UNTUK pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,5%.
Langkah BI menunjukkan kepedulian bank sentral terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Selama ini BI terlalu memperhatikan kepentingan global. Tak peduli perekonomian kian tercekik, sepanjang menyelamatkan tugas BI menjaga inflasi, BI rate terus dinaikkan. Dalam Pertemuan Tahunan Otoritas Jasa Keuangan, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan BI memang lembaga independen, tetapi tidak independen kepada negara. BI harus menginformasikan kepada pemerintah kalau hendak menaikkan BI rate agar pemerintah bisa mengambil langkah antisipasi.
Kebijakan uang ketat yang dilakukan BI selama ini membuat ruang gerak investasi menjadi terbatas. Dengan cost of money yang kian mahal dan terbatas likuiditasnya, pengusaha kesulitan berinvestasi. Sepanjang 2014, pertumbuhan kredit perbankan hanya meningkat sekitar 11%. Tak usah heran bila pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir, 5,01%.
Selalu alasan yang disampaikan BI ialah kekhawatiran terjadinya arus balik modal akibat kebijakan tappering off Bank Sentral AS. Padahal, Federal Reserve pun sangat berhati-hati menaikkan suku bunga, khawatir mengganggu pemulihan ekonomi negaranya. Ketika terakhir Federal Reserve memutuskan menunda penaikan suku bunga, BI malah menaikkan BI rate.
Kali ini BI kembali ke jalan yang benar. Mereka memperhatikan keinginan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 5,7% pada 2015. Untuk itu, pertumbuhan kredit perbankan diharapkan bisa meningkat 15 sampai 17%.
Penurunan BI rate menjadi sinyal adanya pelonggaran kebijakan uang ketat. Itu akan mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan kredit dan itu diharapkan tertuju kepada investasi. Perbankan Indonesia umumnya semakin sehat. Bank Mandiri tahun lalu membukukan keuntungan hampir Rp20 triliun. BRI bahkan mampu meraih keuntungan Rp24 triliun. Artinya, kalau kebijakan mendukung, perbankan Indonesia akan mampu memainkan peran lembaga intermediasi.
Apalagi kalau negara mau meningkatkan modal kepada bank BUMN. Dengan rasio kecukupan modal yang semakin tinggi, kemampuan menyalurkan pinjaman pun semakin besar. Apalagi jika tingkat suku bunga kompetitif jika dibandingkan dengan negara sekitar, peran perbankan bagi pertumbuhan ekonomi akan bisa lebih optimal.
Kini tingkat suku bunga pinjaman kita 12%-14%. Padahal, negara-negara lain hanya 1%-6%. Akibatnya, baru mau memulai usaha, para pengusaha Indonesia sudah kalah dari negara lain. Belum lagi lama pengurusan perizinan, keterbatasan infrastruktur dasar, dan kepastian usaha. Inefisiensi itu membuat kita kalah bersaing.
Ketika kita kalah bersaing, imbasnya kembali ke perekonomian kita. Defisit perdagangan akan menyebabkan defisit transaksi berjalan. Ketika defisit kian membengkak, nilai tukar rupiah akan terpuruk. Akibatnya, inflasi terkerek dan BI pun menaikkan BI rate untuk mengendalikannya.
Saatnya bagi kita untuk lebih memperhatikan perekonomian dalam negeri. Kalau perekonomian lancar, produktivitas akan meningkat dan kehidupan masyarakat lebih baik. Dengan produksi dan efisiensi yang lebih tinggi, harga akan terkendali, inflasi lebih terkendali, dan BI tidak harus repot menaikkan BI rate.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima