Kurikulum 2014 (M Nuh) yang dibatalkan itu.

Umumnya kurikulum berganti ketika di banyak bagian Republik belum usai-bahkan banyak yang tertatih-tatih-menjalankan kurikulum sebelumnya. Ada penilaian, muatan politik selalu lebih kental daripada urusan praktik pendidikan yang hendak dituju. Kehendak menaikkan mutu pendidikan kian terjerembap dalam kelindan masalah (Proses Pelapukan: Tantangan Indonesia Merdeka, 2006). Lebih tragis lagi Kurikulum 2014, yang mendapat dukungan dari banyak tokoh, 'diamputasi' ketika baru seumur jagung. Padahal, dalam sosialisasi ia diyakini menjadi kurikulum yang bisa membebaskan beban siswa, membuat guru lebih kreatif dan inovatif.


Sebelumnya, kita telah bersorak menyambut konstitusi yang menyediakan 20% anggaran pendidikan. Dana itulah yang dianggap penyebab terus melapuknya dunia pendidikan. Namun, dana besar belum berdampak pada mutu. Termasuk sertifi kasi guru, ia juga dinilai gagal. Kini kita hanya bisa tercengang ketika membaca publikasi Finlandia punya mutu pendidikan  terbaik di dunia. Negeri itu tak membangunnya dengan dana melimpah.

Ia hanya 8% dari APBN negeri itu. Kuncinya pada kualitas guru yang kerap kita bincangkan itu. Menjadi guru di negeri berpenduduk 5,5 juta jiwa dan pernah jatuh miskin seusai Perang Dunia itu kebanggaan dan kehormatan. Anak-anak lulusan terbaik berlomba masuk sekolah pendidikan. Pendidikan bermutu menghasilkan aparat yang tak korup. Rakyat Finlandia pun paling sejahtera. Kita mau memulai dari mana? Menteri Anies Baswedan menjawab, "Dengan kejujuran." Ini baik. Tapi cukupkah kejujuran sebagai kehendak membenahi pendidikan tanpa guru-guru kelas satu?


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.