Menebak JK

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
25/4/2017 05:31
Menebak JK
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

SEBUAH tebakan jawabannya bisa 'ya' atau 'tidak'. Serupa mengisi puzzle. Meski ada indikasi 'kecenderungan', jawabnya tetaplah sama: tak pasti. Akan halnya menebak kecenderungan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam pilkada Jakarta, tentu bisa 'ya' atau 'tidak' juga. 'Kecenderungan' bisa menjadi petunjuk, sebagai pintu masuk. JK hari-hari ini memang tak selincah ketika menjadi wakil presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Di masa itu kita menyaksikan seorang wapres yang hidup, cekatan, dinamis, dan inovatif. Pemerintahan pun jadi amat berdenyut. Ia seperti berada di depan serupa lokomotif. Putra Makassar itu menjawab ringan setiap ada pertanyaan ia seperti mendahului presiden. "Kalau wapres salah, enggak apa-apa, masih ada presiden. Tapi, kalau presiden salah, siapa yang mengoreksi? Karena itu, enggak apa-apa saya mendahului," begitu kira-kira jawab JK.

Karya besar JK yang tak terlupakan pastilah perdamaian Aceh pada 2005. Waktu itu, peran JK seperti jauh lebih besar daripada SBY sendiri. JK memang menggunakan pendekatan historis dan kultural untuk perdamaian Aceh dan berhasil. Pada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), JK memang tak selincah dulu. Jokowi yang jauh lebih muda memang seperti punya vitalitas yang penuh.

Bahkan, ada yang mengatakan Jokowi seperti selalu kehabisan waktu karena mobilitasnya yang superaktif. Akan tetapi, ada seorang anggota dewan di Senayan yang mengatakan Presiden Jokowi seperti jalan sendiri. JK seperti berada di ruang sunyi. Ia seperti menanti tugas-tugas yang belum dibagi. Dalam soal reshuffle kabinet, JK rupanya juga banyak tak tahu.

Dalam pilkada Jakarta memang ada kabar. JK berpihak pada Anies-Sandi daripada Ahok-Djarot. Hal yang disorot ialah adik ipar JK, Aksa Makmud, plus anaknya (Erwin Aksa) yang jelas-jelas mendukung Anies-Sandi. Nyonya RI-2, Mufidah Yusuf Kalla, juga disebut-sebut mendukung Anies. Tentu itu semua tak bisa dijadikan bukti bahwa JK mendukung Anies-Sandi.

Pilkada Jakarta memang hajatan politik yang paling membuat warga Jakarta terpolarisasi amat tinggi. Termasuk dalam keluarga. Tak salah pula, sebagai sosok yang pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), JK pernah memuji Anies dan Sylviana Murni yang pernah aktif di HMI maju sebagai calon pemimpin Jakarta. Sebagai pengusaha, wajar pula JK akrab dengan Sandi.

Anies pula yang menemui JK sehari setelah versi hitung cepat memenangi paslon nomor tiga. Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, JK pernah pula meminta spanduk provokatif yang menyudutkan Ahok-Djarot diturunkan. Hanya, ia kurang berbunyi ketika ada politisasi masjid yang dilakukan para ustaz/ulama pendukung Anies-Sandi. JK juga beberapa kali mengkritik Ahok yang kerap meminta maaf.

"Seorang pemimpin jangan terpaksa terlalu sering minta maaf karena terlalu sering minta maaf berarti membikin kesalahan," begitu katanya menanggapi permintaan maaf Ahok setelah berencana hendak mengancam Ketua MUI Ma'ruf Amin yang dinilai kurang terus terang. Saya melihat justru permintaan maaf Ahok bukan karena ia bersalah, melainkan 'demi pertimbangan tertib sosial'.

Dalam beberapa aksi bela Islam yang dimotori pemimpin FPI Rizieq Shihab, nama JK memang relatif 'bersih'. Ahok dan Jokowi yang kerap dimaki-maki peserta aksi.
JK pula yang paling di depan menjawab kritik media asing yang mengatakan kemenangan pilkada Jakarta ialah kemenangan umat Islam garis keras. Menurut JK, Anies-Sandi justru pasangan Islam moderat.

Kata JK, demokrasilah yang memenangi pilkada. Ia katakan pula pada Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence yang datang ke Jakarta sehari setelah pencoblosan.
Menurut JK, tak benar hanya karena didukung Rizieq Shihab, itu disebut kemenangan garis keras. Dari berbagai 'kecenderungan' itu, agak sulit untuk mengatakan JK mendukung Ahok-Djarot di putaran kedua.

Sekali lagi, demokrasi memberi ruang kepada siapa pun untuk memberikan dukungan. Namun, sebagai seorang wapres, sementara para anti-Ahok umumnya juga 'menyerang' Presiden Jokowi, wajar pula jika ada rasa nyeri di dada sebelah kiri Jokowi. Pilihan JK bisa mungkin menjadi faktor menambah 'nyeri dada sebelah kiri' Jokowi itu. Terlebih kemenangan pilkada Jakarta pasti menjadi modal penting Pilpres 2019.

Bisa jadi akan bertanding lagi Jokowi vs Prabowo. Pascapilkada, JK mestinya mulai mendinginkan suasana. Masih banyak masjid, khususnya di Jakarta, dengan ceramah dan khotbah dalam suasana pilkada. Harus mulai tausiah yang berisi membangun kerukunan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima