Sepak Bola Lidah

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
04/6/2015 00:00
Sepak Bola Lidah
(Grafis/SENO)
HATI ini senang, akhirnya PSSI dibekukan FIFA yang korup. Sebelumnya, hati ini lebih dulu riang, Menpora di era Presiden Jokowi berani membekukan PSSI karena dari masa ke masa PSSI bak rezim tersendiri. Namun, di atas semua itu, hati ini jauh lebih gembira menanti 6 Juni 2015, yaitu menyaksikan dua aliran sepak bola di Eropa bertanding merebut juara Liga Champions.

Mereka ialah Juventus mewakili negara bermazhab seni bertahan dan serangan balik, serta Barcelona mewakili school keindahan dan ketajaman menyerang. Tentu bukan paham kaku tanpa varian. Juventus berubah, juga Barcelona tidak lagi ber-tiki-taka. Adu strategi dan kecerdasan di luar lapangan dua manajer, Massimiliano Allegri dan Luis Enrique, turut menentukan.

Terus terang, bertahun-tahun menonton sepak bola Eropa di televisi membuat saya tidak tertarik menonton sepak bola Indonesia. Rasanya begitu buruk sepak bola bangsa sendiri.  Hati ini siap dinilai sebagai anak bangsa tidak memiliki nasionalisme. Dalam sepak bola, jelas dan tegas, saya penganut globalisme. "Saya tidak melihat paspor pemain," kata Arsene Wenger, manajer Arsenal asal Prancis, menjawab kritik karena lebih banyak mengambil pemain asing. Paspor biarlah urusan imigrasi.

Menyaksikan Alexis Sanchez melewati dua-tiga lawan dan menciptakan gol membuat saya lupa apakah ia berkebangsaan Cile, kelahiran Tocopilla, atau seorang Londoner, warga kota markas Arsenal. Kembali ke Tanah Air, sepak bola Indonesia ialah sepak bola ketangkasan kata-kata dan ketajaman lidah, baik menyerang maupun bertahan. Itu nyata benar dalam hiruk pikuk berkaitan dengan pembekuan PSSI.

Saya muak menonton talk show mengenai pembekuan di layar televisi dan spontan memindahkan saluran ke siaran sepak bola menggunakan kaki, meninggalkan sepak bola lidah. Cuplikan pertandingan klub Inggris 'kemarin' jauh lebih bagus ditonton daripada perbincangan live tentang PSSI. Di tengah jutaan penggemar sepak bola di negeri ini, saya berharap tidak sendirian.

Sesuatu yang menyakitkan, bahwa kemarin di negeri orang lebih elok daripada hari ini di negeri sendiri. Membenahi sepak bola lidah memang harus dari induknya. Nama PSSI yang telah beku itu sebaiknya dikubur saja. Banyak pilihan pengganti. Kalau selama ini ada yang membunyikan 'ef' (F) sebagai 'pe' (P), sekarang gantilah 'pe' (P) menjadi 'ef' (F). Itulah FSSI, Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia.

Pilihan lain juga bagus, yaitu ASSI, Asosiasi Sepak Bola Seluruh Indonesia. Akronim itu mengingatkan air susu ibu (ASI) yang tercurah dari hati tulus dan tubuh bersih. Sepak bola negeri ini harus kembali ditata bagaikan baru dilahirkan. Negara sebagai ibundanya tidak hanya menyusuinya, tetapi juga harus memberinya berbagai imunisasi agar kebal terhadap penyakit masa lalu.

Diharapkan sepak bola Indonesia bukan hebat di mulut seperti dalam talk show, melainkan di kaki dan di otak dengan seluruh keindahan dan kecerdasannya di lapangan hijau. Kaki dan otak yang mampu bersaing di aras global. Afrika Selatan sukses menjadi tuan rumah Piala Dunia. Kita? Ya ampun, cekcok sendiri. Di tangan PSSI yang dibekukan dan sebaiknya dikubur itu, tidak ada tanda-tanda sepak bola Indonesia bakal sampai ke kelas dunia. Di tangan ASSI (sebutlah begitu sementara), di bawah pemerintahan Jokowi, kiranya tanda-tanda itu dapat bertunas, di musim panas sekalipun. Senang hati ini mengatakan itu semua, sesenang menanti 6 Juni, siaran langsung dari Berlin, Jerman.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima