Ajakan Berkelahi

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
22/6/2017 05:31
Ajakan Berkelahi
(MI/ROMMY PUJIANTO)

PARLEMEN bukan arena berkelahi, tapi pernah menjadi tempat perkelahian. Bahkan, di suatu negara pernah terjadi anggota parlemen jambak-jambakan, perkelahian paling norak dan menggelikan. Bagaimana dengan parlemen Indonesia? Sepertinya mereka sedang mengajak KPK 'berkelahi' (bukan fisik) melalui penggunaan hak angket DPR. Ajakan berkelahi itu lalu merembet juga mengajak Polri berkelahi.

Ajakan berkelahi itu menggunakan tiga bentuk ancaman. Pertama, mengancam melaporkan Ketua KPK Agus Rahardjo ke Polri karena KPK menolak permintaan DPR untuk menghadirkan Miryam Haryani. KPK beralasan hal itu merupakan bentuk menghalangi proses hukum. KPK dinilai menghina parlemen. Kedua, akibat tiga kali pemanggilan Miryam tidak hadir, DPR akan menjemput paksa Miryam dengan bantuan Polri.

Gagal. Penahanan Miryam di bawah yurisdiksi KPK, bukan Polri. Memaksa menjemput Miryam samalah Polri memaksa KPK untuk tunduk dalam yurisdiksi mereka. Muncullah ancaman DPR tidak akan memberikan anggaran 2018 kepada KPK. Kapolri tidak mengabulkan permintaan DPR menjemput paksa Miryam dengan alasan tidak jelas hukum acaranya. Jika Ketua KPK dapat dilaporkan ke Polri, ke manakah Kepala Polri hendak dilaporkan karena tidak menghormati DPR?

Terjadilah yang ketiga, ancaman serentak kepada Polri, yaitu seperti terhadap KPK, Polri pun bakal tidak diberi anggaran negara 2018. Demikianlah, DPR mulanya hendak berkelahi hanya dengan KPK, kemudian berkelahi pula dengan Polri. DPR seperti orang kalap, mata gelap. Gara-gara merasa tidak dihormati, dengan sembarangan menjadikan anggaran negara sebagai harta nenek moyang DPR, khususnya nenek moyang anggota panitia angket.

Anggaran negara diperlakukan sebagai milik privat mereka, yang selama ini mereka anggap diberikan kepada KPK dan Polri berupa kedermawanan. Publik kiranya dapat bertanya, suasana 'kejiwaan' apakah yang sedang terjadi di DPR? Pertanyaan perihal 'kejiwaan' itu dapat menambah daftar tidak menghormati DPR karena untuk menjawabnya diperlukan dokter jiwa.

Yang pas kiranya perihal 'kebatinan', yang tidak memerlukan dokter kebatinan yang memang belum ada spesialisasinya di fakultas kedokteran. Karena belum ada keahliannya, terbukalah ruang bagi kajian spekulatif perihal 'suasana kebatinan'. Di dalam batin yang keruh, DPR sedang berkelahi dengan bayangan mereka sendiri. Kebatinan DPR dihantui bayangan diri sendiri dikejar-kejar KPK.

Nun di batin mereka, KPK itu ada di mana-mana. Setiap saat, tidak terduga KPK melakukan operasi tangkap tangan, termasuk ke dalam ruang tidur anggota DPR yang terhormat. Lalu dari sana membawa barang bukti berkerdus-kerdus uang tunai miliaran rupiah. Dalam perkelahian dengan bayangan diri sendiri itu DPR mendapat jawaban yang selalu muncul kembali, yaitu hantu OTT harus dilumpuhkan.

Apa pun bungkus bahasa yang dipakai, kian ke mari kian tampak niat buruk DPR terhadap KPK. Bahkan, DPR tidak menyangka ketegasan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam penegakan hukum. Keluarlah ancaman tidak memberi anggaran negara yang dianggap merupakan harta nenek moyang DPR. Pendapatan negara tidak dipandang sebagai hasil kolektif berbangsa bernegara karena warga membayar pajak, yang antara lain dipakai untuk membayar gaji anggota DPR.

Sejauh ini yang diajak berkelahi tidak merespons, tidak melayani dengan cara-cara rendahan, tapi dengan cara-cara kesantunan dan kelugasan antarlembaga negara. Tidak terjadi perkelahian negara melawan negara seperti diinginkan DPR. Yang terjadi dan dipertontonkan tanpa malu kepada publik ialah DPR tengah berkelahi dengan bayangan mereka sendiri karena ketakutan sendiri tertangkap basah korupsi.

Kiranya perlu disebutkan penggunaan kekerasan apakah paksa fisik terhadap Miryam atau paksa nonfisik berupa kewenangan tidak memberi anggaran negara-seharusnya berada di luar lingkungan politik parlemen. Yang pertama berada dalam lingkungan hukum, yang kedua berada dalam lingkungan konstitusi, hukum tertinggi. Hak bujet DPR bukan hak prerogatif lembaga legislatif yang dilahirkan diri mereka sendiri (seperti tata tertib dan kode etik) dan dipakai 'semaunya' vis a vis trias politika.

Diri mereka sendiri pun menyusui dalam hal anggaran karena DPR tidak ikut dan tidak boleh ikut-ikutan mencari penerimaan negara. Di lingkungan politik seyogianya yang terjadi bentuk-bentuk perjuangan politik yang lebih 'cool' alias 'dingin' dan 'keren'. Bukan dengan penggunaan ancaman dan ajakan berkelahi. Otoritas parlemen yang tidak diindahkan itu malah berbalik arah menujukkan kegagalan diri, justru dalam arogansi kekuasaan. Selesaikanlah perkelahian dengan bayangan sendiri dan kuburlah dalam-dalam hak angket sebagai konsep psikis.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima