Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK lama lagi kita akan memasuki bulan Ramadan. Bulan penuh berkah ini selalu ditandai dengan meningkatnya permintaan kebutuhan pokok, yang kemudian diikuti dengan naiknya harga. Seakan sudah menjadi tradisi, hingga Lebaran nanti inflasi akan meningkat. Kenaikan harga yang tidak terkendali akan membebani kelompok masyarakat bawah. Karena itulah pengendalian harga harus dilakukan. Pemerintah harus mengendalikan, khususnya praktik-praktik yang bisa mendistorsi pasar.
Persoalan yang terjadi pada kita ialah tidak tersedianya informasi pasar yang akurat. Padahal kita hidup di era teknologi informasi. Sebanyak 170 juta dari 250 juta penduduk Indonesia setiap hari terbiasa menggunakan gadget. Akan tetapi, kita masih terbatas memanfaatkannya untuk kepentingan informasi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sebuah inisiatif sudah dicoba Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Bank Rakyat Indonesia. Mereka memperkenalkan kartu tani.
Sebenarnya, tujuannya ialah mengontrol subsidi pupuk bagi para petani. Namun, dengan kartu tani itu bisa didata nama petani, lokasinya, luasan lahan yang digarapnya, serta tanaman yang dibudidayakan. Kalau saja pendataan itu bisa dilakukan kepada 60 juta petani yang ada di Indonesia, sebenarnya kita bisa mengetahui luasan lahan, produk yang dihasilkan, lokasi produksi, serta jenis komoditas yang dihasilkan. Sayangnya, sistem itu belum diintegrasikan untuk memetakan pertanian kita secara keseluruhan.
Dengan sistem yang belum mencakup secara keseluruhan, tidak usah heran apabila kita tidak memiliki data yang bisa diandalkan. Ketiadaan data yang bisa dijadikan pegangan itu membuat kita tidak bisa mempertemukan antara produsen dan konsumen secara akurat. Inilah yang dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu untuk mempermainkan harga. Kalau pemerintah ingin bisa lebih efektif mengatur harga, yang harus dilakukan ialah mengatur antara pasokan dan permintaan.
Harga akan terbentuk dengan sendirinya apabila ada keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Ketika penawaran lebih besar daripada permintaan, otomatis harga akan turun. Sebaliknya, ketika penawaran lebih kecil daripada permintaan, harga otomatis akan naik. Ke depan kita harus memanfaatkan sistem teknologi informasi untuk membangun pasar yang lebih berkeadilan. Apalagi untuk produk pertanian yang cirinya mudah busuk dan memakan tempat.
Terutama petani akan bersyukur apabila mereka mendapatkan informasi yang jelas tentang harga dan permintaan karena akan membuat mereka bisa lebih efisien dalam berbisnis. Kalau kita melihat negara-negara Eropa, basis terbesar mereka juga petani. Namun, kehidupan mereka bisa lebih baik karena ditopang teknologi dan sistem teknologi informasi yang akurat. Akibatnya, mulai mereka mempersiapkan lahan, menanam, memanen, hingga menjual, semua bisa direncanakan dengan baik.
Hal itu tentunya menguntungkan bagi konsumen. Dengan harga yang lebih stabil, mereka tidak perlu khawatir akan persediaan. Akibatnya, pasar pun relatif berjalan baik dan itu tecermin dengan tingkat inflasi yang terkendali. Tingkat inflasi yang terkendali memberikan dampak positif kepada kondisi makroekonomi. Pasar uang lebih mudah diatur karena bank sentral tidak perlu sering mengubah tingkat suku bunga.
Ini tentunya memberi manfaat kepada kalangan dunia usaha untuk bisa lebih baik merencanakan bisnis ke depan. Di negara kita, tingkat inflasi bisa melonjak hanya gara-gara harga cabai atau harga daging sapi. Pemerintah sampai dibuat panik ketika harga kebutuhan pokok melonjak tinggi sehingga membuat banyak warga menjerit. Kita tentunya berharap bisa sama dengan negara-negara lain.
Tantangan yang harus dihadapi tidak lagi sekadar urusan kebutuhan pokok masyarakat. Energi yang kita miliki bisa difokuskan untuk memecahkan persoalan global yang mengganggu perekonomian nasional. Tantangan global yang harus dijawab tidaklah kecil. Semua negara, misalnya, sedang berlomba untuk menarik investasi. Menteri Keuangan Amerika Serikat, misalnya, ditanya tentang rencana reformasi pajak yang hendak dilakukan Presiden Donald Trump.
Negara-negara anggota G-7 khawatir AS menurunkan tingkat pajak secara drastis karena hal itu akan menyedot investasi dunia masuk ke 'Negeri Paman Sam'. Seluruh dunia sedang berpikir keras untuk mengurangi angka pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan yang terjadi di negara masing-masing. Kita pun dihadapkan kepada tantangan yang sama. Yang diperlukan untuk menjawab tantangan itu ialah kebijakan yang kreatif, bukan lagi memikirkan urusan harga bahan pokok.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved