Rektor

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/6/2017 05:31
Rektor
(Ilustrasi)

SEGALANYA tiba-tiba mengejutkan. Segalanya membuat kita tergopoh-gopoh meresponsnya. Kita terkesiap ketika ada sesuatu yang 'jauh', yakni ada calon rektor sebuah perguruan tinggi yang berkelindan dengan Islamic State. Sebelum itu, ada sumpah setia mahasiswa terhadap khilafah dari kampus besar. Kampus yang menjadi dambaan seantero negeri.

Siapa tahu yang bercikun-cikun (bersembunyi-sembunyi) justru lebih banyak. Maka, tepat di Hari Pancasila, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pun memunculkan ide pemilihan rektor langsung di bawah presiden. Ia nanti tak lagi menjadi urusan menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (Menristek-Dikti). Menurut Tjahjo, ini terkait dengan kesepahaman bersama 63 rektor dalam menyelenggarakan pendidikan dan penelitian ideologi Pancasila serta wawasan kebangsaan.

Tujuannya mulia, untuk mencegah ideologi anti-Pancasila masuk kampus. Kita tahu ketika kewenangan diambil dari tangan menteri itu berarti tugas sang presiden akan kian berat. Sebaliknya, tugas sang menteri akan kian ringan. Bukankah mestinya sang menteri harus dimintai pertanggungjawaban? Dengan mengambil tanggung jawab menteri, presiden yang tengah lintang pukang ngebut menggarap infrastruktur dan mengurangi kesenjangan ekonomi akan kian terkuraslah energinya.

Padahal, Istana baru saja menambah beban dengan lembaga baru, Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Kita tahu dalam pemilihan rektor perguruan tinggi negeri, menteri mempunyai 35% suara. Senat/majelis wali amanah perguruan tinggi negeri memilik 65% suara. Dengan 35% suara saja Menristek-Dikti punya pengaruh besar, yang bisa mengancam otonomi kampus jika salah menggunakannya.

Bayangkan kalau sepenuhnya di tangan presiden! Tak ada jaminan pemilihan rektor di bawah presiden akan mendapatkan sosok yang pepak sebab radikalisme bukanlah lahir dari ruang hampa. Ia tak jatuh dari langit, tapi ada yang meneroka jalan untuk paham itu tumbuh dan berkembang. Ke mana pula kerja intelijen selama ini? Yang pasti, jika sang rektor pilihan presiden gagal, wibawa kepala negara pun akan gompal.

Adapun sang menteri merasa lega dan kian nyaringlah kecimus atau cibiran para pencerca presiden. Karena itu, rencana pemilihan rektor di tangah presiden sebaiknya dipikir ulang. Tidak salah, dalam situasi yang serbamengejutkan ini, presiden mengambih alih pemilihan rektor. Namun, itu bukan jalan terbaik. Jalan terbaik ialah memaksimalkan implementasi dari aturan yang sudah ada.

Menteri dan pihak kampus bisa bekerja sama dengan lembaga lain yang relevan untuk menelesuri rekam jejak para calon rektor. Mana yang bersetia pada Pancasila, mana yang tidak. Mana yang benar, mana yang cemar. Mana yang bermutu, mana yang abu-abu. Laksanakan saja aturan baru, Pemenristekdikti No 19/2017 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi Negeri, secara maksimal.

Misalnya, calon rektor mesti membuat laporan harta kekayaan pejabat negara. Paparan visi-misi calon rektor di depan pihak kementerian (sebelumnya cukup di depan internal kampus) benar-benar tak di awang-awang. Paparan publikasi dan kerja sama yang pernah dilakukan juga harusnya diverifikasi dengan serius. Yang juga membuat pilu, seperti pernah diungkap Ketua KPK Agus Rahardjo, ialah adanya indikasi politik uang dalam pemilihan rektor di sejumlah kampus.

Kisarannya Rp1,5 miliar hingga Rp5 milar. Kampus yang mestinya tempat kita 'kembali' ketika masyarakat berada di simpang jalan dan kekuasaan menemui jalan buntu mengurai sebuah soal, malah terimbas penyakit politik uang, laku buruk politik praktis. Jika benar, inilah pengkhianatan kaum intelektual paling serius! Di satu-dua kampus, terlebih kampus negeri, memang ada aktivitas terang-terangan menolak Pancasila. Tentu saja, itu ancaman serius bagi Indonesia.

Namun, mengatasi persoalan dengan terburu-buru, panik, tak jernih, juga akan menimbulkan problem baru. Jelas, ada perampasan otonomi kampus yang kita ambil semasa Orde Baru. Akan ada friksi di kampus antara rektor pilihan presiden dan mereka yang prootonomi kampus. Rektor pilihan presiden yang cenderung otoriter akan mudah menepuk dada seraya mengatakan, "Saya orangnya presiden," setiap menghadapi kritik.

Padahal, kampus harusnya menjadi entitas paling piawai mengelola kritik dan sikap kritis sebab kritisisme memang ciri masyarakat kampus. Kita sepakat kampus mesti bersih dari pengaruh ideologi anti-Pancasila. Namun, jika kemandirian dan sikap kritis perguruan tinggi dimatikan, tamatlah fungsi kampus. Jangan sampai kita menancapkan batu nisan dengan epitaf 'Di sini otonomi perguruan tinggi telah mati'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima