BI Rate Turun

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
21/2/2015 00:00
BI Rate Turun
(MI/Seno)
UNTUK pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,5%.

Langkah BI menunjukkan kepedulian bank sentral terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Selama ini BI terlalu memperhatikan kepentingan global. Tak peduli perekonomian kian tercekik, sepanjang menyelamatkan tugas BI menjaga inflasi, BI rate terus dinaikkan. Dalam Pertemuan Tahunan Otoritas Jasa Keuangan, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan BI memang lembaga independen, tetapi tidak independen kepada negara. BI harus menginformasikan kepada pemerintah kalau hendak menaikkan BI rate agar pemerintah bisa mengambil langkah antisipasi.

Kebijakan uang ketat yang dilakukan BI selama ini membuat ruang gerak investasi menjadi terbatas. Dengan cost of money yang kian mahal dan terbatas likuiditasnya, pengusaha kesulitan berinvestasi. Sepanjang 2014, pertumbuhan kredit perbankan hanya meningkat sekitar 11%. Tak usah heran bila pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir, 5,01%.

Selalu alasan yang disampaikan BI ialah kekhawatiran terjadinya arus balik modal akibat kebijakan tappering off Bank Sentral AS. Padahal, Federal Reserve pun sangat berhati-hati menaikkan suku bunga, khawatir mengganggu pemulihan ekonomi negaranya. Ketika terakhir Federal Reserve memutuskan menunda penaikan suku bunga, BI malah menaikkan BI rate.

Kali ini BI kembali ke jalan yang benar. Mereka memperhatikan keinginan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 5,7% pada 2015. Untuk itu, pertumbuhan kredit perbankan diharapkan bisa meningkat 15 sampai 17%.

Penurunan BI rate menjadi sinyal adanya pelonggaran kebijakan uang ketat. Itu akan mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan kredit dan itu diharapkan tertuju kepada investasi. Perbankan Indonesia umumnya semakin sehat. Bank Mandiri tahun lalu membukukan keuntungan hampir Rp20 triliun. BRI bahkan mampu meraih keuntungan Rp24 triliun. Artinya, kalau kebijakan mendukung, perbankan Indonesia akan mampu memainkan peran lembaga intermediasi.

Apalagi kalau negara mau meningkatkan modal kepada bank BUMN. Dengan rasio kecukupan modal yang semakin tinggi, kemampuan menyalurkan pinjaman pun semakin besar. Apalagi jika tingkat suku bunga kompetitif jika dibandingkan dengan negara sekitar, peran perbankan bagi pertumbuhan ekonomi akan bisa lebih optimal.

Kini tingkat suku bunga pinjaman kita 12%-14%. Padahal, negara-negara lain hanya 1%-6%. Akibatnya, baru mau memulai usaha, para pengusaha Indonesia sudah kalah dari negara lain. Belum lagi lama pengurusan perizinan, keterbatasan infrastruktur dasar, dan kepastian usaha. Inefisiensi itu membuat kita kalah bersaing.

Ketika kita kalah bersaing, imbasnya kembali ke perekonomian kita. Defisit perdagangan akan menyebabkan defisit transaksi berjalan. Ketika defisit kian membengkak, nilai tukar rupiah akan terpuruk. Akibatnya, inflasi terkerek dan BI pun menaikkan BI rate untuk mengendalikannya.

Saatnya bagi kita untuk lebih memperhatikan perekonomian dalam negeri. Kalau perekonomian lancar, produktivitas akan meningkat dan kehidupan masyarakat lebih baik. Dengan produksi dan efisiensi yang lebih tinggi, harga akan terkendali, inflasi lebih terkendali, dan BI tidak harus repot menaikkan BI rate.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.