Bahasa Bunga

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/4/2017 05:31
Bahasa Bunga
(ANTARA FOTO/Andika Wahyu)

“BERGURU kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.” Artinya, kira-kira: ketekunan dan kerja keras akan mendatangkan keberhasilan. Inilah aforisme Melayu yang jarang saya dengar. Apakah ribuan karangan bunga dan warga yang membanjiri Balai Kota tanda pengakuan keberhasilan? Ahok-Djarot jelas bukan pemimpin yang berhasil jika ukurannya ganjaran suara.

Mereka kalah dramatis atas Anies-Sandi (42%:58%). Ada aneka ekspresi simpati dan apresiasi di papan bungabunga. Ada rasa kehilangan yang dalam, pemimpin yang tak tergantikan. Bahwa kekalahan dalam hitungan suara, tetaplah namanya terpatri sebagai pemenang dalam hati mereka. Inilah perlawanan simbolik setelah kalah di bilik-bilik suara pada pilkada yang penuh eksploitasi isu SARA.

Bunga-bunga itu datang bergelombang. Ada yang beli patungan, sendiri-sendiri, atas nama organisasi, komunitas, dan aneka perwakilan. Selain dari Jakarta, mereka datang dari Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Banten, Bandung, dan berbagai kota lain, bahkan dari berbagai negara. Bahkan, di Batam, Riau, karangan bunga untuk Ahok-Djarot dibariskan di taman kota dengan harapan pemimpin daerah lain meniru jejak Ahok-Djarot.

Mereka umumnya datang dengan wajah bungah. Namun, sesungguhnya itulah kemasygulan kolektif atas rasa kehilangan pemimpin yang mereka anggap genuine. ‘Sang Nemo’, ikan kecil si penantang arus. Mereka juga sesungguhnya protes atas kekalahan sang idolanya. Namun, inilah protes, sesalan dengan cara elegan. Tak menjadi soal Fadli Zon menyoal sebagai pencitraan murahan. Untuk apa citra untuk mereka yang kalah?

Padahal, jabatan Ahok-Djarot secara resmi baru berakhir 20 Oktober nanti. Bisa jadi hingga enam bulan ke depan, gelombang karangan bunga akan terus berdatangan, juga warga. Seperti Rabu silam, ribuan manusia ‘mengepung’ Balai Kota. Ada yang menunggu sejak subuh tiba; tapi tak semua bisa berjumpa sang idola. Semata karena padatnya agenda Ahok.

Kita tahu tak ada pemimpin yang pepak, yang jangkap, juga Ahok. Namun, mereka tahu pemimpin yang bekerja dan yang semata membangun citra. Ahok, si kasar mulut itu, tapi karakternya tegak lurus. Seorang petinggi hukum pernah mengungkapkan, “Ahok manusia langka, Ada banyak pejabat Balai Kota yang tiap bulan biasa mengantongi uang gelap ratusan juta rupiah, lalu Ahok menghentikannya. Merekalah yang menghukum Ahok di pilkada.”

Banjir karangan bunga itu, manusiawi menjadi penghiburan sang gubernur yang kalah suara. Ia diminta tabah, sabar, tak patah arang. Sebagian massa mengharapkan agar ia menjadi menteri dalam negeri atau menteri reformasi birokrasi. Ada juga tawaran menjadi gubernur di Bali dan provinsi lain. Sebuah pengharapan pelipur lara dari para pendukungnya. Agaknya ‘ekspresi bunga’ paling fenomenal untuk seorang pemimpin daerah.

Meski dari sisi sambutan massa, Ali Sadikin yang mengakhiri jabatannya pada Juli 1977, juga berbulan-bulan menerima gelombang warga yang takut ditinggalkannya. Ada tangis warga di mana-mana. Rupa-rupa institusi dan perorangan memberikan penghargaan. Universitas Indonesia, IAIN Ciputat (kini UIN), dan 67 perguruan tinggi swasta mengapresiasi prestasi Ali.

IAIN misalnya memberi predikat Al-Bani (The Builder), Bapak Pembangunan Ibu Kota. Ada karakter yang kira-kira sama antara Ahok dan Ali
Sadikin: berani, jujur, tegas, pintar, dan tegak lurus dengan apa yang diyakini benar. Ali juga gubernur yang tak segan memaki jika anak buahnya bersalah. Aspirasi publik waktu itu, mereka ingin Ali maju menjadi calon presiden.

Namun, masa itu siapa yang berani melawan Soeharto? Tak ada yang bisa menubuat berapa ribu ekspresi bunga dan massa terus hadir di Balai Kota hingga Oktober nanti. Tapi, ini fenomena baru di negeri ini, bahwa ekspresi kemasygulan tak harus diluapkan dengan aksi di jalanan; seperti di Amerika Serikat massa meluapkan kemarahan berhari-hari atas kemenangan Donald Trump. Beruntunglah kita.

Bahasa bunga di Jakarta ialah ekspresi apresiasi dan kegundahan yang saling bertaut. Namun, ini ekspresi kemasygulan yang elegan. Ia kalah dalam kemenangan. Sebuah paradoks yang disatukan. Sejarah yang jujur akan mencatatnya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima