Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

CERITA pendek karya Ali Akbar Navis, Robohnya Surau Kami, rasanya boleh juga kita baca kembali. Karya sastra yang pertama kali terbit pada 1956 mengisahkan Haji Saleh dan kawan-kawan dari Indonesia, orang-orang yang teramat rajin ibadah, tetapi justru Tuhan memasukkan mereka ke dalam neraka. Tentu Haji Saleh yang merasa ibadahnya tak terhingga, dan merasa sangat yakin masuk surga, menjadi teramat kecewa.
"Alangkah tercengang Haji Saleh karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Haji Saleh mendekati mereka dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun tak mengerti juga."
Dipimpin Haji Saleh mereka pun menghadap Tuhan, menanyakan kenapa ikhwal ketidakadilan itu. Tuhan menjawab, "....kenapa engkau biarkan dirimu melarat hingga anak cucumu teraniaya semua. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kaunegeri yang kaya raya, tapi kaumalas. Kaulebih suka beribadat saja karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang, sedangkan aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin.
Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" Dongeng Haji Saleh masuk neraka diceritakan tokoh Ajo Sidi kepada tokoh Kakek. Ia seorang garin, sang penjaga surau, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk beribadah. Bahkan, ia ikhlas meninggalkan keluarga semata-mata supaya fokus beribadah lima waktu, memukul beduk mengingatkan umat bersalat, membaca kitab-Nya, tak mencari kekayaan, dan hanya mencari rida-Nya.
Merasa tersindir oleh Ajo Sidi dengan cerita tentang Haji Saleh, sang Kakek pun kemudian bunuh diri. Maka, surau tua itu pun tak terurus lagi. Ia mulai roboh. Saya tak hendak membenarkan cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh dan kawan-kawannya itu. Namun, sindiran kepada mereka yang rajin beribadah, berhaji puluhan kali, karena itu merasa paling saleh, padahal abai pada lingkungan sekitar, bahkan bertengkar di antara kita, rasanya ini wajah kita yang tak terlalu jauh juga.
Bukankah belakangan ini energi kita seperti habis untuk saling memaki dan lupa membangun negeri? Selama bulan suci Ramadan, jutaan masjid dan surau pasti akan kian ramai di negeri ini. Seperti kita tahu sedikitnya ada tiga fungsi masjid yang sering dibincangkan oleh para pendakwah. Pertama, fungsi zikir. Masjid berarti tempat bersujud. Dengan zikir hati pun bersih dari segala amarah dan kebencaian.
Zikir dengan segala kepasrahan kepada Sang Khalik juga mampu meneguhkan kebenaran dan keadilan. Kedua, fungsi pikir. Islam ialah agama untuk orang yang berpikir; dan masjid menjadi tempat yang tepat untuk mengasah akal dan pikiran umat. Bukankah sesungguhnya salah mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar? Karena itu masjid seharusnya berfungsi sebagai tempat pembinaan, pemberian nasihat, dan pengajaran kepada umat Islam, baik yang berbasis ilmu agama maupun ilmu umum.
Dengan ilmu pengetahuan, Islam akan selalu aktual. Ketiga, fungsi sosial. Di zaman Rasulullah, selain untuk salat, masjid bahkan sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, kegiatan sosial, dan ekonomi. Sindirian dalam cerpen Robohnya Surau Kami tentang mereka yang rajin menyembah Allah, tetapi abai pada kemiskinan. Karena itu, dituntut untuk merespons aneka persoalan sosial yang nyata, misalnya kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan.
Seharusnya masjid mampu merekatkan ukhuwah islamiyah (kerukunan umat Islam) dan ukhuwah wathaniah (kerukunan sesama satu bangsa). Masjid jelas bukan tempat untuk caci maki. Indonesia ialah negeri dengan jumlah masjid terbanyak di dunia. Bahkan ada yang menjuluki Negeri Sejuta Masjid. Jumlah yang tercatat resmi memang 800.000 unit, tetapi dengan musala dan langggar dan berbagai perkantoran, pastilah lebih dari satu juta.
Inilah negeri dengan berbagai penyambutan bulan Ramadan paling meriah, paling warna-warni. Kearifan lokal yang kaya ikut pula menjadikan Ramadan jadi bergema. Namun, ibadah yang tercerabut dari berbagai persoalan sosial, abai pada psersoalan bangsanya, rasanya tak salah cerita Ajo Sidi dalam Robohnya Surau Kami tentang Haji Saleh itu. Puasa Ramadan agaknya waktu yang tepat menghidupkan kembali fungsi masjid untuk mengumandangkan pesan-pesan perdamaian dan kebersamaan. Akhirnya, tak ada tak ada lagi Robohnya Surau Kami, melainkan Kukuhnya Surau Kami. Marhaban ya Ramadan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved