Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BARU saja optimisme tebersit setelah peningkatan peringkat layak investasi diberikan Standard & Poor's kepada kita. Harapan bagi segera mengalirnya investasi ke Indonesia diganggu lagi oleh aksi teror di Kampung Melayu, Rabu (24/5) lalu. Diduga, sang pelaku menjadi korban tewas bersama tiga anggota kepolisian yang sedang berada di halte bus Trans-Jakarta.
Kita mengecam keras tindakan teror tersebut karena menyebabkan banyak orang menderita. Istri tiba-tiba harus kehilangan suami, demikian pula dengan anak-anak yang harus kehilangan ayahnya. Inilah yang membuat aksi terorisme itu kita sebut sebagai kejahatan kemanusiaan. Yang membuat kita sering kali bertanya-tanya ialah mengapa muncul fatalisme seperti ini?
Kita paham banyak persoalan yang mengimpit kehidupan kita. Tidak ada seorang pun yang lepas dari persoalan hidup. Namun, mengapa pilihannya kemudian adalah sikap putus asa? Persoalan kemiskinan yang harus dihadapi sebagian bangsa ini hanya bisa dipecahkan melalui pembukaan lapangan kerja. Agar lapangan kerja bisa tersedia, dunia usaha harus dibuat merasa nyaman menanamkan modalnya.
Kita tidak sedang hidup di era etatisme seperti dulu. Sekarang ini kontribusi anggaran negara terhadap investasi dan pertumbuhan ekonomi hanya tinggal sekitar 16%. Kondisi seperti ini bukan hanya dialami Indonesia. Seluruh dunia menyadari bahwa yang bisa membuka lapangan kerja dalam jumlah besar bukan lagi negara atau organisasi internasional, melainkan perusahaan baik itu swasta maupun badan usaha milik rakyat.
Agar dunia usaha bergairah untuk menanamkan modal, mereka memerlukan ketenangan dan keamanan. Sikap-sikap fatalis seperti yang dilakukan pelaku teror tidak hanya membuat investasi menjadi lebih lambat, tetapi akhirnya juga membuat kelompok fatalisme makin terperosok ke dalam kondisi frustrasi. Sekarang yang harus kita bangun ialah sikap optimisme bahwa banyak jalan bisa kita tempuh untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Untuk itu, semua komponen bangsa harus mau memberikan kontribusi bagi terciptanya kondisi yang penuh harapan itu. Termasuk media massa jangan terjebak dalam sikap saling menyalahkan dan mencari kambing hitam. Kita jangan membiarkan berkembangnya spekulasi yang hanya melahirkan sikap saling curiga. Mari kita beri kesempatan kepada polisi untuk bisa mengungkap siapa pelaku teror, apa motifnya, dan seperti apa jaringannya.
Dengan itu, kita berharap polisi bisa melakukan tindakan yang tegas. Kita pantas belajar dengan apa yang dilakukan masyarakat Inggris dalam menghadapi serangan teror di Manchester Arena. Mereka bangkit bersama untuk menggalang solidaritas dan melanjutkan kehidupan ini. Jangan seperti orang Amerika yang lebih mengejar sensasi dan akhirnya membuat harapan untuk menuntaskan akar terorisme menjadi berantakan.
Tentu kita ingin cepat membongkar pelaku teror, apalagi kalau ada jaringannya. Akan tetapi, risiko dari sistem demokrasi, penegakan hukum tidak bisa dilakukan sewenang-wenang. Kita tidak mungkin menegakkan hukum sambil melanggar hukum. Semua harus dilakukan secara berhati-hati dan melalui proses hukum yang benar. Sama dengan perlunya kesabaran untuk memperbaiki kondisi ekonomi.
Tidak mungkin kita memperbaiki kesejahteraan rakyat seperti membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses dan menuntut kerja keras dari semua pihak. Kesempatan untuk mempercepat perbaikan ekonomi ada di depan mata. Peningkatan peringkat layak investasi yang akhir pekan lalu kita dapatkan akan membuat cost of fund menjadi lebih murah. Kemarin saja bunga obligasi pemerintah sudah turun sekitar 0,2%.
Kita percaya semua pihak sedang bersiap-siap untuk menyambut datangnya arus investasi itu. Kalau kita bisa membuat peraturan perizinan yang mudah seperti yang dijanjikan, hukum kita bisa memberikan kepastian, aparat pajak tidak mengintimidasi, dan lembaga swadaya masyarakat tidak mencari-cari kesalahan, ekonomi Indonesia akan bisa melesat tinggi.
Semua itu bisa menjadi porak-poranda kalau ada satu di antara kita bersikap fatalis. Keputusasaan yang diekspresikan dengan cara destruktif seperti aksi teror membuat investasi yang akan masuk itu bisa batal. Negara-negara tetangga kita tersenyum melihat sikap fatalis karena investasi itu bisa beralih ke negara mereka. Mari kita hentikan sikap untuk mendestruksi diri sendiri, sikap untuk menganiaya diri sendiri. Tuhan tidak suka kepada orang yang mudah putus asa karena Tuhan tidak pernah akan membebani manusia dengan beban yang tidak sanggup mereka pikul.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved