WTP

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
31/5/2017 05:31
WTP
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

BELUM kering bibir Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi terhadap kinerja kementerian dan lembaga untuk meraih wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan mereka. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak kurang gembiranya karena berarti anggaran negara telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Semua prestasi itu seakan tidak artinya ketika Komisi Pemberantasan Korupsi kemudian menangkap tangan praktik lancung antara pejabat Badan Pemeriksa Keuangan dan Kementerian Desa.

Predikat WTP yang didapat Kementerian Desa ternyata tidak didasari penilaian yang seharusnya. Predikat itu dinaikkan dari wajar dengan pengecualian karena ada iming-iming uang yang diberikan pejabat Kementerian Desa. Keruan saja semua predikat WTP seakan tidak ada artinya. Orang mudah beranggapan bahwa predikat WTP itu bisa dibeli. Para auditor BPK ternyata bisa diajak kongkalikong untuk mengatur yang tidak baik menjadi kelihatan baik.

Penilaian masyarakat itu tentu bukan mengada-ada karena kasus ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, di beberapa daerah sudah terjadi permainan dalam penilaian dengan imbalan uang. Beberapa pejabat pelakunya pun sudah dijatuhi hukuman berat. Mengapa hal yang tidak kita inginkan ini bisa terjadi? Pertama, karena kita terjebak dalam pencitraan yang luar biasa.

Kita hidup di era orang hanya berupaya mengejar ketenaran. Orang merasa puas dinilai baik meski kenyataannya tidak seperti itu. Kedua, karena predikat WTP menjadi tujuan, mereka lupa kepada proses. Bahkan karena itu dianggap sebagai ukuran keberhasilan, mereka menghalalkan segala cara. Apalagi Presiden memberikan pujian tinggi kepada yang mendapatkan predikat WTP dan mengkritik yang belum mencapainya.

Ketiga, jabatan itu dianggap sebagai segala-galanya. Anggapannya power is privilege. Karena kekuasaan dianggap hak istimewa, orang cenderung mencari muka kepada orang yang memberi kekuasaan. Padahal, kekuasaan itu selalu dikatakan sebagai sebuah amanah. Oleh karena itu, kekuasaan sebenarnya bukan untuk yang menerima kekuasaan. Kekuasaan seharusnya dipakai untuk melayani masyarakat.

Atas pelayanannya yang baik, pejabat itu akan mendapat kehormatan dari rakyat. Predikat WTP pun sebenarnya bukan untuk predikat itu sendiri. Predikat WTP seharusnya merupakan indikator bahwa anggaran yang diterima kementerian dan lembaga dipakai sepenuh-penuhnya untuk kepentingan rakyat. Salah satu ukurannya administrasi keuangannya sesuai dengan aturan yang ditetapkan pengawas keuangan.

Ketika penilaian itu bisa diperjualbelikan, kita tidak tahu lagi indikator yang bisa dipakai untuk melihat bahwa anggaran negara telah terkelola dengan baik. Tidak usah heran apabila praktik korupsi di era reformasi bukan semakin berkurang, melainkan justru makin menjadi-jadi. Meski anggaran negara sudah meningkat tujuh kali lipat jika dibandingkan dengan era Orde Baru yang hanya Rp300 triliun, kemiskinannya bukan semakin berkurang, melainkan semakin bertambah.

Dalam situasi yang mencoreng seperti ini, kita tidak melihat pejabat yang kemudian merasa malu. Praktik jual beli predikat laporan keuangan hanya dianggap sebagai kesalahan orang per orang. Padahal, apa kepentingannya seorang inspektur jenderal dengan predikat WTP karena itu lebih melekat kepada kementerian daripada orang pribadi? Kita lalu teringat pada pelajaran yang pernah disampaikan tokoh pendidikan Prof Dr Ir Andi Hakim Nasoetion.

Menurut Rektor Institut Pertanian Bogor itu, orang bekerja jangan untuk mengejar ketenaran. Bekerja itu harus ditujukan untuk kebaikan karena dengan itu, kita akan mendapatkan keduanya. Pelajaran itu tentu berlaku juga dalam kehidupan bernegara. Para pemimpin yang diberi amanah untuk menjadi pejabat negara jangan bekerja untuk mendapatkan nama.

Pekerjaan utama mereka itu ialah menyejahterakan rakyat. Anggaran negara yang dengan susah payah didapatkan pergunakanlah dengan penuh tanggung jawab. Jangan kemudian silau hanya untuk mendapat pujian WTP. Kalau para pejabat bekerja demi kebaikan, pasti pejabat itu akan mendapatkan nama baik dari rakyat.

Kita semua sadar bahwa membangun negara bukan proses yang sekali jadi. Karena itu, kita tidak perlu bernafsu untuk cepat-cepat memperoleh pujian. Kehormatan itu pasti akan datang ketika kita konsisten memajukan kehidupan bangsa ini. Bukan saatnya bagi kita untuk berbasa-basi. Keberanian untuk mengakui kelemahan dan berupaya memperbaikinya merupakan kunci dari bangsa ini meraih kemajuan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima