Menanti Pilkada Babak Kedua

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
18/4/2017 05:31
Menanti Pilkada Babak Kedua
(MI/RAMDANI)

INI babak kedua hajatan politik Jakarta. Inilah pula pilkada paling menguras tenaga dan rasa. Berbulan-bulan kami terbelah dalam kubu seteru atawa sekutu. Kini polarisasi itu kian menjadi-jadi. Seolah 'aku' versus 'kamu', 'kami' versus 'kalian', 'kita' dan 'bukan kita', berada di ujung yang tak pernah saling bertemu. Politik seolah telah ditahbiskan untuk saling menghabisi; dan kami digiring dalam gelanggang kontestasi politik daerah yang keras serupa itu. Kami tahu, pemain utamanya masih yang itu-itu juga.

Media sosial sarana kita saling mengambil manfaat telah pula menjadi tempat saling mengumpat. Ia bukan dunia dengan kamarnya sendiri. Aktivitas di media sosial bersambung dengan kehidupan nyata. Tak sedikit keluarga yang tak hanya terbelah pilihan politiknya, tetapi juga berhadapan secara diametral dalam interaksi sosial. Keakraban mereka jadi meregang, setidaknya tak sehangat dulu. Banyak pertemanan di media sosial menjadi putus sebab perbedaan tak dirawat, tapi justru digugat.

Pilkada dengan beberapa calon nonmuslim di banyak daerah berlangsung biasa-biasa saja, tapi tidak bagi Jakarta. Agama dihela menjadi alat 'berperang'. Perang ayat kitab suci, perang tafsir, perang hadis, dan perang referensi ulama tak bisa dihindari. Surga pun ditawarkan menjadi jaminan jika memilih pasangan calon tertentu. Sebaliknya, nerakalah imbalannya jika memilih pasangan calon yang lain. Politisasi rumah ibadah juga menjadi pilihan yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Namun, harus diakui, tak sedikit yang membikin panas suasana, mereka yang berasal dari luar Jakarta, yang tak punya hak pilih di Ibu Kota. Lihat saja akun-akun media sosial yang sengit ikut mengacum, memprovokasi, banyak di antara mereka bukan warga Jakarta. Namun, mereka seolah lebih paham dan lebih punya hak memilih calon pemimpin Jakarta. Padahal, tak sedikit persoalan yang mengimpit daerah masing-masing, tapi mereka abaikan. Mereka menjadi lebih peduli pada Jakarta.

Kami warga Jakarta yang punya hak menentukan pemimpin Ibu Kota. Karena itu, izinkanlah kami memilih satu di antara pasangan calon terbaik. Anda yang bukan warga Jakarta, cukuplah memanjatkan lafal doa. Tak usahlah terus mengeruhkan suasana. Tak usahlah ikut tamasyanya, apa pun itu kemasannya. Tamasyalah nanti ke objek-objek wisata seusai pilkada. Tak usahlah Anda kelewat peduli jika sesungguhnya justru mengeruhkan situasi.

Kami warga Jakarta, biarlah memilih Ahok-Djarot atau Anies-Sandi. Sebab, dua-duanya pasangan yang sah secara undang-undang. Ahok-Djarot dan Anies Sandi keduanya layak dipilih untuk memimpin DKI Jakarta. Kelayakan itu biarlah kami, 7,2 juta warga Jakarta, penentunya. Anda warga di luar Jakarta, tenang-tenang sajalah. Atau memang punya agenda lain? Kami tahu pilkada Jakarta ialah sambungan dari Pemilihan Presiden 2014. Isu-isu yang dimainkan pun relatif mirip.

Kami juga tahu pilkada ini menjadi 'pemanasan' teramat penting menghadapi Pemilihan Presiden 2019. Menang pilkada Jakarta berarti modal berharga untuk ikut serta Pemilihan presiden 2019. Maka, wajar dalam kalkulasi politik, pilkada Jakarta jadi jembatan emas menuju pilpres. Namun, bagi kami, perkara sambungan itu tak penting benar. Yang terpenting, siapa pun yang terpilih, bisakah mereka membereskan Jakarta? Bisakah Jakarta jadi megapolitan yang maju, makmur, adil, dan menjadi contoh merawat keberagaman?

Kami tahu pastilah kedua pasangan calon ingin memenangi kontestasi. Namun, demokrasi mengajarkan itu diraih bukan dengan segala cara, melainkan dengan segala cara yang benar. Sekali lagi, biarlah warga Jakarta yang menjadi penentunya. Jakarta telah berkali-kali menjadi palagan perebutan kekuasaan yang sengit, dan warga Jakarta sudah terbiasa dengan berbagai ujian politik yang keras itu. Posisi 'perang tanding' Ahok-Djarot (mewakili kaum nasionalis) dan Anies-Sandi (yang mewakili kelompok muslim termasuk muslim puritan), meski wajar, mencemaskan juga.

Akankah jika Ahok-Djarot menang, tak akan terus digugat para pendemo? Atau, seperti apa pula wajah Jakarta jika Anies-Sandi memenangi kontestasi ini? Bagaimana pasangan ini mengakomodasi kelompok puritan yang menginginkan Jakarta bersyariah? Tak ada yang bisa menubuat pasti siapa yang akan memimpin Jakarta. Dalam banyak survei terakhir, angka kedua pasangan saling kejar, terpaut tipis. Yang pasti warga Jakartalah penentunya.

Bukan yang lain. Warga Jakarta, selamat memilih calon pemimpin terbaik. Selamat mengakhiri perhelatan politik yang penuh intrik. Jakarta hanya butuh pemimpin yang benar-benar mampu, yang punya karakter kuat untuk membereskan kota yang keras dan kompleks ini.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima