Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
RUPANYA kita belum bisa beranjak dari Bung Karno. Ia memang menjadi tempat kita 'kembali' setiap kita menghadapi jalan terjal dan berkelok tentang kebangsaan ini, yakni ketika agama dan negara dipersoalkan kembali oleh mereka yang merasa tak nyaman dengan negara kebangsaan ini. Padahal, Pancasila merupakan konsensus nasional penuh berkah, kompromi karena kearifan kelas tinggi antara ulama dan kaum nasionalis, untuk meneguhkan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, di dalam suasana Hari Pancasila, bagi kita yang berjarak dari kehidupan 'Bung Besar' ini, membaca pikiran-pikirannya menjadi penting agar tahu ihwal keislaman sang proklamator itu. Perlu dibaca lagi tulisan-tulisannya yang terangkum dalam buku Bung Karno dan Wacana Islam (2001) yang memperlihatkan betapa luas dan dalam wawasan Bung Karno soal Islam.
Islam yang menurutnya sebagai agama yang amat menjunjung kesetaraan, agama ilmu yang rasional, dan amat toleran. Dalam hampir semua yang kita alami sekarang, Bung Karno telah membicangkannya sejak hampir satu abad lalu ketika ia masih amat muda. Pencarian akan api Islam seperti tak pernah kunjung padam. Surat-suratnya yang ia tulis untuk TA Hassan, Guru Persatuan Islam Bandung, ketika ia dalam masa pembuangan di Ende, Flores, NTT, ialah wacana pemikiran Islam yang menarik.
Dalam surat tertanggal 1 Desember 1934, ia minta dikirimi enam buku, yakni Pengajaran Salat, Utusan Wahabi, Al-Muchtar, Debet Talqiem, Al-Burhan Complet, dan Al-Jawahir. Selain itu, ia meminta sebuah risalah yang membicarakan soal kaum sayid, yang ia anggap semacam pengeramatan manusia yang mendekati kemusyrikan. Menurut Bung Karno, tersesatlah orang yang mengira Islam mengenal 'aristokrasi Islam'.
'Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan', tulisnya. Bung Karno menceritakan ada sayid yang sedikit terpelajar, tetapi dalam berdiskusi tak berani sama sekali keluar dari soal fikih.
Mati hidup dengan kitab fikih itu, dos-kolot, dependent, unfree, dan taklid. Inilah yang membunuh 'roh' dan 'semangat' Islam. "Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat." Dalam surat berikutnya, 25 Januari 1935, ia mengabarkan semua buku yang dikirim TA Hassan telah selesai dibaca dan ingin membaca hadis Buchari dan Muslim yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggris karena waktu itu masih terselip hadis-hadis lemah.
Hadis-hadis seperti inilah yang lebih 'laku' dari ayat-ayat Alquran. Padahal, hadis-hadis seperti inilah yang menyebabkan kemunduran Islam, kekunoan Islam, ketakhayulan Islam, dan antirasionalisme. Padahal, kata Bung Karno, tak ada agama yang lebih rasional dan simplistis daripada Islam. Bung Karno juga sangat prihatin dengan perilaku taklid yang umum ia jumpai.
"Taklid adalah salah satu sebab yang teramat besar dari kemunduran Islam masa itu. Semenjak ada aturan taklid, di situlah kemunduran Islam tepat sekali. Tak heran! Di mana genius dirantai, di mana akal pikiran diterungku, di situlah datang kematian." Dalam suratnya tertanggal 22 Februari 1936, Bung Karno menceritakan seorang muda yang bertanya kenapa kemegahan Islam yang dulu tidak terjadi? Bung Karno menjawab, Islam harus berani mengejar zaman sebab Islam tidak tertinggal seratus tahun, tetapi seribu tahun.
Bukan kembali kepada Islam glory yang dulu, bukan kembali kepada zaman khalifah melainkan lari ke muka, lari mengejar zaman, itulah satu-satunya jalan buat Islam menjadi gilang-gemilang kembali. Dunia yang penuh tantangan itu, kata Bung Karno, tak mungkin harus kembali pada tahun 700, 800, atau 900. "Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam masjid memutar tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan.
Islam is progress: Islam itu kemajuan." Bung Karno ingin sekali ada penganjur-penganjur Islam yang mengerti falsafahnya historic degrees (tingkatan-tingkatan sejarah) yang tak semata larut dalam 'semangat kurma' dan 'semangat sorban'. Fenomena yang memprihatinkan ialah melihat kenyataan betapa Islam masa itu amat mudah mengafirkan-ngafirkan sesuatu yang baru dan 'berbeda'.
Menurut Bung Karno, Islam royal sekali dengan perkataan kafir. Pengetahuan barat kafir, radio kafir, listrik kafir, makan dengan sendok kafir, kedokteran, pantalon, dasi, topi kafir. Seolah yang paling islami ialah mereka yang berjubah, bercelak mata, dan tangannya selalu memegang tasbih? "Astagfirullah. Inikah Islam? Inikah agama Allah yang mengafirkan pengetahuan dan kecerdasan...?"
Kondisi hari ini rupanya belum beranjak jauh. Padahal, hampir satu abad Bung Karno bicara kehidupan Islam. Kini seperti muncul kembali. Padahal, menurutnya, semangat Islam berkemajuan, api Islam yang menyala-nyala, yang cinta pada ilmu pengetahuan, yang modern, itulah yang mampu mengatasi ketertinggalan. Semangat itu pula yang ia pompakan pada umat Islam, pada Pancasila yang ia gali juga di Ende.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved