Gelar

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
05/6/2015 00:00
Gelar
(Grafis/SENO)
INI cerita ketika awal kami menjadi wartawan. Seorang kawan mencetak kartu nama lengkap dengan gelar akademis. Saya protes lantaran itu tak lazim. "Kami bukan amtenar yang merasa gagah dengan gelar," saya bersungut. "Saya kuliah di Jakarta dapat gelar sarjana dengan susah payah, selama lima tahun. Menghabiskan lebih dari 2 hektare sawah untuk biaya. Titel itu bukti kuliah saya. Di kampung saya, Subang, titel membuat saya dan keluarga lebih dihargai."

Saya tak menyangka jawabannya seserius itu. Agaknya, begitulah kita umumnya memperlakukan gelar. Mungkin itu pula gelar dipajang lengkap para calon pengantin di undangan pernikahan, penulisan dan penyebutan para pejabat, daftar calon anggota legislatif, calon pemimpin publik, dan aktivitas lain yang tak ada kaitannya dengan dunia akademis.
Bahkan, ada yang menulis 'Dr. (Can)', kandidat doktor.

Pemburu gelar akademis, gelar ibadah keagamaan, gelar adat/sosial itu tanda 'feodalisme' masih hidup. Gelar yang 'ditenteng' ke mana pun pergi untuk membungkus rapat kemampuan keilmuannya yang cekak. Mereka yang terlibat ijazah palsu tak hanya melancungi diri sendiri, tapi juga publik dan dunia keilmuan. Mereka layak dipidana. Kampus abal-abal STIE Adhy Niaga di Bekasi, dan University of Berkley di Jakarta, yang dimiripkan University of California, Berkeley, Amerika Serikat, enteng saja menawarkan beragam strata.

Padahal, Berkley Jakarta masuk radar Ditjen Dikti sebagai kampus 'tipu-tipu' sejak 2002. Bahkan, waktu itu ditengarai ada 20 kampus serupa. Mengherankan, mereka tetap beroperasi. Menurut Rektor University of Berkley Liartha S Kembaren, mahasiswanya ada mantan jaksa agung, gubernur, kapolda, dan jenderal pensiunan. Kampus ini belum diberi sanksi seperti STIE Adhy Niaga yang dibekukan. Ada apa?

Pemerintah berniat memburu para pengguna ijazah palsu itu. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi juga akan menelusuri ijazah para PNS. Seperti kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, pengguna ijazah palsu banyak bos-bos. Ia sendiri mengakui semula takut membongkarnya. Ini momentum membereskan pendidikan tinggi, termasuk biro jasa skripsi, tesis, disertasi.

Kita malu bicara persaingan global jika yang begini tak mampu diberesi. Gelar kesarjanaan mestinya bukti seseorang mempunyai kualifikasi dalam bidang ilmu tertentu. Bukan karena uang dan jabatan. Mereka yang dengan ijazah palsu menikmati jabatan dan fasilitas, justru harus ditindak tegas. Kita tahu feodalisme getol diganyang kaum pergerakan, dulu.

Akan tetapi, feodalisme kini juga dinikmati, karenanya bertumbuh. Kita tak hendak sepenuhnya sependapat dengan Ivan Illich dan Paulo Freire yang menggugat pendidikan (formal) sebagai penindasan kemanusiaan, tapi kritik mereka tak boleh diabaikan. Filsuf Karl Jasper pernah menjadi pionir dalam merekonstruksi pendidikan tinggi di Jerman setelah berada di titik nadir akibat fasisme Nazi.

Menurut sang filsuf, universitas secara fundamental tak boleh keluar dari tiga hal: pengajaran akademis, penelitian, dan kehidupan kultural yang kreatif. Kampus harus terus berupaya mencari kebenaran ilmu. Agaknya, kita perlu melakukan hal serupa itu. Meruwat pendidikan kita yang cemar karena semata jadi komoditas. Kampus harus menjadi tempat kita 'kembali' memandu arah jalan setelah sesat tak tahu jalan pulang. Gelar palsu, ia menenggelamkannya ke dasar 'residu'.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.