Asian Games

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
07/6/2017 05:31
Asian Games
(Ilustrasi)

JARUM jam terus berjalan. Tidak terasa penyelenggaraan Asian Games Jakarta-Palembang tinggal tersisa 14 bulan lagi. Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games Indonesia (Inasgoc) Erick Thohir tidak bisa menutupi kegundahannya. Di pundaknya tertumpu beban untuk membuat penyelenggaraan Asian Games berjalan sukses. Kalau cara pandangnya Asian Games merupakan perhelatan bangsa, mungkin Erick tidak terlalu khawatir.

Akan tetapi, ketika pesta olahraga bangsa-bangsa Asia hanya dianggap sebagai sebuah proyek, hanya panitia yang dibuat repot. Bayangkan, ada tiga kegiatan besar yang harus berjalan bersamaan. Pertama ialah penyediaan sarana dan prasarana untuk tempat pertandingan dan perkampungan atlet. Kedua, persiapan para atlet Indonesia yang ditargetkan untuk berada dalam kelompok delapan besar negara peraih medali terbanyak.

Ketiga, kegiatan panitia penyelenggara untuk membuat acara pembukaan dan penutupan berlangsung spektakuler, hospitality bagi seluruh peserta untuk bisa datang dan pulang aman ke negeri mereka, pelaksanaan pertandingan yang berjalan lancar, dan pergerakan atlet selama kejuaraan berlangsung mulus. Namun, dari ketiga kegiatan itu, baru biaya pembangunan yang anggarannya sudah mulai turun.

Semua negara Asia berlomba menjadi penyelenggara Asian Games. Inilah kesempatan mempertunjukkan kepada dunia bahwa sebuah negara sudah naik kelas. Ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Presiden Soekarno menggunakan momentum itu untuk memperkenalkan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka dan mulai membangun industri dengan produk pertamanya, Radio Tjawang.

Tiongkok baru 28 tahun kemudian mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Ajang Asian Games Beijing dijadikan tiket untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Tiongkok bukan lagi 'Negeri Tirai Bambu'. Mereka sekarang menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia melewati Amerika Serikat. Mereka sudah dua kali menjadi tuan rumah Asian Games dan empat tahun lagi akan menyelenggarakan yang ketiga kalinya.

Mereka menjadi semakin percaya diri setelah sukses menjadi penyelenggara Olimpiade 2008. Kepercayaan diri itulah yang kita butuhkan sekarang. Cara pandang kita harus diubah dari sekadar penyelenggara Asian Games. Inilah etalase untuk memperlihatkan kemajuan Indonesia yang lebih pesat setelah penyelenggaraan 55 tahun yang lalu. Kalau ingin mempromosikan Indonesia, tidak bisa pendekatannya lalu sekadar pemotongan anggaran.

Kita setuju perlu ada efisiensi, tetapi kita tidak boleh mengorbankan kualitas. Apa kata dunia kalau penyelenggaraan Asian Games biasa-biasa saja dan tidak meninggalkan kesan yang berarti? Kita perlu melihat bagaimana ketika Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Semua stadion pertandingan dibuat baru. Perkampungan atlet dibuat begitu bagus. Acara pembukaan dan penutupan dibuat spektakuler dengan memadukan tradisi panjang bangsa Tiongkok dengan modernisasi yang mereka sedang jalani.

Ajang Olimpiade bukan sekadar pesta hura-hura. Di balik itu putra-putra bangsa diberi kesempatan menerapkan teknologi untuk membangun stadion berkelas dunia. Semua mechanical dan engineering mulai sistem tata lampu hingga tata suara dilakukan putra-putra Tiongkok. Setelah Olimpiade Beijing, semua produk Tiongkok diterima pasar dunia karena sudah teruji dalam pesta olahraga dunia.

Cara pandang pedagang kelontong harus dibuang jauh-jauh. Penyelenggaraan Asian Games tidak bisa hanya didekati dengan pendekatan cash and carry. Diperlukan cara berpikir besar karena kita sedang menuju menjadi bangsa besar. Bertahun-tahun kita berjuang menarik investasi. Setiap tahun para pejabat kita berkeliling dunia memperkenalkan Indonesia agar orang mau menanamkan modalnya di sini.

Sekarang kesempatan untuk menunjukkan Indonesia yang 'welcome' kepada dunia malah disia-siakan. Kita tidak menutup mata bahwa pemerintah sedang menghadapi keterbatasan anggaran. Akan tetapi, ibarat cerita sebuah kerajaan yang dikepung musuh, yang ditunjukkan kepada lawan bukan sapi-sapi yang kurus kering kelaparan, melainkan justru sapi yang gemuk.

Mentalitas yang harus ditunjukkan bukanlah mentalitas orang susah. Kita harus menjadi bangsa yang optimistis. Bukankah itu yang selalu didengungkan Presiden Joko Widodo dalam setiap kesempatan? Kita punya begitu banyak badan usaha milik negara dan swasta yang ingin menjadi pemain dunia. Mereka semua tentu membutuhkan ajang untuk dikenal dunia.

Asian Games seharusnya bisa kita jadikan tempat untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Momentum seperti ini tidak akan datang setiap tahun. Kita tidak akan pernah bisa menjadi tuan rumah Asian Games kalau Vietnam tidak mengundurkan diri. Yang kita butuhkan sekarang ialah cara pandang yang out of the box, bukan yang business as usual.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.